Selasa, 03 September 2013

My Story in Bromo

Dulu, saat aku masih remaja, tak sedikitpun aku mengetahui kawasan wisata itu. Jangankan mengetahui, mendengar namanya saja aku belum pernah. Bagiku semuanya masih sangat asing ditelinga. Akan tetapi, saat telingaku mendengar namanya untuk pertama kalinya, sebuah keinginan langsung terpatri dalam hati, bahwa aku juga ingin menginjakkan kaki di tempat itu. Salah satu tempat terindah di negeriku. Gunung Bromo.

31 Agustus 2013...
Perbekalan telah kami persiapkan dengan matang. Dari pakaian dingin, syal, beberapa camilan dan obat-obatan, juga kaos kaki beserta sepatunya pun telah aku masukkan dalam ransel warna hitam. Sabtu sore kami berangkat dari Madura menuju kota pahlawan Surabaya. Sebenarnya niat hati ingin beristirahat sejenak di rumah teman, namun mata dan keadaan tak lagi sepaham. Kami tidak bisa tidur semudah itu. Akhirnya, untuk mempertahankan mata supaya tetap terang kami sengaja menyeduh kopi ginseng hampir sebanyak dua gelas.

Tepat pukul 22.00 WIB, kami dan rombongan bertolak dari Surabaya menuju Probolinggo. Angin malam adalah salah satu teman kami selama dalam perjalanan. Aku sempat membayangkan bagaimana panorama yang akan disuguhkan alam kepadaku. Apakah Bromo seindah yang kulihat di media cetak? Ataukah seeksotis seperti cerita orang yang pernah kesana? Entahlah. Yang jelas motor matik yang kutumpangi terus melaju cepat membelah jalan dan melintasi malam.

Sempat ada beberapa peristiwa yang menguji kesabaran rombongan kami, mulai dari bocornya ban, jatuhnya handphone teman di tengah jalan hingga kehabisan bahan bakar bensin juga kami rasakan. Kami menganggap semuanya sebagai rintangan dalam perjalanan. Dan beberapa rintangan itu bisa kami lewati dengan penuh keikhlasan. Bukankan pepatah mengatakan bahwa kesabaran dan keikhlasan itu akan berbuah surga? Semoga.

Nongkojajar adalah salah satu tempat yang kami lewati saat menuju Bromo. Sungguh diluar dugaan,ternyata perjalanan menuju gunung Bromo benar-benar penuh dengan rintangan dan kejutan. Jalan yang berkelok cukup curam menjadi sajian wajib untuk kami hadapi. Jurang yang mengerikan pun tak luput dari berbagai hal yang harus dilalui. Ada satu hal yang membuatku terkesan saat melintasi sepanjang jalan terjal itu. Di tengah malam gelap aku merasa seperti berada di angkasa luar. Dekat sekali dengan bulan, juga dengan ribuan bintang. Lampu rumah yang berada di sekitar jurang memang tampak nyata seperti kedipan bintang-bintang. Sangat sempurna ketika bintang-bintang di langit malam juga ikut berkilauan. Sungguh pengalaman unik yang tak akan pernah terlupakan.

Minggu, 1 September 2013 Pukul 04.00 WIB kami tiba di kawasan puncak. Aku baru sadar ternyata ratusan wisatawan asing dan wisatawan lokal juga telah memadati kawasan itu, mempersiapkan diri mencari tempat yang paling pas untuk menyambut matahari di awal pagi, sama seperti niat kami.

Kepadatan wisatawan yang berlalu-lalang membuatku harus berjalan kaki sejauh tiga ratus meter ke arah puncak. Aku harus melewati puluhan jeep, motor, dan para pendaki lain. Hawa dingin terus menusuk ke dalam kulit, menembus baju dinginku pagi itu. Rasanya aku perlu mempertebal pakaian dinginku. Dan tepat pukul 05.00 pagi aku tiba di lokasi yang tepat untuk menyapa kemunculan matahari di 1 Septemberku.

"Subhanallah...." kalimat itu yang muncul dibibirku saat garis serangkaian warna muncul di antara batas cakrawala sebelah timur. Sebuah perpaduan warna alam yang nyata menakjubkan. Hebatnya, lukisan alam itu tak hanya menghipnotis hati dan pandanganku, akan tetapi juga menghipnotis semua mata wisatawan yang hadir di lokasi itu.

"Selamat datang matahari satu september," teriak sahabatku sembari tersenyum. Ribuan mata kamera mengarah ke titik timur, mengabadikan momen penting di awal pagi itu. Begitu pula dengan kameraku, langsung mengambil gambar sesuka hatiku.

Saat matahari muncul, sebuah kejutan kembali menyapaku. Ternyata di sebelah kananku juga memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Beberapa gunung tampak berdiri disana, ada gunung Bromo, juga gunung Semeru. Hamparan kabut putih seolah-olah menyelimuti gunung itu. Apalagi ada salah satu titik dimana sebuah kawah mengeluarkan asap putih, membuat lukisan pagi semakin terlihat lebih cantik nan eksotik. Meski tubuh dalam keadaan dingin, aku tetap terpesona memandang semuanya. Mensyukuri diri bisa menjadi bagian dari para penikmat ciptaan Tuhan di hari itu.

Tepat pukul 07.00 WIB kami turun dari atas bukit. Perjalanan kami lanjutkan menuju lereng gunung Bromo yang berpasir. Cuaca panas mulai menyapa seantero celah, namun suhu sekitar tetap tidak berubah. Masih terasa dingin menusuk ke sumsum tulang. Kurang lebih empat puluh lima menit yang kami butuhkan untuk tiba di bawah bukit itu.

Hamparan pasir siap menyambut kedatangan kami. Angin yang berhembus menerbangkan butir-butir pasir hingga menerpa wajah dan masuk ke bibirku. Lautan pasir halus itu pun juga membuat laju motor kami tak berjalan dengan mulus. Kami harus mendorong kendaran kami masing-masing. Lelah itu pasti, tapi aku menganggapnya sebagai pengalaman unik yang jarang terjadi di perjalanan hidupku. Alhasil, kami menikmatinya dengan canda tawa lepas. Canda tawa dalam persahabatan.

Namun, sayang sungguh sayang. Kami semua tidak bisa mendaki ke bibir kawah karena membludaknya antrian pengunjung di atas sana. Dengan rela kami harus mengurungkan keinginan menghirup aroma belerang. Kami harus tetap bahagia karena bisa menikmati semuanya. Dan saat pulang, tak lupa kami membawa sebuah kenang-kenangan yang ada di sekitar kawasan Gunung Bromo. Cindera mata itu berupa seikat bunga abadi yang sering kita kenal dengan nama latin Edelweis.

Terima kasih kuucapkan kepada teman-teman yang telah rela mengenalkanku dengan kecantikan Bromo. Aku tak akan pernah melupakan sepenggal kisah ini sepanjang hidupku. Bahkan mungkin sampai beranak cucu. The happiest moment in my life is when i'm with you, guys. :)

Sampang, 02 September 2013
***




Jumat, 15 Maret 2013

Handphoneku, Sarana Menulisku


Catatan sederhana siang ini:

Akhir-akhir ini banyak sekali dari teman-temanku yang menyinggung tentang handphoneku, karena sampai tahun 2013 aku masih mempertahankan pemakaian handphone jadul. Menurut mereka hape jadulku sudah sangat ketinggalan jaman dan aplikasinya kurang canggih tidak seperti smartphone milik mereka. Aku hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata itu. Dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan pendapat mereka tentang hape yang sudah tiga tahun menemaniku.

Aku paham dengan ucapan teman-temanku. Namun seandainya mereka tahu bahwa hape jadulku ini telah melahirkan 2 buah novel, aku yakin mereka tidak akan mengeluarkan pendapat semacam itu kepadaku. Mungkin saja mereka akan balik bertanya bagaimana caranya hape jadul bisa kugunakan untuk menulis buku yang beratus-ratus halaman itu.

Ya, hape jadulku mampu menampung ide-ide yang ada di kepalaku suatu waktu. Aku bahkan tidak pernah merasa kesulitan bila menuangkan ide yang tiba-tiba muncul di kepalaku ketika aku berada di jalan, di bis, di sekolah, maupun di mana saja aku berada. Maklum, kuakui sampai detik ini aku memang belum mampu membeli notebook atau bahkan sebuah laptop seperti teman-temanku.

"Menari di Atas Tangan" merupakan novel kedua yang diterbitkan secara indie pada tahun 2011 lalu. Mungkin tak banyak yang tahu tentang proses penulisan novel itu, karena dari huruf ke huruf yang tertera tercipta dari handphone jadulku. Bahkan bukan hanya novel berjudul Menari di Atas Tangan saja, tapi masih ada skripsi, beserta beberapa tulisan lain yang tergabung dalam beberapa buku antologi bersama dan postingan di blogku. Dan semua itu adalah hasil dari hape jadul milikku.

Proses penulisannya memang cukup rumit tapi tak membuatku bosan apalagi jenuh oleh kerumitan itu. Aku bahkan sangat menikmati proses menulisku dari handphone jadul ini. Aku bisa menulis kapan saja, di mana saja, dalam posisi apa saja, tidur atau duduk, atau pun saat santai menonton televisi di rumah. Dalam keadaan apapun aku bisa menuangkan ide unik di hape jadul kesayanganku.

Aku cukup menyediakan bluetooth dan flasdisk untuk menyimpan tulisan-tulisan yang telah kuketik dalam notes hape jadul. Jika aku telah mengatur jenis kertas dan spasi melalui komputer warnet, maka naskah itu siap di kirimkan ke even lomba menulis yang akan kuikuti atau sekedar posting di catatan facebook maupun blogku.

Kini, kembali aku membuat novel ke-3 tentang pendidikan (tentang pengalaman seorang guru). Dan itu murni hasil ketikan dari handphone jadul yang selama ini menemaniku. Aku sangat berharap novelku kali ini bisa menembus penerbit mayor sehingga aku mampu membeli sebuah notebook. Aku berharap kepada yang membaca catatan ini untuk mendoakanku. Terima kasih pula telah mampir dan membaca catatan singkat yang sekali lagi kuketik menggunakan hape jadulku.

***

Senin, 14 Januari 2013

Selaksa Kenangan (menggembel) di Yogyakarta [Catatan Liburanku Episode 3]


Yogyakarta, kota istimewa bersejarah dan penuh akan budaya. Siapa pun yang berkunjung kesana, pasti akan merasakan aroma yang berbeda dari biasanya. Setidaknya, itulah yang kuketahui saat pertama kali berkunjung kesana tahun 2011 lalu. Dan kini, setelah dua tahun berselang, aku akan kembali memijakkan kaki di Yogyakarta menyambung pengalaman petualanganku bersama para sahabat di akhir tahun 2012.

Fitroh keukeuh ingin pergi ke Yogyakarta. Ini benar-benar diluar rencana kami sebelumnya. Sejak awal aku, Lian, Anas, Fitroh dan Muttaqin memang ke Surabaya untuk liburan sekaligus menikmati momen pergantian tahun. Ajakan ke Yogyakarta ini telah membuat kami terbelalak dan tak percaya. Kulihat isi dompetku, ternyata hanya berisi dua lembar ratusan, tak kurang dan tak lebih. (hehehe :D)

"Ayolah, aku belum tau nih yang namanya Yogyakarta, kalian sih enak udah pernah kesana,"

"Yang benar aja dong, coba kau lihat isi dompetku. Mana cukup untuk kesana?" kataku protes.

"Ah cukup kok. Tenang saja."

"Enak saja bilang tenang. Kalau kekurangan uang beneran gimana?"

"Ya tetap tenang. Tinggal gesek aja, hahaha..."

"Gesek? Apanya yang digesek?" kataku lagi pura-pura tak mengerti.

"Ah ayolah. Terserah di sana. Besok kita berangkat saja ya. Ok?" Kata Fitroh memutuskan tanpa persetujuan kami.

"Kalau kau, Muttaqin? Punya uang lebih atau nggak?" tanyaku lagi. Muttaqin hanya tersenyum dan menjawab,

"Ada. Aku bawa lebih kok."

