Selasa, 25 Juni 2019

Jejak di UWKS


Setiap pengalaman pasti menorehkan kenangan di hati kita. Setiap tempat pasti menyimpan seribu cerita tatkala kita datang mengunjunginya. Seperti itulah kira-kira yang aku rasakan ketika mengunjungi sebuah tempat yang akan aku ceritakan dalam postingan kali ini.

Nama tempatnya adalah Kampus UWKS alias Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Lho? Kok UWKS? Memangnya ada apa di sana? Hihihihi.....

Oke-oke, sebenarnya aku ke UWKS itu atas dasar sebuah ketidaksengajaan. hah? Yup, Sekitar bulan Maret 2019 lalu aku menemukan informasi tentang lomba baca puisi di media sosial. Tanpa membaca secara detail, kubagikan info itu di grup whatsapp sekolah tempatku mengajar (MA Nurudz Dholam Kedungdung), dan saat itu tidak ada satu anggota pun yang merespon kiriman tersebut. Aku juga tidak menanggapinya secara serius. Toh, membagikan informasinya saja cuma iseng, pikirku. Akan tetapi setelah beberapa hari berlalu, kepala sekolah memintaku memilih beberapa orang siswa untuk diikutkan dalam lomba tersebut. Tak pelak aku terkejut mendengarnya  dan mengecek lokasi lomba yang ternyata di kota Surabaya.

Aku coba memberikan pertimbangan kepada kepala sekolah tentang lokasi dan biaya yang akan dikeluarkan. Namun tampaknya pak kepala sekolah sudah yakin dan akan membiayai semua akomodasinya. Maklum, kupikir karena sekolah kami letaknya di tengah pedesaan. Serta masih kategori "sekolah baru" pula. Namun aku salut dengan semangat pihak sekolah yang ingin memajukan lembaga pendidikan ini. Sehingga singkat cerita terpilihlah 4 orang siswi bernama Elsa Mayori, Nur Fadila, Hofifah, dan Maulidia yang akan kami kirim ke Surabaya mengikuti lomba baca puisi tingkat Jawa Timur. FYI, kebetulan pada bulan Desember lalu Elsa Mayori pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat kabupaten Sampang (acara Aksioma) juara 2. Atas dasar itulah kami berharap lomba di UWKS bisa meraih keberuntungan yang sama seperti pengalaman sebelumnya.

Lomba dilaksanakan pada tanggal 9 April 2019. Yang paling mencengangkan, kami harus berada di lokasi lomba tepat pukul 07.15 WIB. Di sinilah kisah kami dimulai... Sebuah perjuangan (cukup) panjang kami lalui sebagai pengalaman baru sekolah kami...

Sebelumnya, FYI lagi, sekolah kami terletak di pedalaman desa Kedungdung, Sampang. Tepatnya di daerah dusun Bejuh yang jika pembaca mau ke sana butuh perjuangan karena selain jalannya berbatu (saat tulisan ini dibuat), dan terkadang tanjakan serta turunan. Kanan-kiri perpaduan sawah dan ladang dengan dihiasi pohon-pohon liar. Tapi meski begitu, sekali lagi semangat peserta didik untuk menuntut ilmu perlu diacungi jempol alias tak perlu diragukan lagi. Semangat yang membara dari lubuk hati terdalam, insyaallah. Maka dari itu, untuk tiba di Surabaya pagi hari, tepat pada tanggal 9 April 2019 kami perlu berangkat pukul 3 pagi dari Sampang. Ketika sang matahari pagi belum benar-benar keluar dari peraduannya.

Perjalanan di pagi buta menuju Surabaya itu cukup lancar, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya yaitu macet di beberapa titik jalan. Tepat setelah adzan Subuh berkumandang, kami tiba di kawasan Surabaya Utara, dan untuk sholat Subuh kami mampir di masjid As-Shiddiq Jl. Kedung Cowek yang lokasinya kurang lebih hanya 1,5 kilometer dari jembatan Suramadu. Sesekali ada beberapa orang yang mandi pagi dan mempersiapkan diri di sana. Begitu selesai, kami langsung menuju lokasi perlombaan.

