Selasa, 03 September 2013

My Story in Bromo

Dulu, saat aku masih remaja, tak sedikitpun aku mengetahui kawasan wisata itu. Jangankan mengetahui, mendengar namanya saja aku belum pernah. Bagiku semuanya masih sangat asing ditelinga. Akan tetapi, saat telingaku mendengar namanya untuk pertama kalinya, sebuah keinginan langsung terpatri dalam hati, bahwa aku juga ingin menginjakkan kaki di tempat itu. Salah satu tempat terindah di negeriku. Gunung Bromo.

31 Agustus 2013...
Perbekalan telah kami persiapkan dengan matang. Dari pakaian dingin, syal, beberapa camilan dan obat-obatan, juga kaos kaki beserta sepatunya pun telah aku masukkan dalam ransel warna hitam. Sabtu sore kami berangkat dari Madura menuju kota pahlawan Surabaya. Sebenarnya niat hati ingin beristirahat sejenak di rumah teman, namun mata dan keadaan tak lagi sepaham. Kami tidak bisa tidur semudah itu. Akhirnya, untuk mempertahankan mata supaya tetap terang kami sengaja menyeduh kopi ginseng hampir sebanyak dua gelas.

Tepat pukul 22.00 WIB, kami dan rombongan bertolak dari Surabaya menuju Probolinggo. Angin malam adalah salah satu teman kami selama dalam perjalanan. Aku sempat membayangkan bagaimana panorama yang akan disuguhkan alam kepadaku. Apakah Bromo seindah yang kulihat di media cetak? Ataukah seeksotis seperti cerita orang yang pernah kesana? Entahlah. Yang jelas motor matik yang kutumpangi terus melaju cepat membelah jalan dan melintasi malam.

Sempat ada beberapa peristiwa yang menguji kesabaran rombongan kami, mulai dari bocornya ban, jatuhnya handphone teman di tengah jalan hingga kehabisan bahan bakar bensin juga kami rasakan. Kami menganggap semuanya sebagai rintangan dalam perjalanan. Dan beberapa rintangan itu bisa kami lewati dengan penuh keikhlasan. Bukankan pepatah mengatakan bahwa kesabaran dan keikhlasan itu akan berbuah surga? Semoga.

Nongkojajar adalah salah satu tempat yang kami lewati saat menuju Bromo. Sungguh diluar dugaan,ternyata perjalanan menuju gunung Bromo benar-benar penuh dengan rintangan dan kejutan. Jalan yang berkelok cukup curam menjadi sajian wajib untuk kami hadapi. Jurang yang mengerikan pun tak luput dari berbagai hal yang harus dilalui. Ada satu hal yang membuatku terkesan saat melintasi sepanjang jalan terjal itu. Di tengah malam gelap aku merasa seperti berada di angkasa luar. Dekat sekali dengan bulan, juga dengan ribuan bintang. Lampu rumah yang berada di sekitar jurang memang tampak nyata seperti kedipan bintang-bintang. Sangat sempurna ketika bintang-bintang di langit malam juga ikut berkilauan. Sungguh pengalaman unik yang tak akan pernah terlupakan.

Minggu, 1 September 2013 Pukul 04.00 WIB kami tiba di kawasan puncak. Aku baru sadar ternyata ratusan wisatawan asing dan wisatawan lokal juga telah memadati kawasan itu, mempersiapkan diri mencari tempat yang paling pas untuk menyambut matahari di awal pagi, sama seperti niat kami.

Kepadatan wisatawan yang berlalu-lalang membuatku harus berjalan kaki sejauh tiga ratus meter ke arah puncak. Aku harus melewati puluhan jeep, motor, dan para pendaki lain. Hawa dingin terus menusuk ke dalam kulit, menembus baju dinginku pagi itu. Rasanya aku perlu mempertebal pakaian dinginku. Dan tepat pukul 05.00 pagi aku tiba di lokasi yang tepat untuk menyapa kemunculan matahari di 1 Septemberku.

"Subhanallah...." kalimat itu yang muncul dibibirku saat garis serangkaian warna muncul di antara batas cakrawala sebelah timur. Sebuah perpaduan warna alam yang nyata menakjubkan. Hebatnya, lukisan alam itu tak hanya menghipnotis hati dan pandanganku, akan tetapi juga menghipnotis semua mata wisatawan yang hadir di lokasi itu.

"Selamat datang matahari satu september," teriak sahabatku sembari tersenyum. Ribuan mata kamera mengarah ke titik timur, mengabadikan momen penting di awal pagi itu. Begitu pula dengan kameraku, langsung mengambil gambar sesuka hatiku.

Saat matahari muncul, sebuah kejutan kembali menyapaku. Ternyata di sebelah kananku juga memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Beberapa gunung tampak berdiri disana, ada gunung Bromo, juga gunung Semeru. Hamparan kabut putih seolah-olah menyelimuti gunung itu. Apalagi ada salah satu titik dimana sebuah kawah mengeluarkan asap putih, membuat lukisan pagi semakin terlihat lebih cantik nan eksotik. Meski tubuh dalam keadaan dingin, aku tetap terpesona memandang semuanya. Mensyukuri diri bisa menjadi bagian dari para penikmat ciptaan Tuhan di hari itu.