"Tuh kan, besok sepakat ya." Fitroh bersikukuh lagi.

***

30 Desember 2012 pukul 22.00 WIB.

Aku, Fitroh, Lian, Anas, dan Muttaqin berada di terminal Bungurasih, Surabaya. Kami sibuk mencari tempat parkir motor kami supaya jika hujan menyapa, motor kami tidak akan kebasahan karena ada di tempat yang aman. Kurang lebih lima belas menit kami mengatur motor kami sedemikian rupa.

Cuaca malam itu memang cukup cerah. Seusai memarkir sepeda motor kami melangkah ke dalam terminal dengan tergesa-gesa. Kami berlima langsung menuju tempat bis jurusan Yogyakarta. Di sana tampak banyak penumpang yang bersiap-siap masuk bis angkutan.

Seorang kondektur segera menyuruh kami naik ke dalam bis karena bis tersebut akan segera berangkat. Benar, begitu kaki kami menginjak lantai bis, bis tersebut langsung berangkat tanpa menunggu penumpang lain. Kamilah penumpang terakhir yang naik di terminal Bungurasih tersebut.

Duuaarr!!!!
Satu hal yang membuat kami terkejut seketika. Semua kursi penumpang penuh.
Kami tak kebagian tempat duduk. Kami berlima harus rela berdiri sambil berpegangan ke atap tempat barang-barang penumpang berada. Alamaaakk!!

"Waduh, apa kita akan berdiri seperti ini sampai Jogja? Bakalan patah nih kaki...!" Seruku pada keempat sahabatku. Mereka hanya tersenyum.

"Inilah perjalan kita sesungguhnya!" celetuk Fitroh sembari tersenyum coba menghiburku.

"Iya. Tapi pegel kaki kita." Tambahku.

Untuk menuju Yogyakarta membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 7 jam. Dan aku tak habis pikir akan berdiri selama perjalanan berlangsung.

"Waduh, kalau begini terus mana bisa aku tidur malam ini? Apalagi besok kita akan jalan-jalan seharian. Terus malemnya pasti tidurnya larut malam karena momen pergantian tahun. Waahh, apa aku nggak akan tidur selama dua hari?? Nggak mungkin!" ceracauku pada Anas. Anas tampak lesu. Hanya ucapan singkat yang keluar dari bibirnya,

"Ya begitulah As,"

Sumpah, aku gregetan malam itu. Geram, kesal campur aduk semuanya. Di saat aku khawatir tidak bisa tidur, eh malah Lian asik makan burger yang dibelikan oleh Januar. Tak tanggung-tanggun, dua porsi burger masuk ke perut Lian malam itu. Sekaligus. Tanpa ada sisa. (kecuali bungkusnya aja, hehehe...)

Satu jam telah berlalu. Dua jam pun telah berlalu. Kakiku mulai lelah. Tubuhku mulai letih. Mataku semakin tak kuat menahan kantuk hingga memasuki putaran jam ketiga. Tepat pukul 02.30 WIB ada beberapa penumpang yang turun. Aku dan Anas langsung menggantikan kursi kosong itu. Ahh, lega. Setidaknya tubuhku pun bisa beristirahat untuk beberapa jam. Kulihat Lian, Fitroh, dan Muttaqin juga telah duduk. Kami pun terlelap selama dua setengah jam hingga tiba di terminal Giwangan, Yogyakarta.

***

Pukul 08.00 WIB di Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Aroma pagi di Yogyakarta telah kami cium. Sebenarnya kami tiba di terminal Giwangan pukul setengah enam pagi, namun antrian kamar mandi membuat kami harus bersabar menunggu giliran untuk mandi.

Begitu siap, tepat jam delapan pagi kami pun langsung kembali bertualang. Tujuan pertama adalah Candi Prambanan. Untuk ke sana, kami harus menaiki bis TransJOGJA terlebih dahulu. Ada beberapa kejadian lucu selama kami menaiki TransJOGJA. Dari terminal Giwangan, kami (khusus penumpang tujuan Prambanan) akan diturunkan di halte JEC untuk transit transJOGJA jurusan Prambanan. Kami pun menurut saja apa kata petugas bis itu.

Lucunya, setelah di halte JEC, kami berlima terbagi dalam tiga kubu (Nah lho...). Kami harus terpisah dalam tiga TransJOGJA!! (hahaha, kok bisa? kayak orang udik aja). Sebenarnya kami ingin bersama-sama, namun karena para penumpangnya penuh, akhirnya kami pun berpisah dalam 3 bis TransJOGJA (Aku dan Fitroh bis pertama, Lian dan Anas bis kedua, dan Muttaqin bis ketiga. Sendirian). Inilah yang membuat waktu kami terbuang sia-sia. Fiuhh...
 


Di lokasi wisata Candi Prambanan perjalanan kami berjalan seperti biasa. Adem ayem lancar bin tak ada halangan apa-apa. Kami menikmati keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Seluruh celah kami nikmati dengan hati bahagia.

"Ini masih buatan manusia, bagaimana jikalau buatan Tuhan? Pasti makin indah ya," celetuk Anas.

***

Pukul 17.00 WIB.

Kami tiba di samsat. Ternyata bis TransJOGJA tidak boleh beroperasi di Jl. Malioboro karena ramai oleh wisatawan. Alhasil, dari lokasi samsat kami berlima harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 kilometer menuju Malioboro. Ah, makin pegel kedua kakiku ini, pikirku.

Masjid Gede, itulah tempat singgah kami. Di sana kami sholat Maghrib dan Isya (mandi juga, hehe). Masjid berarsitektur jawa kuno dengan tiang penyangga seperti dalam kerajaan islam jaman dulu tampak masih sangat kokoh. Di bagian depan terdapat mimbar berukiran khas Jawa dengan cat warna emas menambah suasana masjid semakin kental kesan keunikannya. Masjid raya Yogyakarta ini seakan tak pernah sepi karena banyak jamaah yang datang silih berganti untuk melakukan ibadah. Kebetulan malam itu ada ceramah keagamaan tentang malam pergantian tahun 2012 menuju 2013. Aku pun terlarut dalam suasana di altar masjid raya kota Yogyakarta. Seakan-akan aku berada di masa sejarah dahulu kala. Tiba-tiba hujan turun sangat deras.Dan hebatnya, tanpa sadar aku tertidur kelelahan sampai pukul sebelas malam. Alhamdulillah...

Begitu bangun, kami langsung berjalan sejauh 1 kilometer menuju Jl. Malioboro. Jalanan sangat ramai. Ratusan kembang api menghiasi langit tempat kami berpijak. Riuh terompet membahana dimana-mana. Benar-benar malam yang meriah.


Mungkin ini rencana Tuhan membuatku terlelap di Masjid Raya sampai jam 11 malam. Seusai pesta kembang api yang meriah, kami baru sadar bahwa tidak ada tempat untuk menginap. Masjid Raya telah ditutup rapat-rapat. Apalagi masjid di Jl. Malioboro, dijaga oleh para satpam sangat ketat. Alhasil, kami pun duduk di pelataran kios penjual batik dan souvenir sepanjang Jl. Malioboro. (ngegembel juga akhirnya, hehehe)

Pelan, punggungku mulai lelah. Ingin rasanya tidur telentang di kasur yang lapang nan empuk. Tapi malam itu aku harus terima kenyataan tidur di jalan. Tempat orang berlalu lalang.

"Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan ceritanya..."

Setelah 20 menit berlalu, sayu-sayu kami dengar suara itu. Kami penasaran dan coba mencari suara itu berasal. Ternyata suara itu tak jauh dari tempat kami tadi, berasal dari suara dalang dalam acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kami pun beralih tempat menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk bertajuk "Lakon Aji Norontoko".

Yang membuat kami takjub, selain pertama kali menjadi penonton, malam itu juga sang dalang kedatangan tamu spesial. Dia seorang gadis dari Osaka, Jepang bernama Yuri Shang. Hebatnya, dia bisa nyinden persis seperti orang Jawa asli. Aku benar-benar terpukau melihat penampilan Yuri Shang itu.

"Orang Jepang aja antusias mempelajari budaya Indonesia, kenapa kita nggak? Siapa lagi yang akan melestarikan budaya Indonesia kalau bukan kita?" Gumamku dalam hati.

Hari itu, pertama kalinya aku menyaksikan acara wayang kulit sampai selesai. Sampai pagi. Dan itulah akhir perjalananku di Yogyakarta. Pagi-pagi sekali aku kembali ke Surabaya dan berlanjut ke Sampang Madura, melakukan aktivitas kami seperti biasa. Petualangan yang indah.

SELESAI
***




Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Jumat, 11 Januari 2013

Seberkas Kisah Baru (Catatan Liburanku Episode 2)



Menjadi walikelas ternyata lumayan melelahkan. Setidaknya itulah yang kami rasakan selama kurang lebih lima bulan terakhir ini. Terlebih ketika memasuki ujian akhir semester yang harus mengurusi soal ujian dan rapor-rapor para siswa, semakin menambah kesibukan pekerjaan kami yang juga menguras pikiran. Maka dari itu, kami butuh sekali yang namanya "li bu ran".

"Teman-teman, liburan semester ini kita harus jalan-jalan ke luar kota. Entah ke Pamekasan, Sumenep ataupun Bangkalan. Atau mungkin kalau bisa ke luar pulau Madura. Asal jangan di Sampang aja. Tau nggak, otakku benar-benar butuh penyegaran nih, butuh refreshing!" Kata Lian seusai membagikan rapor siswa kelas X.

Aku, Fitroh dan Anas pun mengiyakan. Kupikir, aku juga membutuhkan penyegaran otak setelah hampir satu semester bekerja. Rasa-rasanya kepenatan yang ada di sekujur tubuh telah mencapai puncak kejenuhan. Memang sangat membutuhkan peremajaan. Maklum, kami berempat sama-sama menjadi seorang guru di tempat kerja yang sama pula. Jadi teringat ajakan seorang sahabat dari Surabaya bernama Januar yang hendak mentraktir kami nonton film "5cm", akhirnya kami menghubungi Januar dan memutuskan melakukan perjalanan ke Surabaya tepat tanggal 29 Desember tahun 2012.

Hari itu kami berencana berangkat pada pukul delapan pagi. Awal keberangkatan kami sedikit terlambat satu jam karena kondisi tubuh Anas yang tiba-tiba kurang fit. Entah mengapa tiba-tiba saja Anas mengalami gejala masuk angin. Perutnya sakit dan tubuhnya sedikit demam. Akan tetapi Anas tidak mengindahkan gejala-gejala yang ia rasakan itu. Dia malah khawatir karena sudah terlanjur berjanji pada Januar tiba di Surabaya sebelum jam dua belas siang. Anas pun coba memaksakan dirinya untuk segera berangkat mengendarai motornya bersama Lian.

Kesabaran kami benar-benar diuji oleh Tuhan. Lima belas menit berangkat dari Sampang, di ufuk barat terbayang sebuah keredupan. Pelan-pelan gumpalan awan hitam mendekati kami, menyelimuti sawah-sawah dan bukit-bukit sepanjang perjalanan. Tanpa terduga tetesan air berkah luruh menyirami seantero celah desa. Terpaksa kami harus berteduh di sebuah bengkel pinggir jalan karena tak membawa jas hujan.

Hujan itu tak begitu deras, tapi bisa membuat pakaian kami basah kuyup bila nekat menerobos jalan. Detik demi detik telah sirna seiring turunnya gerimis hari itu.

"Hujan ini nggak mungkin cepat reda. Kalau hanya berdiam diri di sini, waktu kita akan terbuang sia-sia," kata Muttaqin, teman kami yang sengaja ikut ke Surabaya karena berencana membeli tas di salah satu mall Surabaya.

"Tapi aku dan Fitroh lupa membawa jas hujan," seruku pada Muttaqin.

"Kasihan Januar yang menunggu lama di Surabaya. Kita khan janjinya tiba jam dua belas, jadi harus segera berangkat," tambah Anas.

"Tapi kan kamu juga kurang fit Nas..."

"Ah sudahlah. Ayo berangkat, yakinlah semua akan baik-baik saja,"

"Yakin?"