Foto di kawasan Islamic Center Surabaya
Rupanya pukul 6.30 kami tiba di sebuah kawasan Islamic Center Surabaya. Berhubung perut kami sudah lapar, kami memutuskan untuk singgah di Islamic Center Surabaya untuk sarapan sekaligus mengganti pakaian bagi peserta didik yang ikut lomba baca puisi. Kami mengisi perut di halaman luar gedung layaknya pengungsi duduk lesehan dekat parkiran. Walau dalam kesederhanaan, kami tetap semangat mengisi perut dan menambah pengetahuan. Yup, seusai makan, sesekali kami keliling lokasi Islamic Center sembari mengabadikan momen tersebut dalam mata kamera ponsel. Kami baru tahu ternyata gedung tersebut bukan hanya gedung serbaguna, tapi juga tersedia penginapan. Hanya 15-20 menit saja kami singgah di sana, karena kami harus kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari lokasi kampus UWKS secepatnya.

Bersyukur kami tiba sesuai perkiraan, yaitu 15 menit sebelum pukul 07.30 wib. Panitia memberikan arahan untuk daftar ulang dan mengambil nomer undian tampil. Saat itu kami tahu bahwa peserta berjumlah sekitar 110 orang dari berbagai sekolah se-Jawa Timur. Ada yang dari Malang, Banyuwangi, Sidoarjo, dan tentu saja Surabaya. Jika dari Madura, sepertinya hanya sekolah kami saja. Sebuah doa terbersit di benak saya selaku guru pendamping, semoga anak didik kami masuk jadi juara. Amin.

Aula Kampus UWKS


Keikutsertaan kami dalam lomba baca puisi tersebut sebenarnya untuk mengasah rasa percaya diri untuk tampil di depan umum. Selain itu juga ingin mendapatkan pengalaman lebih dari sebelum-sebelumnya. Jika Allah memberi rezeki kami bisa meraih juara, itu adalah bentuk hadiah terindah dari-Nya. Intinya, kalau menang Alhamdulillah, kalah juga harus tetap semangat. Alias harus tetap bersyukur alhamdullilah juga. hehehe...

Elsa sebagai penampil pertama dari keempat keempat peserta yang kami bawa, yaitu dengan nomer dada 18. Nur Fadila kebagian nomer dada 24, Maulidia 34 dan Hofifah di nomer 44. Keseluruhan penampilan mereka bagus. Sungguh diluar dugaan, karena ternyata mereka lebih percaya diri jika dibandingkan saat latihan. Mungkin karena dalam aula tersebut berkumpul para pesaing, sehingga muncul aura-aura persaingan di hati peserta didik yang berefek memompa semangat peserta didik kami untuk menampilkan yang terbaik.

Dari 110 peserta dipilih sekitar 20 orang untuk tampil di babak kedua, dan harus menampilkan pembacaan puisi pilihan. Peserta didik kami harus bisa berlapang dada karena tidak bisa masuk ke babak 20 besar. Kecewa? Mungkin iya. Tapi seperti yang saya katakan tadi, kalah menang harus tetap semangat. Kami keluar ruangan dengan senyuman terukir di wajah. Sebuah pengalaman baru telah terekam di benak kami semua. Sebelum bertolak ke Sampang, kami sempatkan keliling halaman kampus untuk menambah inspirasi dan pengetahuan, karena secara kebetulan hujan turun dengan begitu lebat. Kami menganggap hujan itu adalah Rahmat dari Allah.

Ziarah ke makam Sunan Ampel adalah penutup perjalanan kami hari itu, tentu saja sebelum benar-benar kembali ke Sampang Madura. Inti dari perjalanan kami hari itu, pengalaman adalah pelajaran berharga dalam hidup kita. Pengalaman tak bisa tergantikan oleh uang. Tak tergantikan dengan apapun. Tekad kami saat dalam perjalanan pulang, "Semoga tahun depan kami bisa membawa piala kejuaraan lomba puisi tersebut ke Madura!".
Amin.