Tepat pukul 07.00 WIB kami turun dari atas bukit. Perjalanan kami lanjutkan menuju lereng gunung Bromo yang berpasir. Cuaca panas mulai menyapa seantero celah, namun suhu sekitar tetap tidak berubah. Masih terasa dingin menusuk ke sumsum tulang. Kurang lebih empat puluh lima menit yang kami butuhkan untuk tiba di bawah bukit itu.

Hamparan pasir siap menyambut kedatangan kami. Angin yang berhembus menerbangkan butir-butir pasir hingga menerpa wajah dan masuk ke bibirku. Lautan pasir halus itu pun juga membuat laju motor kami tak berjalan dengan mulus. Kami harus mendorong kendaran kami masing-masing. Lelah itu pasti, tapi aku menganggapnya sebagai pengalaman unik yang jarang terjadi di perjalanan hidupku. Alhasil, kami menikmatinya dengan canda tawa lepas. Canda tawa dalam persahabatan.

Namun, sayang sungguh sayang. Kami semua tidak bisa mendaki ke bibir kawah karena membludaknya antrian pengunjung di atas sana. Dengan rela kami harus mengurungkan keinginan menghirup aroma belerang. Kami harus tetap bahagia karena bisa menikmati semuanya. Dan saat pulang, tak lupa kami membawa sebuah kenang-kenangan yang ada di sekitar kawasan Gunung Bromo. Cindera mata itu berupa seikat bunga abadi yang sering kita kenal dengan nama latin Edelweis.

Terima kasih kuucapkan kepada teman-teman yang telah rela mengenalkanku dengan kecantikan Bromo. Aku tak akan pernah melupakan sepenggal kisah ini sepanjang hidupku. Bahkan mungkin sampai beranak cucu. The happiest moment in my life is when i'm with you, guys. :)

Sampang, 02 September 2013
***




Jumat, 15 Maret 2013

Handphoneku, Sarana Menulisku


Catatan sederhana siang ini:

Akhir-akhir ini banyak sekali dari teman-temanku yang menyinggung tentang handphoneku, karena sampai tahun 2013 aku masih mempertahankan pemakaian handphone jadul. Menurut mereka hape jadulku sudah sangat ketinggalan jaman dan aplikasinya kurang canggih tidak seperti smartphone milik mereka. Aku hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata itu. Dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan pendapat mereka tentang hape yang sudah tiga tahun menemaniku.

Aku paham dengan ucapan teman-temanku. Namun seandainya mereka tahu bahwa hape jadulku ini telah melahirkan 2 buah novel, aku yakin mereka tidak akan mengeluarkan pendapat semacam itu kepadaku. Mungkin saja mereka akan balik bertanya bagaimana caranya hape jadul bisa kugunakan untuk menulis buku yang beratus-ratus halaman itu.

Ya, hape jadulku mampu menampung ide-ide yang ada di kepalaku suatu waktu. Aku bahkan tidak pernah merasa kesulitan bila menuangkan ide yang tiba-tiba muncul di kepalaku ketika aku berada di jalan, di bis, di sekolah, maupun di mana saja aku berada. Maklum, kuakui sampai detik ini aku memang belum mampu membeli notebook atau bahkan sebuah laptop seperti teman-temanku.

"Menari di Atas Tangan" merupakan novel kedua yang diterbitkan secara indie pada tahun 2011 lalu. Mungkin tak banyak yang tahu tentang proses penulisan novel itu, karena dari huruf ke huruf yang tertera tercipta dari handphone jadulku. Bahkan bukan hanya novel berjudul Menari di Atas Tangan saja, tapi masih ada skripsi, beserta beberapa tulisan lain yang tergabung dalam beberapa buku antologi bersama dan postingan di blogku. Dan semua itu adalah hasil dari hape jadul milikku.

Proses penulisannya memang cukup rumit tapi tak membuatku bosan apalagi jenuh oleh kerumitan itu. Aku bahkan sangat menikmati proses menulisku dari handphone jadul ini. Aku bisa menulis kapan saja, di mana saja, dalam posisi apa saja, tidur atau duduk, atau pun saat santai menonton televisi di rumah. Dalam keadaan apapun aku bisa menuangkan ide unik di hape jadul kesayanganku.

Aku cukup menyediakan bluetooth dan flasdisk untuk menyimpan tulisan-tulisan yang telah kuketik dalam notes hape jadul. Jika aku telah mengatur jenis kertas dan spasi melalui komputer warnet, maka naskah itu siap di kirimkan ke even lomba menulis yang akan kuikuti atau sekedar posting di catatan facebook maupun blogku.

Kini, kembali aku membuat novel ke-3 tentang pendidikan (tentang pengalaman seorang guru). Dan itu murni hasil ketikan dari handphone jadul yang selama ini menemaniku. Aku sangat berharap novelku kali ini bisa menembus penerbit mayor sehingga aku mampu membeli sebuah notebook. Aku berharap kepada yang membaca catatan ini untuk mendoakanku. Terima kasih pula telah mampir dan membaca catatan singkat yang sekali lagi kuketik menggunakan hape jadulku.