"Iya. Ayo." Kata Anas keukeuh. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Benar dugaanku. Tas dan celanaku basah kuyup terkena percikan hujan. Hujan rintik-rintik kini berubah deras. Langit semakin gelap karena tumpukan mendung-mendung yang tak beraturan. Untuk kali ini kami memang harus segera mencari tempat berteduh. Maklum, sepanjang perjalanan tak ada tempat yang cocok untuk dijadikan lokasi berteduh, yang ada hanyalah hamparan persawahan yang meluas beserta bukit-bukitnya yang menjulang. Pakaian kami pun semakin basah tak terelakkan. (Huffftt tak ada jalan lain selain sabarrr...)

Aha! Di depan jalan ada sebuah gubuk bambu. Walau kecil, tampaknya cocok untuk dijadikan tempat berteduh. Kusuruh Fitroh mempercepat laju motor yang kami tumpangi. Dan kami pun berteduh di gubuk bambu tua itu. Walaupun terbuat dari bambu, gubuk itu sangat bermanfaat bagi kami semua. Ada beberapa orang yang juga tengah berteduh di gubuk itu. Aku baru tahu kalau ternyata gubuk itu ternyata adalah sebuah warung. Terlihat dari beberapa orang yang membeli kopi hangat di dalam gubuk.




Aku berdiri di depan pintu menyaksikan alam sekitar yang tiba-tiba redup. Sawah yang menghijau menjadi satu-satunya pemandangan terindah yang kami nikmati pagi itu. Batas cakrawala yang tak terlihat serta gundukan bukit-bukit tampak suram karena guyuran hujan yang begitu deras. Kulihat ada beberapa ibu-ibu bercaping yang tengah melangkah cepat ke arah utara. Tampaknya mereka ingin segera pulang setelah gagal menggarap sawah yang kehujanan. Hal itu terbukti dari clurit dan cangkul yang mereka pegang. Aku sempat merinding melihat kondisi mereka yang berjalan ditengah derasnya hujan. Menurut mitos orang Madura, jika ada di persawahan sambil membawa clurit atau pisau dalam keadaan hujan, kemungkinan akan dengan mudah terkena halilintar. Sudah banyak bukti dari mitos tersebut sehingga secara tidak terencana aku juga mempercayainya. (Hehehe...)

"Sob, dah nyampe mana?" Sebuah SMS masuk ke telepon genggamku. Dari Januar.

Kutunjukkan pesan singkat itu pada teman-teman. Mereka hanya tersenyum menanggapinya.

"Jan, dsni msih ujan dras, kami lg brtduh d daerah Blega. g mgkin qta nyampe SBY jam 12" balasku.

"Dsni jg ujan. Ok qta cancel ja yg jam 12. Qta nonton jam 2 siang ja. Hti2 dsana y."

"Sip" balasku cepat.

***

Pukul 11.00 WIB

Hujan pelan-pelan mereda. Orang-orang yang sempat berteduh mulai bersiap diri beranjak dari gubuk bambu itu, termasuk aku dan keempat temanku. Kami melanjutkan perjalanan ke arah barat. Sapuan awan hitam masih menghantui alam sekitar dan pikiran kami. Tak henti-hentinya kami berdoa dalam hati agar hujan tidak turun lagi. Doa kami pun langsung diijabah Sang Ilahi.

Motor kami melewati kawasan Galis, Tanah Merah, Patemon sampai akhirnya memasuki akses kawasan Tangkek yang berlanjut ke jembatan Suramadu. Ada sesuatu yang membuatku senang, sesuatu itu tak lain dan tak bukan adalah celanaku yang sempat basah, kini telah kering seiring motor kami melewati jembatan Suramadu yang megah. Aku memang telah lupa sudah berapa kali melewati jembatan Suramadu. Namun aku tidak pernah lupa merasakan suatu hal yang berbeda dalam hati kecilku. Kembali aku merasakan sensasi berbeda acapkali menyeberangi jembatan itu. Pemandangan yang sangat kontras antara sisi Madura yang dipenuhi pepohonan dan sisi Surabaya yang berdiri gedung-gedung mewah, hamparan laut lepas, hingga perahu-perahu nelayan yang melintas di bawah jembatan terus membuatku terpesona akan keindahan semuanya. Aku merasa terbang di atas lautan selat Madura saat berada di bentang tengah jembatan.




Kulihat jam digital di handphoneku menunjukkan pukul dua belas pas. Kami pun berhenti sejenak untuk sholat Dzuhur di masjid dekat jalan menuju jembatan suramadu. Tak butuh waktu lama, seusai sholat kami langsung menuju monumen kapal selam di kawasan Jl. Gub. Suryo (kalau nggak salah sih, hehehe). Dan di sana telah berdiri dua orang pemuda bernama Januar dan Siwon menunggu kedatangan kami. Sambutan hangat seorang sahabat telah kami rasakan. Kini saatnya kami menyaksikan pemutaran film "5cm" yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dhony Dhirgantoro di studio Sinema 21 Delta Plaza Surabaya tepat selepas makan siang.

Inilah yang aku tunggu selama ini. Tayangan demi tayangan dalam film itu membuatku semakin bangga dan mencintai Indonesia. Rasa nasionalismeku kembali membara menyaksikan kekayaan Indonesia. Tiap celah di bumi pertiwi ini memang mengandung sejuta keindahan. Keeksotisan tiada tara. Megahnya gunung Mahameru dan kisah perjuangan antar sahabat dalam proses pendakian untuk mencapai puncak tertinggi pulau Jawa itu membuatku terbakar emosi, kapan aku bisa berkunjung ke Mahameru? Kapan aku mampu membuat karya yang bisa difilmkan seperti itu? Ingin rasanya karyaku ditonton banyak orang, seperti yang kulakukan saat ini (hehe, mimpi boleh kan ya?).

Sungguh, aku tersenyum manakala menyingkapi kejadian-kejadian hari itu. Semua telah menjadi kisah baru dalam hidupku, yang tak akan pernah terlupa sepanjang hayatku. Satu pelajaran penting yang dapat kupetik hari itu, "Tak akan pernah ada jalan mulus untuk mencapai sebuah puncak. Semua pasti ada halangan dan rintangan yang mewarnai tiap perjalanan meski itu hanya berupa krikil-krikil kecil. Bila kita mampu melewati semua rintangan tersebut, niscaya menuju puncak akan dengan mudah kita capai. Harus tetap giat berusaha meraih cita-cita".

"Eh, karena lusa malam pergantian tahun, bagaimana jika kita nikmati momen itu di Yogyakarta...? Pasti seru ya?" usul Fitroh tiba-tiba selepas pemutaran film 5cm. Kami pun terbelalak tak percaya. Apaa????

(bersambung dalam episode "Selaksa Kenangan di Yogyakarta" Catatan Liburanku Episode 3).

***





Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Selasa, 08 Januari 2013

"5cm" Atau "5km" ? (Catatan Liburanku Episode 1)



Sabtu, 25 Desember 2012.

Mentari belum juga muncul di ufuk timur. Namun aroma pagi yang sejuk sudah mulai tercium oleh kedua lubang hidungku. Sejak pagi seusai shalat Subuh aku dan para sahabatku sibuk bersiap diri untuk melakukan pendakian di sekitar desa Pangilen, Sampang. Tepatnya di bukit Sambiyan yang jaraknya cukup jauh dari kediaman sahabat bernama Fitroh. Kebetulan pada hari itu aku kedatangan tamu dari kota Surabaya dan Mojokerto. Mereka berkunjung ke Sampang hanya untuk menyambung silaturahmi dan liburan. Sebagai tuan rumah, aku memang bahagia atas kedatangan mereka. Jauh-jauh datang ke kampungku telah membuktikan bahwa mereka gemar sekali bersahabat. Aku ingin memperkenalkan Sampang lebih jauh pada mereka, karena di Sampang banyak juga tempat-tempat indah yang belum terekspose oleh media.

Sehari sebelum tanggal 25 Desember 2012 tiba, aku memang telah mengajak tamuku berkunjung ke desa Camplong. Disana kami melihat sepanjang pantai dan laut Camplong dari atas bukit yang bersebelahan dengan tebing. Jika menghadap ke selatan, hamparan lautan tersuguh indah. Kilauan cahaya matahari yang memantul di permukaan laut seakan-akan menyerupai ribuan permata berlian. Sesekali di tengah hamparan permata dan berlian itu, berdirilah beberapa kapal besar pembawa minyak tanah mentah. Di tempat kami berdiri, kapal-kapal dan perahu itu tampak terlihat seperti kapal mainan saja. Tak lepas mata kami memandang alam sempurna Maha Karya Ilahi tersebut. Walaupun dalam cuaca yang membuat tubuh kami lumayan kegerahan.

Jika kami menghadap ke Utara, maka tesuguhlah tebing-tebing curam nan eksotik. Kami menyebut tebing itu sebagai Grand Canyonnya Camplong (hahaha sebenarnya gak mirip sih). Batu kapur yang telah membentuk tebing-tebing terjal itu benar-benar eksotik dalam pandangan kami. Sekeras kami berteriak, suara pun memantul membahana. Cuaca siang yang cukup panas tak menghalangi kekaguman kami akan lukisan alam yang disuguhkan Tuhan. Awal sebuah liburan yang indah.



Dan pagi ini, tepat di tanggal 25 Desember 2012 kami akan melakukan petualangan mendaki gunung di desa Pangilen Sampang untuk melihat gua. Pukul enam pagi kami berjalan ke arah Utara sejauh kurang lebih 400 meter. Awal perjalanan itu membuatku penasaran seperti apakah gua yang akan kami tuju itu? Benarkah rupa yang akan ditunjukkan seindah cerita masyarakat sekitar? Oh, pikiranku pun dipenuhi pertanyaan-pertanyaan semu.

"Perjalanan kita akan jadi petualangan seru tak akan terlupakan seperti dalam novel 5cm !!" Seru Fitroh yang berjalan paling depan. Fitroh adalah satu-satunya pemuda di antara kami yang mengetahui arah jalan menuju gua Sambiyan.

Setelah berjalan sejauh 400 meter, kami belok kanan memasuki sebuah jalan setapak. Dan dari jalan ini berbagai rintangan akan kami mulai. Pertama, kami harus melewati jalan berlumpur yang begitu sempit. Kedua, tantangan yang harus kami lewati cukup membuat jantungku sejenak memberontak. Bayangkan saja, kami harus melewati jembatan gantung yang menurut kami tidak layak pakai. Jembatan itu memiliki panjang kurang lebih enam puluh meter dengan lebar jembatan cuma satu setengah meter. Jembatan itu beralaskan bambu dan hanya digantungkan pada tali. Memang tampak kuat, namun jika dilewati pasti jembatan itu bergerak sekaligus menimbulkan bunyi. Terlebih ketika aku berdiri di bagian tengah jembatan, Fitroh terus menggoyang-goyangkan jembatan dengan sedikit melompat. Kami semua pun berteriak histeris. Ketakutan.


Turun dari jembatan gantung, kami disuguhkan oleh kawasan hutan. Sebelum menerobos hutan, kami memperhatikan seorang nenek perkasa yang tengah menyeberang jembatan. Aku tak habis pikir mengapa nenek itu melangkah dengan tenang padahal ia tengah membawa tumpukan kayu bakar di atas kepalanya? Tidakkan ia merasa merinding seperti yang kurasakan? Ah, rupanya nenek itu bisa melewati jembatan tanpa ada halangan. Aku salut melihat perempuan usia senja itu. Tapi tetap saja aku tak akan seperkasa nenek itu jika dihadapkan dengan jembatan gantung. (Huffttt...)

Hutan! Itulah yang harus kami lalui. Berbagai tanaman tumbuh disana, ada bambu, pohon jati, dan tanaman herbal pun menjadi aneka pelengkap di hutan yang kami lewati. Tubuhku terasa sejuk mendengar aliran air sungai yang menderas. Langkahku pun masih dapat kuayunkan dengan ringan, tak ada tanda-tanda kelelahan yang menyapa.

"Duh, kacong...! Daripada jalan-jalan, mending menikah sajalah!" Komentar seorang ibu yang tengah menanam padi di sawah miliknya. Kami tersenyum menimpali ucapan ibu bercaping itu.