Sampang, Juni 2019.
***

Depan pintu masuk Aula UWKS
 
Depan kampus UWKS
Kawasan Islamic Center Surabaya
Kawasan Islamic Center Surabaya


Senin, 13 Mei 2019

Unsa Ambassador 2019 with MA Nurudz Dholam (Latepost)



Hai, apa kabar? Duh betapa rindunya aku karena sudah lebih dari setahun nggak pernah posting tulisan di blog. Hehehe, maklum, sok sibuk 😥 Eh tapi beneran sibuk loh. Sibuk sama tunangan, nikah dan berduaan dengan kekasih halal, hehehe... Yup, bisa jadi inilah postingan pertamaku setelah aku menikah. Duh, padahal nikahnya udah 10 bulan lalu 😒 Alhamdulillah bulan ini (April) putri pertamaku lahir. Ah sudahlah, malah curhat... 😝

By the way, kali aku (lagi-lagi) mau share pengalaman perjalanan akhir Januari 2019 lalu nih. Haha, telat banget ya postingnya. tapi nggak apa-apa deh daripada nggak ada sama sekali khan? ngeles. Tepatnya perjalanan menemani beberapa siswaku yang hendak menghadiri acara kepenulisan di Surabaya. FYI, perjalanan kali ini aku bersama siswa kelas X di MA Nurudz Dholam Kedungdung-Sampang, tempat kerja baruku sejak awal tahun ajaran baru 2018-2019 lalu. Tahun ini aku mengajar di dua sekolah sekaligus dengan pembagian jadwal yang rapi, teratur, serta tidak mengganggu satu dan lainnya. Kakakakakakakakak detail banget kan jelasinnya😙

Kegiatan menghadiri acara kepenulisan ini sebenarnya sudah direncanakan cukup lama, sekitar bulan November 2018 lalu. Tapi berhubung tidak semua siswa bisa diajak, maka kami selaku guru mencoba menyaring beberapa siswa dengan mengadakan lomba cerpen antar kelas. Penulis cerpen terbaik akan diberi reward menghadiri acara kepenulisan tahunan di Surabaya yang diselenggarakan oleh grup menulis UNTUK SAHABAT. Dan terpilihlah enam orang tersebut yang bernama Elsa Mayori, Maisaroh, Nafila, Nur Fadilah, Hofifah, serta Wasilah.

Tepat pukul 6 pagi, Minggu 27 Januari 2019 kami berangkat dari Sampang Madura menuju Surabaya. Sebelum menuju lokasi acara yang kebetulan diadakan di salah satu mall Surabaya yaitu BG Junction, aku dan beberapa guru mencoba berkunjung ke suatu tempat yang ada hubungannya dengan perbukuan. Yaitu, ke sebuah kawasan bernama Kampung Ilmu Surabaya. Seperti yang sudah pernah saya posting sebelumnya, bahwa Kampung Ilmu Surabaya adalah sebuah pusat pelapak buku bekas di Surabaya dan sekaligus tempat untuk beberapa kegiatan kesenian lainnya.

Foto saat siswa mewawancarai salah satu pelapak
foto saat siswi Nurudz dholam mewawancarai salah satu pelapak buku di Kampung Ilmu Surabaya

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 8 pagi. Kebetulan para pelapak sudah banyak yang membuka kios buku dagangannya. Aku mengajak siswa mengunjungi aula terlebih dahulu, karena dari tempat parkir aku melihat sebuah tulisan tentang adanya kegiatan pameran lukisan di sana. Mungkin ini salah satu keberuntungan kami karena ternyata hari itu adalah hari terakhir pameran lukisan itu digelar. Bersyukur kami bisa meliput serta bisa mewawancarai salah satu pelukis untuk dijadikan bahan Mading sekolah kami. Bahkan kami bisa berfoto bersama semua pelukis yang terlibat dalam acara tersebut.

Foto bareng para pelukis
Pengetahuan bisa kita dapat dari melihat karya seni seperti lukisan, kerajinan tangan, bahkan dari berbagai jenis tulisan alias buku. Right, begitu selesai mewawancarai para pelukis muda tersebut, kami beralih menuju kios buku-buku. Tentu saja untuk membeli beberapa eksemplar dan mewawancarai penjualnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.40 wib. Bagaimanapun juga, aku harus mengingatkan peserta didik untuk mengakhiri safari  buku demi mengejar waktu untuk menghindari acara inti.
Rupanya kedatangan kami disambut dengan senyum kerinduan dari beberapa sahabat yang sudah cukup lama tak bersua. Teman-teman seperjuangan kami dalam dunia literasi tampak bahagia karena acara tahunan itu rupanya bisa mempertemukan kami kembali. FYI, aku tergabung dalam grup kepenulisan UNTUK SAHABAT sejak tahun 2011 lalu. Itulah mengapa kami merasa bahagia karena bisa bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Dengan kata lain, acara ini bisa dijadikan sebagai reuni tahunan bagi keluarga grup UNTUK SAHABAT.