***

Senin, 14 Januari 2013

Selaksa Kenangan (menggembel) di Yogyakarta [Catatan Liburanku Episode 3]


Yogyakarta, kota istimewa bersejarah dan penuh akan budaya. Siapa pun yang berkunjung kesana, pasti akan merasakan aroma yang berbeda dari biasanya. Setidaknya, itulah yang kuketahui saat pertama kali berkunjung kesana tahun 2011 lalu. Dan kini, setelah dua tahun berselang, aku akan kembali memijakkan kaki di Yogyakarta menyambung pengalaman petualanganku bersama para sahabat di akhir tahun 2012.

Fitroh keukeuh ingin pergi ke Yogyakarta. Ini benar-benar diluar rencana kami sebelumnya. Sejak awal aku, Lian, Anas, Fitroh dan Muttaqin memang ke Surabaya untuk liburan sekaligus menikmati momen pergantian tahun. Ajakan ke Yogyakarta ini telah membuat kami terbelalak dan tak percaya. Kulihat isi dompetku, ternyata hanya berisi dua lembar ratusan, tak kurang dan tak lebih. (hehehe :D)

"Ayolah, aku belum tau nih yang namanya Yogyakarta, kalian sih enak udah pernah kesana,"

"Yang benar aja dong, coba kau lihat isi dompetku. Mana cukup untuk kesana?" kataku protes.

"Ah cukup kok. Tenang saja."

"Enak saja bilang tenang. Kalau kekurangan uang beneran gimana?"

"Ya tetap tenang. Tinggal gesek aja, hahaha..."

"Gesek? Apanya yang digesek?" kataku lagi pura-pura tak mengerti.

"Ah ayolah. Terserah di sana. Besok kita berangkat saja ya. Ok?" Kata Fitroh memutuskan tanpa persetujuan kami.

"Kalau kau, Muttaqin? Punya uang lebih atau nggak?" tanyaku lagi. Muttaqin hanya tersenyum dan menjawab,

"Ada. Aku bawa lebih kok."

"Tuh kan, besok sepakat ya." Fitroh bersikukuh lagi.

***

30 Desember 2012 pukul 22.00 WIB.

Aku, Fitroh, Lian, Anas, dan Muttaqin berada di terminal Bungurasih, Surabaya. Kami sibuk mencari tempat parkir motor kami supaya jika hujan menyapa, motor kami tidak akan kebasahan karena ada di tempat yang aman. Kurang lebih lima belas menit kami mengatur motor kami sedemikian rupa.

Cuaca malam itu memang cukup cerah. Seusai memarkir sepeda motor kami melangkah ke dalam terminal dengan tergesa-gesa. Kami berlima langsung menuju tempat bis jurusan Yogyakarta. Di sana tampak banyak penumpang yang bersiap-siap masuk bis angkutan.

Seorang kondektur segera menyuruh kami naik ke dalam bis karena bis tersebut akan segera berangkat. Benar, begitu kaki kami menginjak lantai bis, bis tersebut langsung berangkat tanpa menunggu penumpang lain. Kamilah penumpang terakhir yang naik di terminal Bungurasih tersebut.

Duuaarr!!!!
Satu hal yang membuat kami terkejut seketika. Semua kursi penumpang penuh.
Kami tak kebagian tempat duduk. Kami berlima harus rela berdiri sambil berpegangan ke atap tempat barang-barang penumpang berada. Alamaaakk!!

"Waduh, apa kita akan berdiri seperti ini sampai Jogja? Bakalan patah nih kaki...!" Seruku pada keempat sahabatku. Mereka hanya tersenyum.

"Inilah perjalan kita sesungguhnya!" celetuk Fitroh sembari tersenyum coba menghiburku.

"Iya. Tapi pegel kaki kita." Tambahku.

Untuk menuju Yogyakarta membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 7 jam. Dan aku tak habis pikir akan berdiri selama perjalanan berlangsung.

"Waduh, kalau begini terus mana bisa aku tidur malam ini? Apalagi besok kita akan jalan-jalan seharian. Terus malemnya pasti tidurnya larut malam karena momen pergantian tahun. Waahh, apa aku nggak akan tidur selama dua hari?? Nggak mungkin!" ceracauku pada Anas. Anas tampak lesu. Hanya ucapan singkat yang keluar dari bibirnya,

"Ya begitulah As,"

Sumpah, aku gregetan malam itu. Geram, kesal campur aduk semuanya. Di saat aku khawatir tidak bisa tidur, eh malah Lian asik makan burger yang dibelikan oleh Januar. Tak tanggung-tanggun, dua porsi burger masuk ke perut Lian malam itu. Sekaligus. Tanpa ada sisa. (kecuali bungkusnya aja, hehehe...)

Satu jam telah berlalu. Dua jam pun telah berlalu. Kakiku mulai lelah. Tubuhku mulai letih. Mataku semakin tak kuat menahan kantuk hingga memasuki putaran jam ketiga. Tepat pukul 02.30 WIB ada beberapa penumpang yang turun. Aku dan Anas langsung menggantikan kursi kosong itu. Ahh, lega. Setidaknya tubuhku pun bisa beristirahat untuk beberapa jam. Kulihat Lian, Fitroh, dan Muttaqin juga telah duduk. Kami pun terlelap selama dua setengah jam hingga tiba di terminal Giwangan, Yogyakarta.