Ya, setelah keluar dari hutan memang kami disuguhi oleh persawahan. Persawahan yang menghijau itu memberikan pengalaman baru bagi kami, terutama bagi sahabat yang datang dari Surabaya. Apalagi saat ada puluhan bangau yang beterbangan melewati langit persawahan, membuat para sahabatku takjub menyaksikan alam yang masih alami belum tersentuh kemodernan.

Jalan setapak telah kami lewati, jembatan gantung, hutan, persawahan pun telah menyapa kami. Kini kami memasuki area pegunungan. Awal pendakian memang tak ada cobaan. Namun, beberapa menit kemudian timbul berbagai peristiwa. Tanah bebatuan yang dikelilingi pohon jati membuat sandal kananku terputus. Setiap pohon jati yang kami lewati berubah menurunkan tentaranya menyambut kedatangan kami. Puluhan ulat bergantungan menerpa perjalanan kami. Ya, banyak sekali ulat pohon jati yang bergelantungan! Ada beberapa orang di antara kami yang geli melihat puluhan ulat kecil yang meliuk-liuk di kepala, tas, dan sekitar kami.

"Lelaki kok takut sama ulat. Hahahaha,,," celetuk salah satu di antara kami.

"Bukan takut, tapi geli liatnya," kata pemuda lain membela diri.

"Hei, siapa yang sudah baca novel 5cm karya Dhony Dhirgantoro? Inilah 5cm versi kita," kata Fitroh.

"Ini sih bukan lima senti, tapi lima kilometer!" Sahut Januar yang tampak kesal karena kelelahan. Kembali suara tawa menghiasi perjalanan kami.

Untuk mencapai gua Sambiyan memang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam-an (kalau nggak salah sih, hehehe). Tak heran jika teman-temanku kelelahan berjalan selama itu, terlebih banyaknya rintangan yang harus kami hadapi. Namun karena adanya canda dan tawa membuat dua jam terasa hanya tiga puluh menit saja. Dan inilah saatnya tiba di bibir gua.

Gua Sambiyan benar-benar gelap total. Tiga senter yang melilit di kepala Rofiq, Fitroh, dan Salam pun tak cukup menerangi gua yang dihuni puluhan kelelawar itu. Saat berada di bibir gua aku sempat merinding melihat keadaan di dalam gua yang sedikit pengap nan gelap. Pun setelah melihat kelelawar beterbangan di atap gua. Langkahku pun kuusahakan tenang.

"Jauh-jauh berjalan kok nggak mau masuk sih, kan rugi. Apalagi ini pertama kali aku masuk ke gua. Duh rugi, benar-benar rugi!" Pikirku dalam hati.

Ternyata ketakutanku pelan-pelan memudar. Aku terpesona melihat keindahan yang tercipta di dalam gua. Stalaktit dan stalakmit yang ada membuatku kagum di dalam kegelapan. Apalagi setelah mendapati tetesan air alam yang dingin dari stalaktit, semakin tak sabar tangan kananku menengadah menangkap tetes demi tetas air itu. Tak lupa kami berfoto bersama dalam gua tersebut.

Fitroh mengajak kami memasuki gua lebih jauh lagi. Yang kutahu, ada empat ruangan gua berukuran sedang (nggak tau kalau lebih). Aku memasuki ruangan gua ketiga. Untuk mencapai ruangan ketiga ini, kami harus menaiki bebatuan yang cukup licin. Sesuatu yang luar biasa kami dapatkan setelah berdiri di ruangan gua ketiga. Keeksotisan gua semakin terlihat jelas dari ruangan itu. Celah lubang dari atas yang memantulkan cahaya membuat lekuk-lekuk gua terlihat indah. Dinding gua pun tampak mengkilap karena air yang membasahinya. Tak ada kata-kata indah yang mampu kuungkapkan selain "WOW".

"Eh, hari Sabtu besok kalian ke Surabaya ya. Nanti aku traktir nonton film lima sentimeter deh. Biar dapet feelnya. Mau nggak?" kata Januar di tengah-tengah istirahat kami dalam gua.

Sontak aku, Fitroh, Anas, dan Lian menoleh ke arah Januar. Tanpa babibu kami langsung menganggukkan kepala tanda setuju.

"Ya, sekalian kita mau tahun baruan disana," kataku.

"Sip. Di ACC ya rencana ini," Fitroh bersuara.

"Skripsi kale pake ACC segala, hahahaha..." sergah lian sembari tertawa. Kami semua ikut tertawa bahagia.

(bersambung)
***




Tentang Penulis
Aswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Rabu, 26 Desember 2012



Telah terbit lagi nih...

Pancaran Hati Bunda
--Cirebon : Goresan Pena Publishing, 2012
109 hlm. ; 13 x 19 cm


Copyright © 2012 by Fiterozero, Aswary Agansya dkk.

Penulis : Fiterozero, Aswary Agansya,
Lian Hadinata, Nanaz Nasrul, dkk.
Editor : Fiterozero
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : Nanaz Nazrul, Fiterozero
Picture Sampul : By google.com
ISBN : 978-927-8863-29-6

harga : 31.000

Sinopsis:


“…Hal yang paling membekas dalam sanubariku, lantunan ayat-ayat yang keluar dari mulutnya, tatkala aku terlelap dalam keheningan malam. Suara itu meraba lubuk hatiku, membuatku bangkit dari tidurku. Ingin rasanya mengikuti langkah beliau, tapi kantuk kembali menyambarku…”
***

Buku ini berisi kumpulan puisi dan curahan hati seorang anak kepada bundanya. Membaca buku ini, pembaca diajak menyelami curahan buah hati kepada wanita bergelar bunda. Rasa sedih, bahagia, bangga bercampur aduk dalam untaian kata-kata yang membentuk sebuah kalimat indah untuk dirasakan ...
***

pesan : Ketik PHB_NAMA_ALAMAT_JUMLAH kirim ke 085 221 422 416

Kamis, 06 Desember 2012

Terbit Lagi Nih....

















Telah terbit......
Buku baruku,
Judul : akhirnya Tulisanku Terbit Juga
Penerbit: Goresan Pena Publishing
Harga: Rp. 30.000



Penulis:

Bahagianya Tulisanku Terbit : Wahyu Ekasari Nugraheni

Dipaksa Membuat Tak Percaya : HF Inna

Dunia Kata : Dedi Ashari

Buku Pertamaku, Motivatorku : Luluk Kristianingsih

Percikan Pelangi : Hilda Amanda Putri

Olala...Olili... : Tomy M Saragih

Timbul Tenggelam : Vita Ayu Kusuma Dewi

Siap Terbit : Syifaul Falasifah

Menulis Itu Sesuatu : Ica Alifah

Three in One : Anggita Nurindah Kusuma

Mimpiku Ada Dalam Genggamanku : Nuraeni

My First Book : Wahda Khadija Salsabiila

Penghargaan pertamaku : Hasan Ar-Rezky

Semua Memang Akan Indah Pada Waktunya : Aswary Agansya

The Hard 1st Short Story : Hannan Izzaturrofa

Buncah Bungah Sabtu Sore : Neli Rosdiana

SEgera pesan di Goresan Pena Publishing atau hubungi Iwan Wungkul....


Senin, 08 Oktober 2012

4 Oktober

4 Oktober,
sebuah tanggal paling bersejarah bagi diriku. Di bulan itu, ada satu angka yang menjadi pertanda bahwa aku diterima menginjakkan kedua kakiku di bumi pertiwiku. Di tanggal itu pula beberapa kepingan senyuman terbentuk melihat tangisan seorang bayi mungil yang terlahir menghiasi realita kehidupan ini. Senyum itu jelas tersungging indah dari wajah kedua orang tuaku beserta kakak-kakakku. Oh, Oktober memang awal sejarah perjalananku menapaki kerasnya lika-liku dunia.

4 Oktober,
Kini, secara perlahan aku kembali bersua dengan angka 4 Oktober. Bagiku, 4 Oktober kali ini memberikan suasana baru dibandingkan Oktober-Oktober yang pernah kutemui tempo lalu. Banyak kejadian lucu yang kulalui. Banyak kejutan-kejutan indah yang menyapaku hari ini. Banyak pula doa-doa berkah yang disemaikan orang-orang tersayang kepadaku. Semua itu menjadi rangkaian peristiwa bersejarah tersendiri di Oktoberku kali ini.

Beberapa hal unik yang perlu aku ingat di 4 Oktober ini adalah bahwa angka usiaku semakin bertambah satu angka. 4 Oktober kali ini memberikan tanda bahwa jangka waktu hidupku di dunia semakin berkurang. Aku berharap, jejak-jejak sejarah hidup yang telah kutorehkan selama ini, bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi dunia, bahkan bagi diriku sendiri.amin.

Lewat moment 4 Oktober ini, aku mengucapkan terima kasih kepada keluargaku, sahabat-sahabatku yang telah rela menyemaikan doanya untukku. Baik para sahabat di jejaring sosial facebook, sahabat dan rekan kerjaku sesama guru di SMA ISlam Attaroqqi Tsani, sahabat yang telah meneleponku tadi pagi, para sahabat yang telah mentraktirku makan di MFC Sampang sore tadi, siswa-siswaku, semuanya deh...
thanks ya semua....

Tetap sambung doanya buat aku. Semoga aku masih bisa bersua dengan 4 Oktober mendatang. Amin.
:D

***
Sampang, 4 Oktober 2012



Jumat, 21 September 2012

Curahan Untuk Dinda


Wahai gadis pujaanku, apa kabarmu disana? Apakah kau tengah diselimuti kebahagiaan? Ataukah malah dirundung nestapa? Berikan secuil kabarmu untukku, karena detik ini bayanganmu menari di anganku.

Wahai gadis pujaanku, apakah kau tak menemukan bayanganku dalam benakmu? Apakah kau tak merindukan ragaku? Meski secuilpun itu?

Dinda, dinda. Lima tahun kujaga cinta yang bersemayam indah ini. Dalam kurun waktu yang tak sedikit itu kuhadapi berbagai liku hidup dengan penuh kesabaran. Pun kurasa kau juga mengalami macam rupa liku kehidupan itu. Namun yang membuatku tak mengerti, mengapa malah luka yang kudapat disaat kuyakinkan hatiku tentangmu?

Aku sadar,
aku bukan lelaki yang tangguh, dinda. Bukan lelaki pemberani dalam mengarungi samudera cinta seperti yang kau inginkan itu. Aku hanyalah pengecut yang bisu, yang selalu tidur dalam gubukku.

Aku sadar, aku tak sesempurna pemuda impianmu itu, aku tak setampan pemuda itu, aku juga tak seindah yang kau harapkan. Aku hanyalah aku, yang selalu kau abaikan hatinya.

Tapi satu hal yang perlu kau tau dindaku, aku mencintaimu dengan ketulusanku. Aku menyayangimu dengan kekuranganku. Serta kumengharapkanmu dibalik kesederhanaanku.

Oh dindaku, disini aku tertawan oleh bayanganmu. Aku terlampau lemah menepis lukisan senyumanmu. Apakah ini adil bagi pemuda yang tengah merindukan tulang rusuknya?

Wahai Dinda, kau boleh mengabaikanku seperti ini. Kuterima semua yang telah kau lakukan padaku. Semua itu tak akan membuatku berbalik membencimu, tapi justru makin menyayangimu. Kalau kau masih peduli padaku, kutunggu berita indahmu di dermaga hatiku.
***

#Kamar inspirasiku.
Sampang, 20-09-2012 Menjelang Malam. Tanah Garam, Madura.



Tentang Penulis
Aswary Agansya mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober 1987 ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Sabtu, 15 September 2012

Maaf Dari Pulau Seberang (Tulisanku Yang Gak Lolos Even)


Sisa-sisa malam mulai memudar ditelan terang. Pagi pun menjelang beriringan dengan kicauan burung dan merekahnya sisa embun. Dingin masih terasa menyentuh kulitku, menyapa aliran darahku yang masih segar, dan memberikan energi baru untuk perkembangan semangatku.

