Rabu, 02 September 2015

Secuil Kenangan di Kampus Fiksi 13



"Punya teman seribu orang masih kurang, punya satu musuh sudah terlalu banyak."

Kalimat itu menyihirku, benar-benar menyihirku. Sebagai seorang pemuda yang lebih bahagia memiliki banyak teman, tak henti-hentinya aku berkelana. Ya, berkelana mencari teman, sekaligus mencari pengalaman. Termasuk pengalaman mengikuti acara Kampus Fiksi di kota Yogyakarta.

Bagi teman-teman yang belum tahu apa itu Kampus Fiksi, silakan searching di mbah Google ya, karena di sana sudah cukup banyak penjelasan tentang Kampus Fiksi. Intinya, Kampus Fiksi adalah pelatihan menulis yang diadakan oleh penerbit Diva Press yanng dilaksanakan selama 2 hari per 2 bulan sekali. :D

Tepat tanggal 28 Agustus 2015 kisahku pun dimulai mengikuti kegiatan keren ini. Sejak berangkat dari Sampang Madura saja aku sudah diajari tentang pentingnya perjuangan. Sebab, untuk bisa tiba di Yogyakarta, pagi-pagi sekali aku harus bisa berjuang menunggu kedatangan bis Patas yang akan mengantarku ke Surabaya.

Dua kali sudah aku berkunjung ke Yogyakarta. Dan dua-duanya pun berangkat malam hari dengan mengendarai bis ekonomi. Bedanya, untuk ketiga kalinya, aku memilih berangkat siang hari. FYI, perjalanan siang hari ternyata lebih panjang dan lebih melelahkan daripada perjalanan malam. Kalau malam membutuhkan waktu 6-7 jam perjalanan, maka kalau siang harus menempuh 9-10 jam dari kota Surabaya. Tepos juga nih pantat gara-gara duduk di bis kelamaan. #eh :P

Rasa lelahku pun terbayar ketika tiba di Stasiun Giwangan. Mas Kiki selaku tim penjemput langsung mengangkut kami menuju asrama. Di asrama, ternyata sudah ada beberapa teman yang sudah tiba lebih siang. Sambutan mereka membuatku semangat, malah tidur larut malam karena sibuk berceloteh ke mana-mana. #NggakAdaKerjaanBangetKan :P
oke fix!

Sabtu Pagi, kata mimin @KampusFiksi, kami keluarga #KampusFiksi13 cukup menuai rekor. Sebab, pagi-pagi sekali kami sudah siap di meja dengan kondisi badan wangi sekaligus bersih. Ini rekor karena biasanya para peserta angkatan lain masih mengantre sampai matahari beranjak tinggi. :D Semoga si mimin juga rajin mandi kayak peserta #KampusFiksi13 ya! (Kalimat terakhir abaikan saja! :D :D )
Materi pertama diisi oleh Mbak Rina dengan perkenalan, dan memberikan clue untuk praktek nulis 3 Jam. Selanjutnya diisi olek Pak Edi Akhiles, tentang Brainstorming. Kata Pak Edi, penulis itu pengetahuannya di atas rata-rata, bisa jadi seorang penafsir dan bisa juga mempengaruhi orang lain, terakhir bisa ngetop plus dapat income. Mantap banget nih penjelasannya. Yang paling aku ingat kata-kata beliau, sastra fiksi itu butuh dua pilar, pertama teknik / penyajian, kedua Imajinasi. Dan yang paling penting, penulis harus punya state of mind yang baik. :D

Sesi paling mendebarkan di hari pertama itu tak lain dan tak bukan adalah sesi menulis 3 jam. Bayangkan saja, kami harus bisa menyelesaikan satu cerpen dengan tema #SettingFavorite dalam waktu semepet itu. Harus sudah editing pula. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan. Tapi alhamdulillah aku bisa menyelesaikan tantangan itu meski akhirnya cerpenku cukup hancur saat pengadilan naskah. Xixixixixi :D

Malam harinya, kami kedatangan alumni kampus fiksi angkatan 1, Kak Syaifullan. Dia memberikan tips dan pengalamannya dalam bidang menulis kepada kami. Orangnya kocak, sampai-sampai semua terbahak melihat kelakuannya. Ujung-ujungnya sih cara penyampaian materi Kak Syaifullan mirip stand up comedy jadinya. Haha, tapi thanks ya Kak, penulis itu emang harus selalu ceria kok, meski nyatanya hati sering nyeri. #eh

Hari kedua, kami pun diberi materi Keredaksian oleh Mbak Munal. Kami bisa tahu bagaimana proses masuknya naskah atau bagaimana perjalanan naskah setelah berada di meja redaksi. Selain itu kami juga mendapat ilmu dari Mas Aconk tentang ilmu marketing. Dan yang tak kalah spesial hadirnya narasumber tamu, Pak Joni Ariadinata sebagai redaktur majalah sastra Horison. Pengalaman beliau dalam menjadi penulis cukup memancing semangat kami untuk terus menulis dan menulis.

Terakhir, yang paling aku tunggu-tunggu, informasi dari Mbak Rina tentang bimbingan novel online. Di sesi itulah aku mulai membayangkan tentang bagaimana nerbitin novel. Hahaha.... Kampus Fiksi keren deh pokoknya.

Di luar kegiatan inti di Kampus Fiksi, aku bersyukur bisa masuk dalam keluarga Kampus Fiksi angkatan 13. Sebab, di sana aku kenal orang-orang baru, terutama peserta yang datang dari beberapa kota di Indonesia. Si Amin Sahri (Yogyakarta), Bening (Cilacap), Mas Danang (Wonogiri), Devy (Yogyakarta), Fareha (Jombang), Garin (Klaten), Bang Ginanjar (Magelang), Riana (Solo), Nunk (Lombok Barat), Iken (Salatiga), Ilham (Mojokerto), Irma (Jakarta), Moly (Banjar Baru, Kalimantan), Munawir (Kediri), Qoida (Wiyoro), Mila (Sumenep), Tika (Yogyakarta), Ovie (Jakarta Timur), Patrio (Tana Toraja), Rialita (Jombang), Riza (Mojokerto), Mita (Malang), Yuni (Bantul).

Kalian semua kereeeennnn deh pokoknyaaaa!!!

Harapanku, semoga kita tetap kompak ya temans, amin.

#KampusFiksi13, BISA!!!

Tengah Malam,
Sampang, 1 September 2015,
Tanah Garam Madura
***


 Oleh-oleh dari Pak Edi Akhiles

 Formasi 13 yang kata mimin Kampus Fiksi njiji'ie... :D

 Para peserta #KampusFiksi13 bersama Pak Edi Akhiles
 Bareng keluarga Kampus Fiksi










Tidak ada komentar:

Posting Komentar