Kamis, 26 Januari 2012

Jodohku??


"Kau sudah punya tunangan?" Tanya salah seorang tetangga ketika aku menunggu angkutan umum hendak ke kampus beberapa hari yang lalu.

Pertanyaan itu membuatku tersentak sekaligus geli. Boro-boro tunangan, gadis kandidatnya aja alias pacar belum punya. Kalau pun punya, dia sudah tidak pantas dijadikan kandidat karena telah menjadi milik orang. Hahaha, aku tersenyum simpul menimpali pertanyaan ibu tersebut.

"Hm, belum bu," jawabku singkat tak mengurangi senyum.

"Iya tuh, temanmu si Haris sudah punya tunangan, padahal belum lulus kuliah. Katanya sih tunangannya dari akademi perawat," tambah ibu itu lagi. Aku kembali tersenyum menimpalinya, tentu tanpa sebuah komentar.

"Kalau kamu sendiri sudah semester berapa?" kembali ibu itu bertanya padaku. Kujawab saja singkat,

"Semester tujuh, bu."

"Hm, biaya pendidikan sekarang sangat mahal. Kuliahlah saja dulu hingga lulus, lalu carilah kerja bahagiakan ibumu dan yang terakhir baru cari pasangan hidup" nasehat ibu itu seiring angkutan umum yang kuharapkan datang.

"Insyaallah. Mari bu," sahutku lalu pergi bersama angkutan umum meninggalkan ibu berdaster batik itu.

Selama dalam angkutan umum, aku memikirkan kata-kata perempuan setengah baya tadi. Memang, kebanyakan teman sebayaku sudah memiliki pasangan hidup. Bahkan tak sedikit di antara mereka ada yang memiliki buah hati. Sudah menjadi kebiasaan atau mungkin sudah menjadi tradisi di Madura bahwa seorang anak yang baru lulus SMA harus segera berkeluarga. Alasan utama adalah lulus SMA berarti sudah dewasa dan harus mulai hidup mandiri. Padahal pekerjaan pun mereka belum punya. Oke, tak dapat aku pungkiri menurut informasi yang kudapat, seseorang justru akan mendapat banyak rezeki dan pekerjaan justru setelah menikah. Tapi apakah baik jika seorang anak yang baru lulus sekolah langsung diberikan beban berkeluarga yang sepertinya begitu rumit? Kemana cita-cita seorang anak dapat diraih?

Kalau masalah itu ditanyakan padaku, untuk saat ini akan kujawab, NO. Bukan berarti aku tidak mau membina keluarga, tapi aku punya alasan sendiri untuk saat ini. Ya, sekali lagi untuk saat ini...!! Sesuatu yang harus aku pikirkan dan raih bukan masalah itu, melainkan bagaimana caranya aku bisa cepat lulus kuliah dan bekerja. Tak kurang dan tak lebih seperti itu. Bagiku, aku harus profesional dalam menghadapi kehidupan. Semua harus berjalan dengan seimbang antara meraih cita-cita dan menghadapi realita kehidupan.

Hm, aku jadi ingat sesuatu, ingat pada tulisan yang pernah kubuat untuk mengikuti sebuah even penulisan yang bertema tentang jodoh.

***

Surat Untuk Jodohku,Oleh : Aswary Agansya


Jodoh...?!
Ha... Ha... Ha... Aku nyaris gila jika terus menerus memikirkanmu. Aku juga nyaris terbuai akan misteri-misterimu yang masih semu. Bagaimana tidak, pekerjaan yang tak pernah lepas dari otakku adalah memikirkanmu, memikirkan siapa yang akan menjadi pendampingku kelak. Bagaimana bentuk fisikmu, raut wajahmu, aroma tubuhmu dan getaran cinta di hatimu. Sungguh aku sibuk membayangkan sesuatu yang belum pasti dalam kehidupanku.

Jodoh...! Kaukah jodohku itu? Kaukah gadis yang selama ini menghiasi mimpi-mimpiku? Kalau kau memang benar jodohku, aku akan bersujud syukur kepada Allah atas semua anugerah yang diberikanNya padaku melalui dirimu. Allah mengirimkanmu untukku, kasih. Jadi, Aku yakin kau gadis terindah yang pantas menjadi pendampingku. Meski aku rindu akan kehadiranmu dan tak pernah bertemu denganmu saat kutulis surat ini, tapi kemampuanku menerawang lewat hati tak dapat terelakkan lagi. Aku yakin dapat memprediksikan betapa indahnya pesonamu wahai kekasih hatiku.