Acara kepenulisan itu dilaksanakan secara tahunan di salah satu mall Surabaya yang digabung dengan acara grand final pemilihan duta menulis versi grup menulis UNTUK SAHABAT. Nominator tahun ini ada dua orang yang berasal dari daerah berbeda. Pertama bernama Ansar Siri yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan, dan yang kedua bernama Anggi Putri W, berasal dari Jombang, Jawa Timur. 

Ada yang spesial untukku di momen unsam kali ini, yakni aku menjadi salah satu juri. bangga dikitlah Alhamdulillah bisa menjadi bagian dari acara itu kembali setelah tahun 2016 lalu menjadi salah satu juri.
Salah satu siswaku yang bernama Elsa Mayori menjadi pembuka acara dengan pembacaan puisinya yang menusuk hati. Judulnya "Teguran Kalam Ilahi". Puisi itu pernah dibawakan dalam lomba baca puisi se-Kabupaten Sampang dan meraih juara 2. Semua peserta yang hadir terpukau melihat penampilan Elsa, yang bisa ditandai dengan hujan tepuk tangan yang ditujukan untuk Elsa begitu puisi itu selesai dibacakan. Sebagai guru bahasa Indonesia-nya, aku bangga bisa melihat peserta didikku bisa memberikan penampilan itu.


foto dari paparazi saat aku memperkenalkan diri sebagai Juri

Berlanjut ke acara penjurian, suasana menjadi tegang ketika grand finalis diberi pertanyaan oleh juri. Beruntung kedua grand finalis bisa menjawab pertanyaan dengan lancar dan memuaskan. Jujur, saya pribadi sudah punya pilihan siapa yang pantas menjadi pemenang tahun ini. Namun, berhubung keputusan bukan hanya tanggung jawabku saja, melainkan masih ada 4 juri lainnya, maka harus dimusyawarahkan dan mengambil suara terbanyak.

Beruntung sebelum pengumuman pemenang, peserta yang hadir diberi hiburan dengan hadirnya seniman yang menampilkan musikalisasi puisi dan diluncurkannya buku baru kumpulan cerpen grup UNTUK SAHABAT. Kira-kira pukul 14.30 wib para juri mengumumkan pemenang Unsa ambassador 2019. Pemenang utama diraih oleh Ansar Siri sementara rivalnya harus rela berada di posisi kedua yaitu Anggi Putri W. sekali lagi kami bersyukur bisa mengabadikan momen bersama para pemenang. Begitu acara selesai, kami langsung balik ke kampung halaman di Sampang Madura.

Harapanku, semoga dengan mengikuti acara seperti ini bisa memotivasi peserta didik untuk belajar dunia literasi. Semoga acara ini bisa menjadi agenda tahunan sekolah kami untuk menambah ilmu pengetahuan. Amin.


April, 2019.
***


Keluarga MA Nurudz Dholam berfoto bersama para pemenang dan owner grup UNSA

 

Kamis, 24 Agustus 2017

Seberkas Kenangan di Brukoh Hill






Hello guys, Alhamdulillah ketemu lagi dalam postingan kali ini. Semoga kita sama-sama sehat dan terus sukses ya. Amin.

Langsung aja deh, jangan kepanjangan basa-basinya, bisa-bisa malah nggak jadi nulis. Hehehe... Kali ini aku mau nunjukin lagi nih salah satu tempat wisata baru yang bisa kalian kunjungi saat liburan. Tentu saja wisata yang kekinian dan instagramable banget. Hehehe, lebay nggak sih, eh tapi itu beneran loh (pasang muka serius) lihat aja tuh fotonya... Nama tempatnya Brukoh Hill alias Bukit Brukoh.