***

Pukul 08.00 WIB di Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Aroma pagi di Yogyakarta telah kami cium. Sebenarnya kami tiba di terminal Giwangan pukul setengah enam pagi, namun antrian kamar mandi membuat kami harus bersabar menunggu giliran untuk mandi.

Begitu siap, tepat jam delapan pagi kami pun langsung kembali bertualang. Tujuan pertama adalah Candi Prambanan. Untuk ke sana, kami harus menaiki bis TransJOGJA terlebih dahulu. Ada beberapa kejadian lucu selama kami menaiki TransJOGJA. Dari terminal Giwangan, kami (khusus penumpang tujuan Prambanan) akan diturunkan di halte JEC untuk transit transJOGJA jurusan Prambanan. Kami pun menurut saja apa kata petugas bis itu.

Lucunya, setelah di halte JEC, kami berlima terbagi dalam tiga kubu (Nah lho...). Kami harus terpisah dalam tiga TransJOGJA!! (hahaha, kok bisa? kayak orang udik aja). Sebenarnya kami ingin bersama-sama, namun karena para penumpangnya penuh, akhirnya kami pun berpisah dalam 3 bis TransJOGJA (Aku dan Fitroh bis pertama, Lian dan Anas bis kedua, dan Muttaqin bis ketiga. Sendirian). Inilah yang membuat waktu kami terbuang sia-sia. Fiuhh...
 


Di lokasi wisata Candi Prambanan perjalanan kami berjalan seperti biasa. Adem ayem lancar bin tak ada halangan apa-apa. Kami menikmati keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Seluruh celah kami nikmati dengan hati bahagia.

"Ini masih buatan manusia, bagaimana jikalau buatan Tuhan? Pasti makin indah ya," celetuk Anas.

***

Pukul 17.00 WIB.

Kami tiba di samsat. Ternyata bis TransJOGJA tidak boleh beroperasi di Jl. Malioboro karena ramai oleh wisatawan. Alhasil, dari lokasi samsat kami berlima harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 kilometer menuju Malioboro. Ah, makin pegel kedua kakiku ini, pikirku.

Masjid Gede, itulah tempat singgah kami. Di sana kami sholat Maghrib dan Isya (mandi juga, hehe). Masjid berarsitektur jawa kuno dengan tiang penyangga seperti dalam kerajaan islam jaman dulu tampak masih sangat kokoh. Di bagian depan terdapat mimbar berukiran khas Jawa dengan cat warna emas menambah suasana masjid semakin kental kesan keunikannya. Masjid raya Yogyakarta ini seakan tak pernah sepi karena banyak jamaah yang datang silih berganti untuk melakukan ibadah. Kebetulan malam itu ada ceramah keagamaan tentang malam pergantian tahun 2012 menuju 2013. Aku pun terlarut dalam suasana di altar masjid raya kota Yogyakarta. Seakan-akan aku berada di masa sejarah dahulu kala. Tiba-tiba hujan turun sangat deras.Dan hebatnya, tanpa sadar aku tertidur kelelahan sampai pukul sebelas malam. Alhamdulillah...

Begitu bangun, kami langsung berjalan sejauh 1 kilometer menuju Jl. Malioboro. Jalanan sangat ramai. Ratusan kembang api menghiasi langit tempat kami berpijak. Riuh terompet membahana dimana-mana. Benar-benar malam yang meriah.


Mungkin ini rencana Tuhan membuatku terlelap di Masjid Raya sampai jam 11 malam. Seusai pesta kembang api yang meriah, kami baru sadar bahwa tidak ada tempat untuk menginap. Masjid Raya telah ditutup rapat-rapat. Apalagi masjid di Jl. Malioboro, dijaga oleh para satpam sangat ketat. Alhasil, kami pun duduk di pelataran kios penjual batik dan souvenir sepanjang Jl. Malioboro. (ngegembel juga akhirnya, hehehe)

Pelan, punggungku mulai lelah. Ingin rasanya tidur telentang di kasur yang lapang nan empuk. Tapi malam itu aku harus terima kenyataan tidur di jalan. Tempat orang berlalu lalang.

"Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan ceritanya..."

Setelah 20 menit berlalu, sayu-sayu kami dengar suara itu. Kami penasaran dan coba mencari suara itu berasal. Ternyata suara itu tak jauh dari tempat kami tadi, berasal dari suara dalang dalam acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kami pun beralih tempat menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk bertajuk "Lakon Aji Norontoko".

Yang membuat kami takjub, selain pertama kali menjadi penonton, malam itu juga sang dalang kedatangan tamu spesial. Dia seorang gadis dari Osaka, Jepang bernama Yuri Shang. Hebatnya, dia bisa nyinden persis seperti orang Jawa asli. Aku benar-benar terpukau melihat penampilan Yuri Shang itu.

"Orang Jepang aja antusias mempelajari budaya Indonesia, kenapa kita nggak? Siapa lagi yang akan melestarikan budaya Indonesia kalau bukan kita?" Gumamku dalam hati.