Pagi itu aku masih terdiam di bibir tempat tidur. Sejak usai shalat Subuh aku tetap duduk dengan tak mengubah posisiku. Pikiranku sedikit kalut, Ramadhan akan datang beberapa hari lagi namun bebanku belum jua luruh dari hatiku. Ingin rasanya aku segera menuntaskan beban ini. Tapi sampai detik ini aku tidak tahu bagaimana cara menuntaskan semua itu.

Peristiwa tempo lalu telah menyita sebagian pikiranku, menghilangkan semangat dalam dadaku. Nyaliku pun pelan-pelan melemah, bak balon udara yang menciut seketika dan lenyap ditelan ganasnya angkasa.

Aku ingin jujur padanya, sejak peristiwa itu pikiranku terganggu kelu. Peristiwa hari itu tak ubahnya lecutan cambuk yang memaksa hatiku untuk terus mengevaluasi diri dari deretan-deretan kekhilafan yang telah lalu. Dan pikiran itu tertuju pada kesalahan yang telah kuperbuat kepada dia. Memang benar adanya, penyesalan tidak datang pada awal sebuah cerita, melainkan pasti datang di akhir sebuah cerita. Itulah yang tengah kualami saat ini.

Dulu, kurang lebih dua bulan yang lalu, dia wanita yang telah kuanggap sebagai kakakku sendiri, Mbakyuku yang penuh inspirasi, diam-diam mengajakku pergi ke Yogyakarta untuk menghadiri acara kepenulisan yang diadakan seorang sahabat di Yogyakarta sana. Dia menghubungiku melalui kotak pesan di facebook. Maklum, persahabatan kami memang berawal dari sebuah jejaring sosial bernama facebook. Dia dari kota Surabaya dan aku dari kota kecil pulau seberang, Madura.

"Assalamualaikum. Adek, bener mau ikut ke Jogja? Kalau adek mau, adek bisa bareng mbak. Ada orang yang memberiku kendaraan, nah kalau mau, besok sore adek ke Surabaya ya. Ke kantor mbak saja. Aku ngajak adek karena kakak-kakak disini sibuk semua dan biar adek menemani driver, biar dia nggak sendirian. Nanti aku juga berusaha ngajak temen cewek supaya bisa temenin mbak. Ditunggu ya kabar selanjutnya," pesan singkat itu kubaca tepat sepulang dari kuliah.

Aku merasa senang bukan kepalang setelah membaca pesan itu. Aku tidak menyangka bisa diajak oleh orang yang selama ini kujadikan inspirasiku dari dunia maya. Apalagi diajak ke kota Yogyakarta, kota yang menyimpan banyak keajaiban dan kentalnya kebudayaan, wah makin riang saja hati ini karena selama aku bernapas, aku belum pernah menapakkan kaki berkunjung ke kota pelajar itu. Inilah kesempatanku untuk mengenal Jogja lebih dekat, pikirku.

Kuiyakan saja ajakan Mbakyuku itu tanpa memikirkan apapun. Maklum, mungkin aku terlanjur bahagia.

"Wah, mendadak ya Mbak? Oh iya, boleh ngajak temen nggak Mbak? Hehehe, aku bersedia ikut deh Mbak." Balasku.

"Kalau ngajak temen lagi kurasa nggak bisa dek. Takut mobilnya nggak cukup. Maaf ya." Balas Mbakyuku dengan cepat.

"Oke deh. Insyaallah ya Mbak," kataku padanya sambil tersenyum bahagia.

“Baik dek. Mbak tunggu. ^_^”

"Oh iya mbak, berarti aku nanti sore harus sudah stanby di Surabaya ya? Ke Jogjanya berangkat jam berapa sih Mbak?"

"Iya sore sudah standby disini. Berangkatnya jam enam ba'da shalat Maghrib. Bisa kan?"

"Oke kalau begitu, mbak."

"Sipp!!"

Aku mulai membayangkan bagaimana serunya perjalananku nanti jika di Jogjakarta. Yang terlintas dalam benakku adalah candi-candi khas Yogyakarta seperti candi Prambanan, Mendut, candi Borobudur dan candi-candi eksotik lainnya. Tak lupa kemeriahan Jalan Malioboro dan panorama Gunung Merapi juga ikut serta dalam kepingan bayang-bayangku itu. Aku juga semakin penasaran bagaimana sebenarnya suasana kota Jogja yang selama ini sering kulihat dari layar kaca. Apakah atmosfer disana berbeda dengan kotaku di Madura? Atau mungkin sama saja. Ah, angan-anganku pun melambung tinggi hingga tiba kota ke Yogyakarta meski secara raga masih berada di Madura.

Hampir semalaman aku tak bisa memejamkan kelopak mata. Mata dan otakku terlalu sibuk menerawang belahan bumi pulau Jawa yang akan segera kupijak. Pukul dua belas malam aku baru bisa tidur tanpa bayang-bayang Yogjakarta.

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke Surabaya, kusempatkan dulu pagi harinya untuk kuliah. Namun, sesampainya di kampus, dosenku memberikanku tugas mendadak yang harus kuselesaikan dalam jangka waktu sehari. Dan yang membuatku sedikit geram adalah tugas tersebut harus dipresentasikan lusa. Aku pun kelabakan.

Memang tak terduga. Sebaik-baiknya manusia berencana, tetap saja Allah Azza Wa Jalla-lah yang menentukan semuanya. Ini semua benar-benar diluar dugaanku. Sore hari aku baru pulang dari kampus. Alhasil, aku tidak bisa ikut Mbakyuku ke Yogyakarta.

Hatiku kecewa. Dengan perasaan sedih kukirim pesan singkat yang berisikan kata maaf pada perempuan itu. Aku berharap dia mau memaklumiku, coba mengerti posisiku sebagai seorang pelajar. Namun smsku failed. Kucoba hubungi telepon genggamnya tapi tak bisa tersambung karena nomor handphonenya ternyata nonaktif.

Seusai Maghrib aku baru ingat bahwa aku memiliki akun facebook. Bergegas kukayuh sepedaku menuju warnet berharap bisa meminta maaf walau jam segitu Mbakyu telah berangkat ke Yogyakarta. Saat hendak mengirim pesan, tiba-tiba Mbakyuku meng-up date sebuah status di wall akun facebook miliknya. Tanpa sengaja, aku membaca kata-kata itu,

"Hari ini aku belajar adab dari orang yang tak memiliki adab. Belajar tersenyum dari orang yang tak pernah tersenyum."

DEGG...!! Jantungku berhenti berdegup.

Aku tersadar dari kepanikanku. Walau aku belum tentu tulisan itu ditujukan untukku, tapi rasanya aku telah dicambuk hebat dengan kalimat singkat itu. Buru-buru aku meminta maaf pada Mbakyuku. Pesan maafku tidak langsung di balas olehnya.

"Iya nggak apa-apa. Mbak nggak apa-apa kok." Balas Mbakyu beberapa hari kemudian.

Dari rangkaian kata-kata elektronik itu, aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Jauh sisi hatiku berkata bahwa dia belum bisa secara ikhlas memberikan maafnya untukku. Dan mungkin dia tidak akan pernah mau lagi memaafkanku. Itu terbukti acapkali aku mencoba akrab dengan dia, dia malah menanggapiku dingin. Ya, pelan-pelan dia berubah. Mbakyuku tak lagi seakrab dulu padaku. Tak seceria dulu padaku. Satu pun apa yang kulakukan di facebook, tak akan pernah mampu menarik perhatiannya. Jangankan berkomentar, memberi tanda "Like" pun tak ada. Aku juga pernah mencoba menghubungi telepon genggamnya, tetap saja tak ada tanggapan dari Mbakyuku itu. Aku benar-benar bingung.

Peristiwa itu satu-satunya peristiwa yang membuat silaturrahmi kami pelan-pelan terputus. Benar-benar terputus! Seperti segelas air yang airnya tumpah ruah akibat sang gelas penampung pecah berantakan. Aku bingung harus bagaimana lagi menghadapi dia karena berbagai cara telah kulakukan untuk mencoba menyambung silaturahmi kami. Sebagai manusia biasa aku pun mulai lelah. Kata maaf darinya mungkin akan menjadi khayalan saja.

Ramadhan tinggal menghitung hari, kuingin angin mampu menyampaikan salamku pada Mbakku di Surabaya sana, sebuah kata maaf dari pulau seberang.

Oh, Mbakyuku. Segitu burukkah aku sampai-sampai tak ada lagi pintu maafmu untukku? Segitu hinakah aku sampai-sampai kau tak mau lagi bersahabat denganku? Kalau semua itu benar adanya, sungguh kasihan sekali aku ini.  Aku pasti sedih karena kehilangan sahabat sepertimu wahai Mbakyuku. Tidakkah kau tahu wahai Mbakyu, Allah saja mau memaafkan hamba-hambanya yang telah tobat dari kekhilafannya. Pasti Mbakyu tahu akan hal itu.

Aduh Mbakyu, aku sungguh takut. Takut kau tak memaafkanku. Aku takut Allah mengazabku hanya gara-gara putusnya silaturahmi kita ini. Tidakkah Mbakyu merasa takut sepertiku? Ku yakin Mbak juga takut kan?

Maka dari itu marilah kita buang saja kesalahan masa lalu yang pernah terjadi di antara kita. Gantilah kenangan buruk itu dengan keceriaan yang baru, apalagi menjelang Ramadhan kali ini. Yakinlah bahwa tak ada yang lebih indah dari perdamaian dan persahabatan Mbakyu.

Mbakyu, dengarlah suara dari hatiku ini. Hati yang hampa dan penuh harap akan sebuah satu kata saja. Ya! Hanya satu kata saja, yaitu "DIMAAFKAN". Tidak hanya dibibir, tapi tulus dari hati Mbakyu.

Mbakyu, aku pernah mendengar sebuah kata bijak yang benar-benar mantap menurutku,

"Meminta maaf tidak menjadikan seseorang lebih tinggi atau rendah. Dan orang yang memberi maaf dengan ikhlas itu pasti berhati mulia."

Nah, hati Mbakyu mulia kan?


*Sampang, Tanah Garam Madura. 15 Juli 2012 menjelang siang.
***

Tentang Penulis
Aswary Agansya mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober 1987 ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Minggu, 02 September 2012

Oleh-Oleh Cerita dari Tanah Rasulullah

(Rabu, 29 Agustus 2012)


Siang itu, sekitar pukul 10:30 WIB aku dan dua sahabatku tengah berjuang mengayuh sepeda melewati lorong-lorong gang Jl. Rajawali II kota Sampang. Siang yang suhu panasnya mencapai derajat tertinggi itu, kami mencari sebuah rumah sahabat yang sedang melangsungkan pernikahan. Maklum, aku belum pernah berkunjung ke rumah gadis itu sebelumnya, walau sebenarnya dulu sewaktu SMA kami sudah saling kenal. Kota Sampang bukanlah kota besar seperti Surabaya yang memiliki jalan bercabang. Sampang adalah salah satu kota kecil yang ada di Madura (tapi kok kami bisa nyasar ya? Ya gitu deh. Takdir. Hehehe). Setelah lima belas menit berputar-putar dan sempat tersasar, akhirnya kami bisa bernapas lega. Kami menemukan juga rumah sang pemilik acara yang kebetulan rekan kerja sesama guru di sekolah yang menaungiku. Alunan musik dangdut modern menyambut kedatangan kami, pun tak lupa sang mempelai ikut serta melemparkan senyuman terindahnya begitu melihat kaki kami memasuki pelataran rumah mereka.

Aku menangkap rona bahagia di wajah pengantin muda itu, ya, rona bahagia yang menyiratkan kelegaan karena prosesi akad nikah mereka yang berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Kami berjabat tangan. Aku dan kedua sahabatku pun dipersilahkan duduk. Aku benar-benar diselimuti wajah-wajah bahagia, pikirku saat itu.

Tak begitu lama, tiba-tiba suatu hal membuatku terkejut. Pundak kananku ditepuk seseorang tanpa sepengetahuanku.

"Subahanallah...!!!" seruku tepat saat mengetahui siapa yang melayangkan tepukan ke pundakku. Dialah pemuda sekaligus sahabat yang baru saja pulang umroh di tanah suci Mekah. Pemuda itu bernama Fitroh.