Brukoh Hill berada di kawasan desa Pakong. Tepatnya di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Jarak dari kota Pamekasan ke Brukoh Hill kurang lebih sekitar 25-30 KM gitulah. Pokoknya kalau dihitung pakai jangka waktu, sekitar 20-30 menitan aja. Dekat kan? Yup, Dekat banget. Sebenarnya aku ke Brukoh Hill bisa dibilang ketidaksengajaan. Kok bisa? Yaiyalah, soalnya selama ini nggak ada niatan buat pergi ke sana. Jangankan niat, mikirin kapan aja nggak pernah.

Semua itu berawal dari seorang teman kuliah yang sedang menempuh S3 di Jakarta. Dia, mengirim pesan di grup WhatsApp bahwa akan pulang ke Madura beberapa hari saja. Dia ingin bertemu teman-teman sekaligus menciptakan momen unik misalnya makan-makan. Alhasil, sebuah keputusan pun muncul bahwa hari Minggu, 20 Agustus 2017, sebagian teman-teman kuliahku yang ada waktu luang, memilih makan bakso beranak di sekitar kawasan kota Pamekasan. (Untuk yang ini aku nggak kebagian. :P) Tapi salah satu dari antara mereka mengusulkan buat jalan-jalan di sekitar kota Pamekasan. Mungkin ke Brukoh Hill, katanya.

Bagai mendapat sebuah anugerah dari Allah, akhirnya aku mendukung usulan tersebut. Kupaksa teman-temanku untuk bisa ke tempat itu. Harus. Kapan lagi kan, pikirku. Soalnya kalau misalnya ini terwujud, aku nggak perlu pusing-pusing mikirin arah Jalan karena kebanyakan dari teman-temanku memang asli kota Pamekasan dan tentu saja akan tahu betul tentang arah menuju salah satu tempat wisata baru di Madura itu. Keuntungan kedua, kami bisa memiliki kenang-kenangan yang menandakan bahwa kami pernah bercanda bersama di tempat yang indah itu. Tentu saja momen langka bersama teman-teman kuliah alumni Universitas Madura yang sudah hampir 5 tahun nggak berkumpul bersama.


Sekitar pukul dua belas siang kami tiba di kawasan wisata Brukoh Hill, setelah melewati perjalanan yang pemandangan alamnya sungguh luar biasa indah, tentunya. Kawasan Pakong memang berdiri dari beberapa bukit dan dataran tinggi, sehingga jika kita melewati ruas jalan di kawasan ini pasti nggak akan pernah bosan menikmati panorama alam yang sejuk sekaligus asri. Jujur, selama aku tinggal di Madura, baru kali ini aku tahu daerah Pakong. Maklum, sejauh ini aku hanya tahu nama dan apa yang ada pada tempat itu hanya dari cerita teman-teman kuliah.

Dan aku baru tahu bahwa Brukoh Hill itu sebenarnya adalah lokasi berdirinya tower stasiun televisi TVRI. Hanya saja di beberapa bagian sudut halaman disulap menjadi sudut-sudut unik yang mampu mendatangkan pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar belakang perbukitan dan sawah dari ketinggian. Cukup menarik, menurutku. Dan cukup kreatif dalam mencari celah untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai salah satu daya tarik wisata baru di Madura, terutama untuk kota Pamekasan tentunya.

Oh iya, untuk tiket masuk, pengunjung cuma harus mengeluarkan sekitar Rp. 2000 - Rp. 3000 saja (eh, nggak tau ya, soalnya aku dibayari teman. Wkwkwkwkwk) dan juga dikenakan biaya parkir kendaran. Untuk urusan cemilan, ada beberapa warga yang menjual cemilan sebelum masuk kawasan wisata. Mungkin itu saja yang bisa kubagi buat kamu. Intinya, Brukoh Hill bagus dah, pokoknya. Cocok buat anak muda yang suka foto-foto dan mengabadikan di media sosial. Semoga bermanfaat ya...

Sampang, 24 Agustus 2017.
Kamar Inspirasiku.
Menjelang Pagi.