Hari itu, pertama kalinya aku menyaksikan acara wayang kulit sampai selesai. Sampai pagi. Dan itulah akhir perjalananku di Yogyakarta. Pagi-pagi sekali aku kembali ke Surabaya dan berlanjut ke Sampang Madura, melakukan aktivitas kami seperti biasa. Petualangan yang indah.

SELESAI
***




Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Jumat, 11 Januari 2013

Seberkas Kisah Baru (Catatan Liburanku Episode 2)



Menjadi walikelas ternyata lumayan melelahkan. Setidaknya itulah yang kami rasakan selama kurang lebih lima bulan terakhir ini. Terlebih ketika memasuki ujian akhir semester yang harus mengurusi soal ujian dan rapor-rapor para siswa, semakin menambah kesibukan pekerjaan kami yang juga menguras pikiran. Maka dari itu, kami butuh sekali yang namanya "li bu ran".

"Teman-teman, liburan semester ini kita harus jalan-jalan ke luar kota. Entah ke Pamekasan, Sumenep ataupun Bangkalan. Atau mungkin kalau bisa ke luar pulau Madura. Asal jangan di Sampang aja. Tau nggak, otakku benar-benar butuh penyegaran nih, butuh refreshing!" Kata Lian seusai membagikan rapor siswa kelas X.

Aku, Fitroh dan Anas pun mengiyakan. Kupikir, aku juga membutuhkan penyegaran otak setelah hampir satu semester bekerja. Rasa-rasanya kepenatan yang ada di sekujur tubuh telah mencapai puncak kejenuhan. Memang sangat membutuhkan peremajaan. Maklum, kami berempat sama-sama menjadi seorang guru di tempat kerja yang sama pula. Jadi teringat ajakan seorang sahabat dari Surabaya bernama Januar yang hendak mentraktir kami nonton film "5cm", akhirnya kami menghubungi Januar dan memutuskan melakukan perjalanan ke Surabaya tepat tanggal 29 Desember tahun 2012.

Hari itu kami berencana berangkat pada pukul delapan pagi. Awal keberangkatan kami sedikit terlambat satu jam karena kondisi tubuh Anas yang tiba-tiba kurang fit. Entah mengapa tiba-tiba saja Anas mengalami gejala masuk angin. Perutnya sakit dan tubuhnya sedikit demam. Akan tetapi Anas tidak mengindahkan gejala-gejala yang ia rasakan itu. Dia malah khawatir karena sudah terlanjur berjanji pada Januar tiba di Surabaya sebelum jam dua belas siang. Anas pun coba memaksakan dirinya untuk segera berangkat mengendarai motornya bersama Lian.

Kesabaran kami benar-benar diuji oleh Tuhan. Lima belas menit berangkat dari Sampang, di ufuk barat terbayang sebuah keredupan. Pelan-pelan gumpalan awan hitam mendekati kami, menyelimuti sawah-sawah dan bukit-bukit sepanjang perjalanan. Tanpa terduga tetesan air berkah luruh menyirami seantero celah desa. Terpaksa kami harus berteduh di sebuah bengkel pinggir jalan karena tak membawa jas hujan.

Hujan itu tak begitu deras, tapi bisa membuat pakaian kami basah kuyup bila nekat menerobos jalan. Detik demi detik telah sirna seiring turunnya gerimis hari itu.

"Hujan ini nggak mungkin cepat reda. Kalau hanya berdiam diri di sini, waktu kita akan terbuang sia-sia," kata Muttaqin, teman kami yang sengaja ikut ke Surabaya karena berencana membeli tas di salah satu mall Surabaya.

"Tapi aku dan Fitroh lupa membawa jas hujan," seruku pada Muttaqin.

"Kasihan Januar yang menunggu lama di Surabaya. Kita khan janjinya tiba jam dua belas, jadi harus segera berangkat," tambah Anas.

"Tapi kan kamu juga kurang fit Nas..."

"Ah sudahlah. Ayo berangkat, yakinlah semua akan baik-baik saja,"

"Yakin?"

"Iya. Ayo." Kata Anas keukeuh. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Benar dugaanku. Tas dan celanaku basah kuyup terkena percikan hujan. Hujan rintik-rintik kini berubah deras. Langit semakin gelap karena tumpukan mendung-mendung yang tak beraturan. Untuk kali ini kami memang harus segera mencari tempat berteduh. Maklum, sepanjang perjalanan tak ada tempat yang cocok untuk dijadikan lokasi berteduh, yang ada hanyalah hamparan persawahan yang meluas beserta bukit-bukitnya yang menjulang. Pakaian kami pun semakin basah tak terelakkan. (Huffftt tak ada jalan lain selain sabarrr...)

Aha! Di depan jalan ada sebuah gubuk bambu. Walau kecil, tampaknya cocok untuk dijadikan tempat berteduh. Kusuruh Fitroh mempercepat laju motor yang kami tumpangi. Dan kami pun berteduh di gubuk bambu tua itu. Walaupun terbuat dari bambu, gubuk itu sangat bermanfaat bagi kami semua. Ada beberapa orang yang juga tengah berteduh di gubuk itu. Aku baru tahu kalau ternyata gubuk itu ternyata adalah sebuah warung. Terlihat dari beberapa orang yang membeli kopi hangat di dalam gubuk.