"Waduh, ketemu disini rupanya," seru Fitroh padaku sembari tersenyum.

"Loh, kapan kau datang?" kataku balik bertanya.

"Aku datang malam Minggu. Kamu kemana kok tidak menyambut kedatanganku? Di rumah rame loh..."

"Apa? Malam Minggu? Kebetulan malam Minggu kemarin aku sakit Fit. Jadi nggak bisa keluar rumah."

"Waduh, ternyata di Sampang musim orang sakit ya,"

"Benar Fit, akibat cuaca yang tak menentu kali ya. Eh, kayaknya aku sekarang harus panggil pak haji deh," seruku sambil tertawa. Fitroh pun ikut tertawa mendengar ucapanku.

Pelan-pelan, kutatap wajah pemuda itu. Ada sesuatu yang berbeda yang membuat kedua mataku terus terpesona. Ya, kulit Fitroh tampak lebih putih, bersih dan halus. Wajahnya pun tampak bercahaya. Apa ya rahasianya? (hahaha, kayak iklan aja nih yeee...)

"Wajahmu bersinar Fit. Pasti kamu bahagia di sana. Cerita dong..."

"Ah, kapan-kapan kamu ke rumahku saja. Nanti kuceritakan semua. Di sini bukan tempat yang tepat." Timpal Fitroh membuatku penasaran.

"Baik. Hari Senin aku ada jadwal mengajar. Nanti aku mampir ke rumahmu ya."

***

(Jumat, 31 Agustus 2012)


Jika harus menunggu hari Senin tiba, aku rasa masih terlampau jauh untuk menyimpan lagi kepenasaranku. Sedangkan hatiku telah lama diselimuti rasa super penasaran ingin segera mendengar rangkaian cerita perjalanan religi seorang Fitroh di tanah Rasulullah. Tanpa ba bi bu lagi, kuputuskan saja Jumat pagi segera bersilaturahmi ke rumah Fitroh. Tak tanggung-tanggung, aku berangkat pukul tujuh pagi dan tak lupa pula kuajak kedua sahabatku, Lian serta Anas ikut berkunjung ke rumah Fitroh yang terletak di desa Pangelen, Sampang. Kami bertiga mengendarai angkutan umum dan benar-benar menikmati perjalanan kami. Pemandangan alam selama perjalanan berlangsung sangat indah menyejukkan mata. Kanan kiri jalan dikelilingi hijaunya persawahan.

Rasa penasaran yang memenuhi batinku tentang Baitullah telah membawaku hingga ke rumah sederhana kediaman Fitroh. Aku terlampau egois ingin mengetahui segala sesuatu yang belum pernah kuketahui, termasuk suasana di tanah suci sana.

"Aku tidak tahu harus cerita darimana, yang jelas menurutku kehidupan disana tidak bisa diukur dengan pikiran. Semua tergantung amal perbuatan kita di Indonesia," tutur Fitroh memandang kami bertiga.

"Kok kamu bisa bilang begitu?" tanyaku.

"Iya. Aku merasa Allah melindungiku selama aku berada disana. Pernah aku berangan-angan ingin makan ayam, eh ternyata ada seseorang yang mengetuk pintu apartemenku dan menyodorkan beberapa potong ayam goreng padaku. Pernah juga aku berangan-angan ingin mencicipi nasi bukhari, tiba-tiba ada seseorang yang memberiku sepiring nasi bukhari. Allah benar-benar mengetahui apa yang ada di benak hamba-hambaNya,"

"Ada satu hal yang membuatku semakin yakin bahwa Allah benar-benar Maha memberi," kata Fitroh dengan pandangan mata tampak menerawang. Aku, Lian, dan Anas masih terdiam tepat dihadapan pemuda bersarung dan berpeci itu.

"Kalian tahu sendiri kan kondisi keberangkatanku. Saat itu aku hanya membawa uang saku sebesar empat ratus riyal. Tapi subahanallah, aku benar-benar terharu,"

"Terharu kenapa? Kamu kecopetan?" celetukku.

"Bukan. Bukan itu. Saat aku sholat di Masjidil Haram, tiba-tiba ada orang asing menyelipkan beberapa lembar uang kesakuku. Tepat sekali di saat aku tengah melaksanakan sholat. Setelah kuketahui, ternyata uang itu berjumlah seratus riyal."

"Subahanallah... Kamu tau siapa orang itu Fit?" Lian tertegun. Fitroh pun menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengetahui siapa orang pemberi uang itu.

"Aku benar-benar tidak tahu siapa orang asing itu..."

Belum sempat Fitroh melanjutkan ceritanya, tiba-tiba muncullah bibi Fitroh dari balik pintu yang tengah membawa nampan berisi dua piring penuh kurma dan tiga gelas air zamzam.

"Ini, silahkan diminum. Ini air zamzam asli. Aku sendiri yang mengambilnya spesial untuk sahabat-sahabatku."

Aku merogoh gelas itu, kuamati sekilas kemudian kuteguk isinya. Aku bersyukur bisa meminum air bersejarah itu. Menurut informasi yang pernah kubaca, air zam-zam merupakan air mineral terbaik di seantero celah dunia. Dan yang membuatku tersita sekaligus tercengang, meski sejak zaman Rasulullah hingga sekarang banyak masyarakat di dunia yang mengambil air zamzam tersebut, namun sumur zamzam tidak pernah merasakan kata "kekeringan". Inilah salah satu kebesaran Allah.

Fitroh kembali melanjutkan pengalamannya ketika berada di tanah suci sana, ketika ada rekan dari Sampang tiba-tiba bisa berlari setibanya di tanah suci, padahal sebelumnya jika berjalan harus memakai bantuan kursi roda. Cerita Fitroh semakin meluas mulai dari tawaf, mencium hajar aswad, berkunjung ke monumen pertemuan Adam dan Hawa, melihat jam tertinggi dan terbesar di dunia hingga pengalaman menitikkan air mata ketika hendak bertolak ke Indonesia. Bahkan Fitroh juga menunjukkan koleksi foto selama di tanah suci di komputer jinjing miliknya.

Sontak ada kecemburuan yang tiba-tiba muncul di hatiku. Kapan aku bisa berkunjung ke tanah Rasulullah? Tanah impian semua umat Islam di dunia? Ingin sekali aku mencium aroma kedamaian hati disana. Di tanah suci kelahiran para Nabi.

"Kudoakan semoga kalian bisa berkunjung ke Baitullah, merasakan bahagia seperti yang aku rasakan... Amin..." Kata pemuda itu mengakhiri ceritanya.

*Kamarku. Sampang, 31 Agustus 2012.
Tengah Malam.
Tanah Garam, Madura.


***



Tentang Penulis
Aswary Agansya mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober 1987 ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Antara Dingin dan Gelap Malam


Kian lama malamku kian larut. Senandung angin merebak dan meluas menyelimuti seluruh kota. Aroma tengah malam yang menyeruak dari balik kegelapan pelan-pelan menajam menyapaku. Hanya diamlah yang mampu kusemaikan dalam diriku.

Malam itu, saat semua merasa bahagia dengan ratusan kembang api menghiasi langit malam, aku masih saja duduk termenung diantara dingin dan gelap malamku. Anganku pun melayang tak tentu arah, merindukan sesuatu yang kini tak kurengkuh. Bagaimana bisa bahagia jika separuh hatiku tak ada disampingku??

Aku merasa dunia tak lagi berpihak padaku. Aku pun merasa indahnya malam itu bukan teruntuk diriku. Semua benar-benar tak peduli dengan keadaanku. Keadaan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya di malam-malam lalu. Aku meringkuk di atas ubinku yang mulai mendingin itu.

Peristiwa sore telah membawaku pada dimensi ini, kesepian. Sore itu telah membuka dan menyadarkan batinku bahwa asmara yang selama ini kujaga tiba-tiba menusuk relungku. Pun merusak hidupku.

***
(catatan kesendirian) Kamarku, Sampang, 00:30 WIB, 25082012. Tanah Garam.



Tentang PenulisAswary Agansya mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober 1987 ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Jumat, 15 Juni 2012

Karma Guruku ??

"Siapa yang menanam, pasti dia yang akan menuai hasilnya" begitulah kata pepatah yang sering aku dengar. Aku sangat paham dengan kalimat itu, tapi entah mengapa aku mengabaikan makna yang tersirat di dalamnya. Aku sering melakukan hal-hal yang kuinginkan tanpa memikirkan dulu manfaat dan akibatnya. Hm, mungkin karena darah mudaku masih bergelora kala itu, sampai-sampai aku tak peduli pada siapa pun yang coba menghalangi rasa ingin tahuku.

Terus terang saja, saat aku masih SMA, aku bukanlah tergolong siswa yang nakal dan juga bukan tergolong siswa pendiam. Bisa dibilang aku siswa yang biasa-biasa saja, yang tidak mudah dikenal para guru karena tidak terlalu aktif di kelas. Maklum masih pemalu. Namun begitu, sebagai seorang peserta didik, tentunya aku memiliki sifat yang hampir sama seperti teman-temanku yang lain dalam mengapresiasi seorang guru. Kalau memang guru itu asik dalam mengajar, ya pasti kami menyayanginya. Begitu pula sebaliknya, kalau dalam menjalani kegiatan belajar mengajar guru tersebut memakai sistem super ketat dan membosankan, tentunya kami merasa sebal pada guru yang bersangkutan.

Oke, aku sadar bahwa seorang guru itu merupakan sesosok manusia yang patut digugu dan ditiru, guru apa pun itu. Hal tersebut dikarenakan guru adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu kandung kita di rumah. Jasa seorang guru memang begitu besar dalam dunia pendidikan, karena gurulah yang mencetak siswa-siswa berprestasi di nusantara ini.

Kalau mengingat-ingat jasa seorang guru, aku tak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Bagiku seorang guru bukanlah seseorang yang hanya mengajar di kelas, akan tetapi guru bagaikan orang tuaku sendiri. Seperti sosok Bu Bandiyah yang menganggapku seperti anaknya sendiri. Dialah guruku, yang tak hanya cerdas tapi juga teliti dalam segala hal. Ada satu kejadian yang paling aku ingat sampai saat ini. Kejadian itu membuatku tersadar akan karma seorang guru. Ya, balasan yang kualami saat ini dalam profesiku sebagai seorang guru pula.

Lima tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA, ada seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau sepertinya guru paling tua dan paling senior di sekolah faforitku. Bayangkan saja, walau pun usianya sudah mendekati senja, Bu guru yang sering disebut Bu Bandiyah itu memiliki semangat mengajar layaknya para pemuda di medan perang. Penuh semangat. Ya, Bu Bandiyah merupakan guru paling disiplin di kelasku, jangankan telat masuk kelas, lupa mengerjakan tugas rumah pun diberi sanksi yang setimpal. Berdiri satu kaki adalah hukuman paling ringan yang akan kami dapatkan jika tidak mengerjakan tugas-tugas dari beliau.

Siang itu Bu Bandiyah datang masuk kelas tepat setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Kebetulan pelajaran Bahasa Indonesia berada pada jam terakhir, hal itu membuat para penghuni kelas alias teman-teman sekelasku merasa jenuh. Apalagi setelah mengetahui materi yang akan diajarkan Bu Bandiyah siang itu adalah berpidato, kami pun mendengus semakin merasa bosan. Andai saja aku punya sayap, pasti aku sudah terbang meninggalkan kelas siang itu. Dan kuyakin teman-temanku merasakan hal yang sama sepertiku.

"Assalamualaikum," ucapan salam mulai terdengar dari balik pintu masuk. Kami para peserta didik termasuk aku terkesiap setelah mendengar salam tersebut,

"Waalaikumsaaalaaaaaam," sahut kami serempak.

Bu Bandiyah duduk di kursinya. Selanjutnya ia mengabsen kami satu per satu. Dan tanpa basa-basi, Bu Bandiyah langsung berdiri menuju papan tulis.

"Buka halaman enam puluh satu, perhatikan materi tentang pidato!" Perintah Bu Bandiyah sambil menuliskan sesuatu di papan tulis.