Agustus Event for Attaroqqi Tsani




Pagi ini, kota Sampang lagi rame guys. Banyak warga berbondong-bondong ke lapangan Wijaya Kusuma buat nonton Road Race. Maklum aja, sudah hampir lima tahun Sampang nggak mengadakan acara rakyat terutama yang disukai oleh kaum muda. Hehehe, tapi di postingan kali ini aku nggak mau bahas Road Race ya, (yaiyalah, kamu kan nggak nonton, As) karena aku mau posting beberapa kegiatan yang pernah diikuti sekolah tempatku mengajar selama Agustus ini. Yup, selain bisa dijadikan informasi secara umum, tulisan ini kujadikan sebagai review sekaligus simpanan kenangan bagi sekolah kami. Itu tujuan utamanya. Baiklah, langsung saja ya.

1. Lomba Gerak Jalan

Sejak satu Minggu awal masuk sekolah tahun ajaran baru, sekolah kami sudah mulai mempersiapkan siapa saja peserta yang akan diikutkan dalam lomba ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, lomba gerak jalan masih menjadi hiburan rakyat paling ditunggu warga kota. Khususnya di bulan Agustus. Selain menarik perhatian, (seolah-olah) ajang ini memberi kesan memperkenalkan keberadaan sekolah kepada masyarakat. Sehingga tak dapat dipungkiri jika lomba ini pesertanya membludak setiap tahunnya. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar, SMP, SMA serta peserta UMUM diikutkan. Namun untuk proses perlombaan dibagi dua hari. Hari pertama khusus SD, hari kedua SMP, SMA dan Umum.
Kebetulan sekolah kami mengeluarkan sepasang kelompok untuk diikutkan dalam acara ini. Satu kelompok putra, dan satu kelompok Putri. Sedangkan bagi tingkat SMP, sekolah kami mengeluarkan dua pasang kelompok, dengan pembagian dua putra, serta dua putri. Oh iya, masing-masing kelompok terdiri dari 17 orang saja. Meski pada akhirnya sekolah kami belum bisa menyabet juara, tidaklah masalah. Yang penting, sekolah sudah berani tampil, memeriahkan ajang terpopuler di kota Sampang, dan yang paling terpenting juga mengajarkan peserta didik untuk berusaha dan bersabar dalam berkompetisi.




2. Lomba Melukis

Kegiatan yang satu ini dilaksanakan di GOR Batminton Indoor Sampang yang terletak di jalan Manggis (Utara lapangan Wijaya Kusuma Sampang). Jumlah pesertanya tidak banyak, hanya 30-40an saja. Dan sekolah kami mengirimkan dua orang putra peserta didik. Mohammad Sofi dan Ach. Fuad Syaifullah. Tema lukisan yang diangkat adalah melestarikan budaya Madura. Sayang sekali lagi-lagi sekolah kami belum beruntung dalam ajang melukis karena memang harus kami akui bahwa peserta lain bagus-bagus.



3. Lomba Baca Puisi Bahasa Madura
Untuk lomba yang satu ini, saya selaku guru yang mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Madura cukup merasa bangga. Pasalnya dari 4 orang siswa yang kami kirim, 2 diantaranya masuk menjadi juara, yaitu juara pertama dan kedua.
Sebelumnya, lokasi lomba baca puisi ini dilaksanakan di GOR Batminton Indoor Sampang namun tiga hari sebelum lomba melukis dilaksanakan. Kami mengirim 4 orang peserta didik Putri. Masing-masing orang membawa puisi dengan judul berbeda. Di akhir acara, Siti Fitriya dinobatkan sebagai juara pertama, dan Tutik Alawiyah sebagai juara ke dua. Sementara Honiyeh dan Siti Fauzeh belum bisa meraih medali dalam perlombaan kali ini.


4. Lomba yang diadakan sekolah
Terakhir, kegiatan ini diadakan oleh sekolah kami sendiri. Pesertanya dua lembaga yang dinaungi yayasan yang sama yaitu yayasan Attaroqqi Tsani Sampang. Lomba-lomba yang diadakan cuma ada tiga, yaitu Lomba membaca Al-Quran, Makan Kerupuk, dan Lari Karung. Kegiatannya pun dilakukan di halaman sekolah selama satu hari. Cukup menarik, karena yang kami harapkan adalah menjalin keakraban antar peserta didik satu dengan lainnya.
Mungkin itu saja. Semoga bermanfaat dan menjadi ladang amal bagi kita semua dalam menyebarkan informasi positif.


Sampang, 20 Agustus 2017
Saat Matahari Terbit
***