Aku berdiri di depan pintu menyaksikan alam sekitar yang tiba-tiba redup. Sawah yang menghijau menjadi satu-satunya pemandangan terindah yang kami nikmati pagi itu. Batas cakrawala yang tak terlihat serta gundukan bukit-bukit tampak suram karena guyuran hujan yang begitu deras. Kulihat ada beberapa ibu-ibu bercaping yang tengah melangkah cepat ke arah utara. Tampaknya mereka ingin segera pulang setelah gagal menggarap sawah yang kehujanan. Hal itu terbukti dari clurit dan cangkul yang mereka pegang. Aku sempat merinding melihat kondisi mereka yang berjalan ditengah derasnya hujan. Menurut mitos orang Madura, jika ada di persawahan sambil membawa clurit atau pisau dalam keadaan hujan, kemungkinan akan dengan mudah terkena halilintar. Sudah banyak bukti dari mitos tersebut sehingga secara tidak terencana aku juga mempercayainya. (Hehehe...)

"Sob, dah nyampe mana?" Sebuah SMS masuk ke telepon genggamku. Dari Januar.

Kutunjukkan pesan singkat itu pada teman-teman. Mereka hanya tersenyum menanggapinya.

"Jan, dsni msih ujan dras, kami lg brtduh d daerah Blega. g mgkin qta nyampe SBY jam 12" balasku.

"Dsni jg ujan. Ok qta cancel ja yg jam 12. Qta nonton jam 2 siang ja. Hti2 dsana y."

"Sip" balasku cepat.

***

Pukul 11.00 WIB

Hujan pelan-pelan mereda. Orang-orang yang sempat berteduh mulai bersiap diri beranjak dari gubuk bambu itu, termasuk aku dan keempat temanku. Kami melanjutkan perjalanan ke arah barat. Sapuan awan hitam masih menghantui alam sekitar dan pikiran kami. Tak henti-hentinya kami berdoa dalam hati agar hujan tidak turun lagi. Doa kami pun langsung diijabah Sang Ilahi.

Motor kami melewati kawasan Galis, Tanah Merah, Patemon sampai akhirnya memasuki akses kawasan Tangkek yang berlanjut ke jembatan Suramadu. Ada sesuatu yang membuatku senang, sesuatu itu tak lain dan tak bukan adalah celanaku yang sempat basah, kini telah kering seiring motor kami melewati jembatan Suramadu yang megah. Aku memang telah lupa sudah berapa kali melewati jembatan Suramadu. Namun aku tidak pernah lupa merasakan suatu hal yang berbeda dalam hati kecilku. Kembali aku merasakan sensasi berbeda acapkali menyeberangi jembatan itu. Pemandangan yang sangat kontras antara sisi Madura yang dipenuhi pepohonan dan sisi Surabaya yang berdiri gedung-gedung mewah, hamparan laut lepas, hingga perahu-perahu nelayan yang melintas di bawah jembatan terus membuatku terpesona akan keindahan semuanya. Aku merasa terbang di atas lautan selat Madura saat berada di bentang tengah jembatan.




Kulihat jam digital di handphoneku menunjukkan pukul dua belas pas. Kami pun berhenti sejenak untuk sholat Dzuhur di masjid dekat jalan menuju jembatan suramadu. Tak butuh waktu lama, seusai sholat kami langsung menuju monumen kapal selam di kawasan Jl. Gub. Suryo (kalau nggak salah sih, hehehe). Dan di sana telah berdiri dua orang pemuda bernama Januar dan Siwon menunggu kedatangan kami. Sambutan hangat seorang sahabat telah kami rasakan. Kini saatnya kami menyaksikan pemutaran film "5cm" yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dhony Dhirgantoro di studio Sinema 21 Delta Plaza Surabaya tepat selepas makan siang.

Inilah yang aku tunggu selama ini. Tayangan demi tayangan dalam film itu membuatku semakin bangga dan mencintai Indonesia. Rasa nasionalismeku kembali membara menyaksikan kekayaan Indonesia. Tiap celah di bumi pertiwi ini memang mengandung sejuta keindahan. Keeksotisan tiada tara. Megahnya gunung Mahameru dan kisah perjuangan antar sahabat dalam proses pendakian untuk mencapai puncak tertinggi pulau Jawa itu membuatku terbakar emosi, kapan aku bisa berkunjung ke Mahameru? Kapan aku mampu membuat karya yang bisa difilmkan seperti itu? Ingin rasanya karyaku ditonton banyak orang, seperti yang kulakukan saat ini (hehe, mimpi boleh kan ya?).

Sungguh, aku tersenyum manakala menyingkapi kejadian-kejadian hari itu. Semua telah menjadi kisah baru dalam hidupku, yang tak akan pernah terlupa sepanjang hayatku. Satu pelajaran penting yang dapat kupetik hari itu, "Tak akan pernah ada jalan mulus untuk mencapai sebuah puncak. Semua pasti ada halangan dan rintangan yang mewarnai tiap perjalanan meski itu hanya berupa krikil-krikil kecil. Bila kita mampu melewati semua rintangan tersebut, niscaya menuju puncak akan dengan mudah kita capai. Harus tetap giat berusaha meraih cita-cita".