Salah satu temanku yang kebetulan duduk di samping kanan tiba-tiba mencubit lenganku.

"Aw...!! Sakit tau!" bisikku seraya mengerutkan dahi ke arah pemuda di sampingku.

"Eh, coba deh kamu perhatikan sepatu Bu Bandiyah," katanya.

"Kenapa?" tanyaku lalu beralih memandang sepatu bu guru yang tengah menulis di papan tulis membelakangi kami.

"Tuh, mentang-mentang sepatu baru. Sampe-sampe capnya belum sempat dilepas. Hahaha..." temanku pun tertawa. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

Setelah puas tertawa, kemudian pemuda bertubuh kurus itu mengeluarkan telepon genggam miliknya. Ia arahkan mata kamera ke arah Bu Bandiyah.

"Eh iseng banget sih! Dosa tau," kataku mencoba mencegah pemuda di sampingku.

"Hahaha, buat seru-seruan aja kok. Nanti kita sebarin ke anak-anak lewat bluetooth. Hahaha..." dia malah makin terbahak.

Dan benar, setelah memotret, pemuda itu menyebarkan foto Bu Bandiyah pada teman-teman yang lain. Sontak seluruh kelas tertawa dengan ulah pemuda bandel tersebut. Kuakui walau aku tidak begitu suka dengan perbuatan dia, tapi entah mengapa aku juga malah ikut tertawa.

Kembali aku teringat kata pepatah "Siapa yang menanam, pasti dia yang akan menuai hasilnya". Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di dunia ini pasti ada balasannya, karena itu sudah sunnatullah dari Sang Pencipta. Kini, setelah lima tahun yang lalu aku menertawai guru mata pelajaran Bahasa Indonesiaku, aku mendapatkan balasan dari apa yang telah kuperbuat dulu. Aku yang telah menjadi guru pun harus mau merasakan ujian seperti Bu Bandiyah dalam menghadapi peserta didikku. Ya, beberapa bulan yang lalu, ketika aku sedang mengajar di depan kelas, tiba-tiba seorang murid memotretku. Tentu saja tanpa sepengetahuanku. Aku pun mengetahui peristiwa itu ketika siswa-siswa yang lain berebut handphone berisi gambarku. Aku hanya tersenyum menghadapi peristiwa itu. Sempat terlintas di benakku "Inikah balasan untukku??"


Sampang, Tanah Garam, 13 Juni 2012 kala senja.
***

Tentang Penulis
Aswary Agansya mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober 1987 ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com serta www.aswarysampang.blogspot.com

Bakar Ikan di Malam Perpisahan (Catatan Akhir KKN-ku di Desa Kramat)

Seusai shalat Maghrib, aku duduk di bibir tangga musholla depan balai desa. Sejenak aku termenung menikmati sisa-sisa senja yang indah merona. Langit yang mulai meredup itu seakan memberikan energi berbeda dihatiku, didadaku. Kutatap saja lukisan malam Tuhan sambil diiringi suara indah anak-anak mengaji di dalam Musholla. Sejuk, damai dan tentram, itulah yang kurasakan kala lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menyapa telinga dan hatiku.

"Ayo cepat ngumpul..! Siapkan batu-bata untuk tempat panggang ikan, takut Pak Zaini keburu pulang" seru salah seorang teman yang sudah berada di balai desa.

Aku terkesiap mendengar panggilan itu. Tanpa pikir panjang kupakai sepatu dan beranjak mendekati teman-temanku. Ya, malam itu adalah malam perpisahan program KKN-ku di desa Kramat, Tlanakan Pamekasan. Setelah hampir sebulan aku berkutat dengan berbagai program yang telah direncanakan mulai dari berkumpul dengan aneka sapi, datang ke rumah warga dengan jalan kaki, hingga mengajar ke sekolah-sekolah swasta di sekitar desa pun telah kami lalui. Kini semua kegiatan itu sudah berakhir, berada di ujung sebuah perpisahan. Berbagai kenangan indah telah tergores dan tersimpan dalam sejarah hidup kami, terutama di perjalanan hidupku.

Salah satu peristiwa yang paling kuingat adalah saat melakukan program inti yaitu suntik sehat sapi. Kebetulan hari itu kegiatannya dilakukan secara door to door, kami datang menuju kandang satu ke kandang lainnya dengan membawa suntikan dan langkah penuh ceria. Saat kami berkunjung ke rumah pertama, ternyata sang pemilik rumah harus dengan susah payah mengeluarkan sapinya dari dalam kandang karena ternyata sang sapi tengah ketakutan. Sekuat tenaga wanita setengah baya itu menarik dan membujuk si sapi (hehehe, kayak bayi aja ya pake dibujuk segala).

Nah, setelah dengan susah payah perempuan setengah baya yang mengaku bernama "Suimah" (Hmm, namanya mirip Soimah si artis papan atas yang katanya pemilik acara menggelora dan membahana itu loh. Hahaha, ups!! Lanjut aja ya), dia pun mengikat tali di sebuah pohon dekat rumah kayu miliknya. Selanjutnya Suimah mengelus sapinya dengan lembut. Tapi tiba-tiba bulu sapi itu beterbangan ke arah kami. Sontak kami menghindar. Menurut informasi yang kami dapat, apabila bulu-bulu halus itu kena hidung, akan menimbulkan sesuatu yang sedikit berbahaya. Jadi, untuk lebih waspada, dengan lihai kami langsung menghindar. Jujur saja, selama aku hidup di Sampang, baru siang itu aku melihat bulu sapi bisa rontok gara-gara gugup. (Hahahaha... Gugup karena liat cowok-cowok ganteng kali ya,,)


Oh iya, saking gugupnya si sapi tersebut, saat teman kami memegang ekor hendak mengarahkan jarum suntik, malah hewan berkulit coklat itu mengeluarkan kotorannya tanpa permisi. Kotorannya pun encer (hiiii jijay buanget!!)

"Bu, sapi ini ternyata diare," kata temanku.

"Oh ya?" tanggapan Bu Suimah singkat sambil menganggukkan kepalanya.

"Nah, kalau bisa Ibu ambil beberapa helai daun jambu dicampur sedikit kunyit, lalu berikan pada sapi ini supaya diarenya cepat sembuh," jelas temanku dengan raut muka serius.

"Ya, ya, biar nanti saya beri seperti yang anda katakan, terima kasih informasinya,"

"Terus, jika si sapi nggak mau dikasi ramuan tadi, ganti saja dengan teh." kata temanku lagi. Bu Suimah pun kembali mengangguk. Karena geram, tiba-tiba aku pun nyeletuk,

"Hm, kalau masih nggak mau dikasi teh, biar praktis mending kasi diapet aja bu. Diare mampet, aktivitas pun lancar!"

semua teman-temanku pun tertawa termasuk Bu Suimah. Aku juga tertawa sambil memegang perut penuh geli. Canda tawa penghilang lelah senantiasa menghiasi langkah kami dari rumah satu ke rumah yang lain.

Itulah salah satu peristiwa lucu di tempat KKN_ku. Masih banyak cerita lain yang lebih ceria dan lucu namun tidak bisa kuceritakan satu per satu. Yang jelas, memang benar kata teman-temanku bahwa KKN adalah salah satu kegiatan yang tak dapat dilupakan dimasa-masa kuliah.

Akhirnya, di malam perpisahan itu, aku dan teman-temanku sibuk menyiapkan arang untuk memanggang ikan dan makan bersama beralaskan daun pisang. Apalagi dinaungi langit malam yang ditaburi ribuan bintang gemintang. Oh, benar-benar tak terlupakan.

Sampang, 21052012
Menjelang Senja
***

Jumat, 27 April 2012

Cerpen komedi: Kepincut Idola (Naskah yang gak lolos lomba)



Hai saudara-saudara sekalian, apa kabar? Kali ini aku punya cerita nih. Ceritanya begini, pada hari minggu aku ikut ayah ke kota. Naik delman istimewa, dan ku duduk di muka. Ku duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendali kuda supaya baik jalannya. Eit, kok lama-lama seperti lagu anak-anak ya? Hm, sorry deh sorry, masa kanak-kanakku kayaknya kurang bahagia kali ya. Oke deh cerita yang lain aja ya, kamu mau tahu nggak? Lucu loh... Bener? Bener nih mau tahu?

Cekidot please...

Sore itu tepat hari kamis, seusai gerimis menyapa kota Surabaya, aku dan Sarimin baru saja pulang dari nonton bioskop yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahku. Dengan santai kedua tangan kami melenggang kangkung seperti penari profesional turun dari angkutan umum sambil senyam-senyum. Senyuman kami pun mengembang penuh ceria bagai orang gila di tengah jalan. Semua itu refleks kami lakukan sebagai ungkapan puas atas film yang kami tonton.

Film yang telah kami tonton tak lain dan tak bukan adalah film Indonesia bergenre horor yang tengah meledak di pasaran, yang membuat film itu spesial adalah pemeran utamanya diperankan seorang artis cantik bernama Dewi Berisik. Eh salah, maksudku Dewi Perssik (hehehe sorry deh, lidahku keseleo gara-gara keenakan makan lolipop nih. Hemm nyamiiiy).

Hm, tahu nggak siiiiihhh????? kenapa aku dan Sarimin ngebet banget nonton film horor yang serem tadi? Hayo pasti anda saudara-saudara sekalian nggak ada yang tahu, atau malah heran bin penasaran alasannya kenapa. Iya kan? Ngaku aja deh, aku nggak akan marah kok (Kikikikikiki...).

Kalau boleh aku bagi-bagi rahasia, aku akan bagi rahasia tentang sahabatku yang bernama Sarimin itu. Hm, diam-diam Sarimin ngefans banget loh sama si pemeran utama film "Tali Pocong Perawan" tersebut. Maka dari itu, si Sarimin rela mati-matian mentraktirku makan mie ayam dan bayarin tiket nonton sang idola. Bukan hanya itu, Sarimin juga rela jalan kaki dan berangkat lebih awal dari jam penayangan demi artis idolanya. Benar-benar sebuah pengorbanan besar untuk sang idola.

"Kemana... kemana.... kemana...." kata Sarimin coba menirukan Ayu Ting Ting menyanyikan lagu dangdut berjudul "Alamat Palsu".

Aha! Telingaku mulai mekar nih.

"Kesana kemari membawa alamat. Tetapi mereka bilang tidak tau. Sayaaaaang mungkin diriku telah tertipuuu...."

Telingaku kembali mekar. Bahkan semakin mekar saja. Bukan berarti terpesona dengan suara Sarimin, malah telingaku mekar lantaran gerah mendengar suara itu, jelas sekali suara Sarimin sangat jauh berbeda, nggak sama persis seperti suara si neng Ayu Ting Ting. Yang ada, menurut komentator ajang pencarian bakat di televisi yang sering kulihat sih suara Sarimin penuh dengan vibra kambing, benar-benar menyebalkan! Nggak pantas sedikitpun untuk menjadi penyanyi dangdut! (hihihihihihi).

"Parmin, tahukah kau perasaanku sekarang?" tanya Sarimin ketika menghentikan nyanyiannya dan berjalan memasuki sebuah gang.

Eit, tunggu dulu. Sebelum melanjutkan ceritaku, rasa-rasanya aku sampai lupa memperkenalkan siapa diriku. Kalau begitu perkenalkan, namaku Parmin, lengkapnya Suparmin, lebih lengkapnya lagi Suparmin Aja Gitcu loh, Sedangkan sahabatku bernama Sarimin, lengkapnya Sarimin Bin Suhaimin. Hampir mirip kan nama kami berdua? (Ha ha ha, kayak Upin Ipin saja ya pake mirip-miripan segala. Hufftt...).

Entahlah. Kalau boleh curhat sedikit sih, aku nggak tau sejarah pemberian namaku itu. Padahal, jujur saja, aku nggak begitu suka dan nggak akan pernah bangga memiliki nama Parmin. Nggak gaul sih...!

Seandainya saja Ibu dulu memberiku nama Lee. Ya kayak Lee personel "Hits" boyband Indonesia itu tuh... Lumayan kan banyak cewek-cewek yang mengejarku. Buka baju aja udah diteriakin cewek-cewek, apalagi senyum dan nyamperin mereka, pasti semua cewek klepek-klepek melihat tampangku yang aduhai cucok ini. Dan tentunya aku juga nggak akan menyendiri seperti saat ini kali ya (Hi hi hi, ngarep banget).

"Hei! Kau mendengar kata-kataku nggak sih, Parmin?!" teriak Sarimin mengagetkanku. Saking kagetnya, sampai-sampai permen yang kumakan tertelan begitu saja, membuatku batuk bak orang tua yang mendekati uzurnya.

"Huk! Uhuk! Uhuk! Ahak!"

"Min, Parmin. Kenapa kau batuk-batuk?" tanya Sarimin sambil mengelus-elus punggungku.

Aku tak sempat menjawab pertanyaan Sarimin. Boro-boro mau menjawab, bau ketek Sarimin mulai beraksi menusuk hidungku, sehingga mulutku mendadak batuk-batuk tak karuan. Aku heran, kenapa sih Sarimin memelihara bau ketek yang super duper menyebalkan itu? Mendingan memelihara ayam atau kambing seperti bapakku, kan lumayan tuh daripada bau tak sedap di kedua keteknya. Kalau memelihara ayam bisa panen telurnya, atau kalau memelihara kambing bisa laku keras saat musim Qurban tiba. Tapi kalau memelihara bau ketek bisa panen apa? Panen bau busuk kali ya. Hiiii... Jijay markijay bo!!

Sumpah! Bau ketek Sarimin memang sangat menusuk hidungku. Kalau menyengat dengan aroma terapi sih nggak jadi masalah, tapi ini, huh! Ada asem, kecut dan busuk. (Permen kali ya rasanya campur-campur). Eh, tapi bener loh, kalau band Indonesia ada yang menyanyikan lagu 'Cinta ini membunuhku' kali ini malah ketek Sarimin yang hampir membunuhku.

Daripada mati berdiri, mending aku istirahat saja dulu di sebuah warung, guna membeli sebuah minuman untuk mendorong permen yang sempat nyangkut di tenggorokanku. Selain itu, ya siapa tahu ketek Sarimin juga bisa dikeringkan sejenak dari genangan keringat kotornya, sehingga bau bangkai busuk yang menempel pun hilang. Hiiii... Uwekk!

"Duh Parmin, kenapa kau mampir ke warung ini sih? Rumah kita kan udah deket banget." Kata Sarimin ketika batukku sudah sedikit reda.

"Loh, gimana kau ini Saaarr, Sar! Kalau aku minum di rumah, bisa-bisa aku mati berdiri tau," sahutku sambil melirik Sarimin.

"Oyeah? Kenapa bisa mati berdiri? Ibumu mau membunuhmu? Wah gawat tuh, siap-siap lapor polisi, kawan!"

"Aduh, kamu ini dodol banget ya Sar. Mana mungkin seorang ibu akan membunuh anaknya sendiri? Ya nggak mungkinlah... Apalagi anak seimut aku."

"Hah, imut dari mana? Yang sebenarnya imut tuh aku, seperti pantun mengatakan, Ada Gula Ada Semut, gila gue imut."

"Ya kamu memang imut kayak marmut."

"Huuuuu..... Terus kenapa dong?" tanya Sarimin sok lugu.

"Eh cumi, aku tuh minum di sini untuk meredakan batuk akibat makan permen. Kalau harus menunggu minum di rumah, bisa-bisa aku mati berdiri disini. Begitu, dodol..."

"Ah, cuma batuk biasa aja bisa mati. Payah kau ini. Lebay" kata Sarimin enteng seakan-akan tak berdosa.

"Lebay apanya? Kamu tuh yang lebay,"

"Yaiyalah. Mana ada orang tiba-tiba mati berdiri akibat makan permen. Nggak ada sejarahnya tuh! Itu yang kumaksud lebay."

"Ya bisalah, selain tertelan permen, aku juga mual gara-gara... Ah sudahlah, ayo kita pulang. Aku mau mandi. Gerah!" kataku mengalihkan pembicaraan.

Padahal, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku mual gara-gara bau bangkai busuk yang berasal dari kedua keteknya. Tapi kuurungkan demi menjaga perasaan Sarimin. Maklum, dia adalah satu-satunya sahabat yang masih setia bersamaku dan mendampingiku. Jadi aku harus mempedulikan perasaannya walaupun sebenarnya aku tengah emosi mendengar kata-katanya.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Sarimin terperanjat dengan pandangan mata tertuju ke bawah. Kali ini aku yang keheranan melihat gerak-gerik sahabatku itu. Mata Sarimin terbelalak hebat, seakan-akan bertemu setan yang menakutkan. Secepat kilat Sarimin memungut sebuah kain panjang berwarna putih kecoklatan. Ya kira-kira ukurannya empat puluh sentimeter gitu deh. Pemuda itu pun loncat-loncat kegirangan seperti anak-anak balita yang mendapatkan mainan.

Sebenarnya gerak-gerik Sarimin lebay dan condong berlebihan deh. Bagaimana tidak, barang jelek, kusut, bau yang ditemukan itu malah dipeluk dan dicium-cium seperti menemukan harta karun. Andai ada orang yang melihat Sarimin, pasti aku akan merasa malu besar memiliki teman lebay seperti dia. Untung saja tak ada satu orang pun yang melihat pemuda itu lompat-lompat.

"Apa-apaan sih kau ini, Sar. Kain jelek itu kok malah dicium-cium gitu, nggak jijik apa?" kataku.

"Tau nggak Parmin. Aku yakin kain ini adalah tali pocong perawan yang terjatuh," jawab Sarimin dengan entengnya.

Aku terkejut bercampur geli. Sontak mulutku tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sarimin.

"Hahaha! Mana mungkin ada tali pocong di perkotaan seperti ini? Kau terkontaminasi film tadi ya? Janganlah mengada-ada kau Sarimin. Huahahaha,"

"Duh, percayalah Parmin. Percayalah padaku. Aku yakin dengan tali pocong ini aku dapat menemukan belahan jiwaku. Gadis cantik seperti Dewi Persik yang selama ini aku impikan. Percayalah kawan," tegas Sarimin percaya diri. Bukannya yakin, malah aku semakin geli mendengar kata-kata pemuda kurus itu. Sok puitis. Sok Narsis. Ah, sudahlah! Kami pun pulang.

***

Malam harinya, aku mengajak Sarimin tidur di rumahku. Sesampainya di rumah dari nonton bioskop, ternyata Ibu dan Bapakku mendadak pergi ke Malang karena ada saudara yang sakit keras. Jadi di rumah tinggal aku sendiri deh. Dan malam itu Sarimin kuajak tidur di kamarku. Aduh tahukah anda saudara-saudara, malam itu aku tak bisa tidur dengan tenang. Ada suara-suara aneh yang terus menghantui telingaku sehingga ketenangan malamku terus terusik.

Dari manakah suara itu berasal? Bisakah saudara-saudara sekalian menebaknya? Ting tung ting tung duaaarrr!!! Yup, benar! Suara aneh itu berasal dari mulut si Sarimin yang tidur di sampingku. Pemuda itu ngorok bagai babi ngepet yang lama tidak diberi makan majikannya. Suaranya membahana ke seantero celah kamar. Mana mulut Sarimin juga bau. Uh Sumpah! Lengkap banget ya penderitaan si Sarimin. Ketek bau, mulutnya pun begitu. Ahay, kagak nahan baaaang...

"De.... Dewi. Aku suka kamu Dew. Jadikanlah aku kekasihmu, oohh..." igau Sarimin, tiba-tiba, membuatku terperanjat kaget. Kutatap lekat-lekat wajah pemuda di sampingku itu. Rupanya Sarimin tengah memimpikan sang idola. Buset dah, secara tidak langsung Sarimin telah menyiksaku. Menyiksa malam yang seharusnya tenang dan damai untuk beristirahat.

Ya ampiiuuun, sampai subuh pun mulut Sarimin belum juga berhenti berdering alias ngorok. Dan Sarimin tidak menyadari perbuatannya sedikit pun. Benar-benar mengecewakan. Terpaksa aku beranjak bangun dan sholat subuh. Tepat pukul enam pagi, Sarimin bangun dari tidurnya. Aku memang sengaja tidak membangunkannya karena aku mau tidur di sofa ruang tamu seusai sholat subuh. Eh, belum genap satu jam memejamkan mata, tiba-tiba saja Sarimin datang membangunkanku.

"Hei ayo bangun! Jangan tidur melulu. Daripada tidur, mendingan dengerin nih cerita tentang mimpiku tadi malem. Ayo bangun Parmin, bangun!" Seru Sarimin menggoyang-goyangkan tubuhku. Aduh, aku benar-benar kesal dengan kelakuan Sarimin! Aku tersiksa di rumahku sendiri.

"Aduh Sar! Aku baru tidur jam lima pagi tau! Jangan ganggu aku ah,"

"Bangun dulu. Udah pagi nih. Coba kau dengarkan dulu ceritaku. Tadi malem aku mimpi bertemu sama Dewi Persik. Sumpah, dia cantik banget, Parmin." jelas Sarimin tak menghiraukan kekesalanku. Aku hanya diam menanggapi kata-katanya. Mataku seakan tak bisa dibuka lagi.

"Aku yakin tali pocong yang kutemukan kemarin sore itu akan memberikan kejutan sehingga mempertemukan aku dengan si Dewi," lanjut Sarimin lagi.

"Wah Sar, jodoh itu ada di tangan Tuhan. Bukan dari kain jelek yang kau pegang itu! Pagi-pagi jangan ngelantur ah." sergahku dengan mata setengah tertutup. Belum sempat Sarimin menjawab, tiba-tiba saja ada suara gaduh di depan rumahku. Pelan-pelan kuperhatikan, sepertinya ada beberapa tetangga yang sedang ribut deh. Karena rasa penasaran mulai muncul dan merasuki otakku, kami berdua pun keluar untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.

Seorang wanita setengah baya memarahi ibu tetangga depan rumah.

"Mana kain putih yang dicuri anakmu! Kembalikan padaku. Itu sangat penting buat anakku si Dewi. Ayo mana kembalikan bu," gertak perempuan setengah baya itu.

"Kain putih apa ya bu? Anak saya nggak merasa mengambilnya, bentuk kainnya saja kami nggak tau tuh bu," bela ibu depan rumah.

Mendengar kata kain putih, aku jadi teringat sesuatu. Otakku langsung tersambung dengan kain yang ditemukan Sarimin kemarin sore. Secepat kilat aku merampas kain kotor yang dipegang Sarimin. Lalu aku bergegas menemui segerombolan wanita yang tengah ribut tadi.

"Tunggu, tunggu, maaf mengganggu. Apa yang kalian maksud kain ini?" tanyaku seolah-olah pahlawan yang membawa kedamaian di pagi buta. Ya! Pahlawan tanpa tanda jasa.

"Oh jadi kamu yang mengambil kain itu, Parmin?" kata wanita itu menatapku garang dan terbelalak.

Aku kaget.

Sarimin tergopoh-gopoh datang menghampiriku.

"Buu, bukan. Kemarin Sarimin yang menemukan kain ini di depan warung bu Salma, memangnya buat apa kain busuk ini, bu?" kataku mencoba menjelaskan.

"Ini kain kesayangan anakku tau. Kain ini digunakan untuk menutup mulut Dewi kalau sariawan. Sini kembalikan,"
Gleeegggg!!!

Mendengar penjelasan wanita itu, sontak aku tertawa lepas ke arah Sarimin. Sarimin yang tadinya girang berubah salah tingkah, mukanya mulai pucat. Hahaha, rupanya kain yang dianggap tali pocong perawan oleh Sarimin itu salah besar. Malah kain itu penutup bibir anak wanita tadi, si Dewi Berisik. Maklum, gigi sang Dewi Berisik maju melewati batas bibir atasnya. Jadi kain busuk itu sebagai penutup mulut Dewi Berisik saat sariawan.

Ha ha ha, pantesan kemarin baunya busuk sekali, jadi itu dikarenakan bercampur ludah Dewi Berisik? Hiii...Sarimin pun memerah dan pulang tanpa kata. Malu.
***