"Eh, karena lusa malam pergantian tahun, bagaimana jika kita nikmati momen itu di Yogyakarta...? Pasti seru ya?" usul Fitroh tiba-tiba selepas pemutaran film 5cm. Kami pun terbelalak tak percaya. Apaa????

(bersambung dalam episode "Selaksa Kenangan di Yogyakarta" Catatan Liburanku Episode 3).

***





Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Selasa, 08 Januari 2013

"5cm" Atau "5km" ? (Catatan Liburanku Episode 1)



Sabtu, 25 Desember 2012.

Mentari belum juga muncul di ufuk timur. Namun aroma pagi yang sejuk sudah mulai tercium oleh kedua lubang hidungku. Sejak pagi seusai shalat Subuh aku dan para sahabatku sibuk bersiap diri untuk melakukan pendakian di sekitar desa Pangilen, Sampang. Tepatnya di bukit Sambiyan yang jaraknya cukup jauh dari kediaman sahabat bernama Fitroh. Kebetulan pada hari itu aku kedatangan tamu dari kota Surabaya dan Mojokerto. Mereka berkunjung ke Sampang hanya untuk menyambung silaturahmi dan liburan. Sebagai tuan rumah, aku memang bahagia atas kedatangan mereka. Jauh-jauh datang ke kampungku telah membuktikan bahwa mereka gemar sekali bersahabat. Aku ingin memperkenalkan Sampang lebih jauh pada mereka, karena di Sampang banyak juga tempat-tempat indah yang belum terekspose oleh media.

Sehari sebelum tanggal 25 Desember 2012 tiba, aku memang telah mengajak tamuku berkunjung ke desa Camplong. Disana kami melihat sepanjang pantai dan laut Camplong dari atas bukit yang bersebelahan dengan tebing. Jika menghadap ke selatan, hamparan lautan tersuguh indah. Kilauan cahaya matahari yang memantul di permukaan laut seakan-akan menyerupai ribuan permata berlian. Sesekali di tengah hamparan permata dan berlian itu, berdirilah beberapa kapal besar pembawa minyak tanah mentah. Di tempat kami berdiri, kapal-kapal dan perahu itu tampak terlihat seperti kapal mainan saja. Tak lepas mata kami memandang alam sempurna Maha Karya Ilahi tersebut. Walaupun dalam cuaca yang membuat tubuh kami lumayan kegerahan.

Jika kami menghadap ke Utara, maka tesuguhlah tebing-tebing curam nan eksotik. Kami menyebut tebing itu sebagai Grand Canyonnya Camplong (hahaha sebenarnya gak mirip sih). Batu kapur yang telah membentuk tebing-tebing terjal itu benar-benar eksotik dalam pandangan kami. Sekeras kami berteriak, suara pun memantul membahana. Cuaca siang yang cukup panas tak menghalangi kekaguman kami akan lukisan alam yang disuguhkan Tuhan. Awal sebuah liburan yang indah.



Dan pagi ini, tepat di tanggal 25 Desember 2012 kami akan melakukan petualangan mendaki gunung di desa Pangilen Sampang untuk melihat gua. Pukul enam pagi kami berjalan ke arah Utara sejauh kurang lebih 400 meter. Awal perjalanan itu membuatku penasaran seperti apakah gua yang akan kami tuju itu? Benarkah rupa yang akan ditunjukkan seindah cerita masyarakat sekitar? Oh, pikiranku pun dipenuhi pertanyaan-pertanyaan semu.

"Perjalanan kita akan jadi petualangan seru tak akan terlupakan seperti dalam novel 5cm !!" Seru Fitroh yang berjalan paling depan. Fitroh adalah satu-satunya pemuda di antara kami yang mengetahui arah jalan menuju gua Sambiyan.

Setelah berjalan sejauh 400 meter, kami belok kanan memasuki sebuah jalan setapak. Dan dari jalan ini berbagai rintangan akan kami mulai. Pertama, kami harus melewati jalan berlumpur yang begitu sempit. Kedua, tantangan yang harus kami lewati cukup membuat jantungku sejenak memberontak. Bayangkan saja, kami harus melewati jembatan gantung yang menurut kami tidak layak pakai. Jembatan itu memiliki panjang kurang lebih enam puluh meter dengan lebar jembatan cuma satu setengah meter. Jembatan itu beralaskan bambu dan hanya digantungkan pada tali. Memang tampak kuat, namun jika dilewati pasti jembatan itu bergerak sekaligus menimbulkan bunyi. Terlebih ketika aku berdiri di bagian tengah jembatan, Fitroh terus menggoyang-goyangkan jembatan dengan sedikit melompat. Kami semua pun berteriak histeris. Ketakutan.


Turun dari jembatan gantung, kami disuguhkan oleh kawasan hutan. Sebelum menerobos hutan, kami memperhatikan seorang nenek perkasa yang tengah menyeberang jembatan. Aku tak habis pikir mengapa nenek itu melangkah dengan tenang padahal ia tengah membawa tumpukan kayu bakar di atas kepalanya? Tidakkan ia merasa merinding seperti yang kurasakan? Ah, rupanya nenek itu bisa melewati jembatan tanpa ada halangan. Aku salut melihat perempuan usia senja itu. Tapi tetap saja aku tak akan seperkasa nenek itu jika dihadapkan dengan jembatan gantung. (Huffttt...)

Hutan! Itulah yang harus kami lalui. Berbagai tanaman tumbuh disana, ada bambu, pohon jati, dan tanaman herbal pun menjadi aneka pelengkap di hutan yang kami lewati. Tubuhku terasa sejuk mendengar aliran air sungai yang menderas. Langkahku pun masih dapat kuayunkan dengan ringan, tak ada tanda-tanda kelelahan yang menyapa.

"Duh, kacong...! Daripada jalan-jalan, mending menikah sajalah!" Komentar seorang ibu yang tengah menanam padi di sawah miliknya. Kami tersenyum menimpali ucapan ibu bercaping itu.

Ya, setelah keluar dari hutan memang kami disuguhi oleh persawahan. Persawahan yang menghijau itu memberikan pengalaman baru bagi kami, terutama bagi sahabat yang datang dari Surabaya. Apalagi saat ada puluhan bangau yang beterbangan melewati langit persawahan, membuat para sahabatku takjub menyaksikan alam yang masih alami belum tersentuh kemodernan.

Jalan setapak telah kami lewati, jembatan gantung, hutan, persawahan pun telah menyapa kami. Kini kami memasuki area pegunungan. Awal pendakian memang tak ada cobaan. Namun, beberapa menit kemudian timbul berbagai peristiwa. Tanah bebatuan yang dikelilingi pohon jati membuat sandal kananku terputus. Setiap pohon jati yang kami lewati berubah menurunkan tentaranya menyambut kedatangan kami. Puluhan ulat bergantungan menerpa perjalanan kami. Ya, banyak sekali ulat pohon jati yang bergelantungan! Ada beberapa orang di antara kami yang geli melihat puluhan ulat kecil yang meliuk-liuk di kepala, tas, dan sekitar kami.

"Lelaki kok takut sama ulat. Hahahaha,,," celetuk salah satu di antara kami.

"Bukan takut, tapi geli liatnya," kata pemuda lain membela diri.

"Hei, siapa yang sudah baca novel 5cm karya Dhony Dhirgantoro? Inilah 5cm versi kita," kata Fitroh.

"Ini sih bukan lima senti, tapi lima kilometer!" Sahut Januar yang tampak kesal karena kelelahan. Kembali suara tawa menghiasi perjalanan kami.

Untuk mencapai gua Sambiyan memang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam-an (kalau nggak salah sih, hehehe). Tak heran jika teman-temanku kelelahan berjalan selama itu, terlebih banyaknya rintangan yang harus kami hadapi. Namun karena adanya canda dan tawa membuat dua jam terasa hanya tiga puluh menit saja. Dan inilah saatnya tiba di bibir gua.

Gua Sambiyan benar-benar gelap total. Tiga senter yang melilit di kepala Rofiq, Fitroh, dan Salam pun tak cukup menerangi gua yang dihuni puluhan kelelawar itu. Saat berada di bibir gua aku sempat merinding melihat keadaan di dalam gua yang sedikit pengap nan gelap. Pun setelah melihat kelelawar beterbangan di atap gua. Langkahku pun kuusahakan tenang.

"Jauh-jauh berjalan kok nggak mau masuk sih, kan rugi. Apalagi ini pertama kali aku masuk ke gua. Duh rugi, benar-benar rugi!" Pikirku dalam hati.

Ternyata ketakutanku pelan-pelan memudar. Aku terpesona melihat keindahan yang tercipta di dalam gua. Stalaktit dan stalakmit yang ada membuatku kagum di dalam kegelapan. Apalagi setelah mendapati tetesan air alam yang dingin dari stalaktit, semakin tak sabar tangan kananku menengadah menangkap tetes demi tetas air itu. Tak lupa kami berfoto bersama dalam gua tersebut.

Fitroh mengajak kami memasuki gua lebih jauh lagi. Yang kutahu, ada empat ruangan gua berukuran sedang (nggak tau kalau lebih). Aku memasuki ruangan gua ketiga. Untuk mencapai ruangan ketiga ini, kami harus menaiki bebatuan yang cukup licin. Sesuatu yang luar biasa kami dapatkan setelah berdiri di ruangan gua ketiga. Keeksotisan gua semakin terlihat jelas dari ruangan itu. Celah lubang dari atas yang memantulkan cahaya membuat lekuk-lekuk gua terlihat indah. Dinding gua pun tampak mengkilap karena air yang membasahinya. Tak ada kata-kata indah yang mampu kuungkapkan selain "WOW".

"Eh, hari Sabtu besok kalian ke Surabaya ya. Nanti aku traktir nonton film lima sentimeter deh. Biar dapet feelnya. Mau nggak?" kata Januar di tengah-tengah istirahat kami dalam gua.

Sontak aku, Fitroh, Anas, dan Lian menoleh ke arah Januar. Tanpa babibu kami langsung menganggukkan kepala tanda setuju.

"Ya, sekalian kita mau tahun baruan disana," kataku.

"Sip. Di ACC ya rencana ini," Fitroh bersuara.

"Skripsi kale pake ACC segala, hahahaha..." sergah lian sembari tertawa. Kami semua ikut tertawa bahagia.

(bersambung)
***




Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com