Keyakinanku pun berkata bahwa rambutmu mengandung sutra, raut wajahmu memancar cerah, bentuk tubuhmu menggoda gelora jiwa, sentuhanmu lembut menyisakan romansa, langkahmu melenggang penuh asmara dan sikapmu membawa surga. Kaulah sang primadona dari atmosfer cinta.

Setiap insan yang hidup di dunia ini pasti membutuhkan cinta. Juga membutuhkan luapan kasih sayang. Karena keduanya, baik cinta maupun kasih sayang mampu membawa mereka terbang melintasi angkasa, melewati batas atmosfer yang selama ini menghembuskan udara dalam dada. Begitu pun aku yang membutuhkan cintamu wahai jodohku. Alangkah syahdunya duniaku memiliki cinta sebesar cintamu padaku.

Wahai jodohku yang selalu kudamba. Siapkah kau merajut cinta denganku? Siapkah pula kau hidup bersama pemuda sepertiku? Mampukah kau menjalani roda kehidupan yang tak menentu bersamaku? Sanggupkah kau setia menjaga cinta kita dari godaan-godaan yang akan melanda?

Wahai Jodoh yang kucinta. Kalau kau bersedia dengan semua yang akan terjadi, maka baiklah.
Satu harapan pasti yang ingin kusampaikan padamu. Terimalah aku apa adanya, seperti bumi yang siap menerima terpaan hujan maupun sang badai kapan saja. Jadikanlah aku pelengkap hidupmu meskipun masih tak setara dengan derajatmu. Aku harus mengaku bahwa aku hanyalah pemuda miskin yang tinggal di gubuk sederhana tanpa adanya perabot yang berharga. Tapi aku yakin bisa memberimu limpahan ilmu dan cinta yang tak akan pernah habis dalam dada. Jadikanlah pernikahan kita sebagai lambang suci kebesaran cinta yang kita punya. Dan jadilah cinta kita adalah satu-satunya cinta yang tumbuh di hati kita.

Sampang, 4 Maret 2011

***
Hm, ada-ada saja ya perempuan setengah baya di halte itu. ^_^

Sang Pioneer


(Hai, izinkan aku menyampaikan pengalamanku kemarin ya. Mohon maaf jika tulisannya kurang rapi karena ini kutulis terburu-buru disela-sela mengerjakan tugas kampus. Hehehe :P )

Setiap pertemuan memang selalu menyimpan misteri keakraban. Setiap pertemuan memang selalu terasa indah menyenangkan, dan setiap pertemuan pasti akan membawa kebahagiaan, begitulah yang kurasakan saat bertemu dengan para sahabat dunia mayaku kemarin. Walaupun bukan pertemuan pertama, debaran kebahagiaan itu rasa-rasanya tak pernah surut menghiasi relung hatiku. Bisa dibilang aku memang salah satu manusia pencinta sebuah "PERTEMUAN". Ya, bagiku pertemuan bukan hanya sebagai ajang menyambung silaturahmi saja, akan tetapi lebih dari itu, yakni sebagai suntikan semangat untuk memacu kreatifitas dalam persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan adanya pertemuan, maka komunikasi kehidupan akan semakin lancar.

Seperti pada hari itu, tepatnya hari Minggu, 27 November 2011 untuk kesekian kalinya aku bersua dengan para sahabat-sahabatku. Yang membuatku tersanjung dalam pertemuan kali ini adalah, jika dulu aku yang pergi keluar pulau untuk bersua dengan mereka, malah sekarang merekalah yang menginjakkan kaki ke pulau yang kutinggali ini. Hampir 2 hari lamanya hati dan jiwa mereka disuguhi keindahan Pulau Garam Madura, mulai dari bibir jembatan Suramadu, kota Bangkalan, Sampang, Pamekasan, sampai kota Sumenep telah memberikan kenangan tersendiri di hati mereka. Nah, kini mereka semua yang terdiri dari Mbak Jazim Naira Chand, si Mieny Angel, Mbak Endang SSN, sang fotografer Mbak Ani Amaly dan Mbak Luluk (Ananda Mutiara) meluangkan waktu luang untuk melakukan petualangan ke Pulau Madura. Di hari kedua perjalanan, mereka menghadiri sebuah acara kecil-kecilan dalam menyambut tahun baru hijriyah 1433 H di sebuah sekolah sederhana yang menaungiku.

Pagi yang cukup cerah membawa mobil rombongan Mbak Jazim memasuki kawasan Sampang setelah hampir 24 jam berada di Madura bagian timur. Tepat pukul 08.45 WIB rombongan tersebut memasuki desa Pangelen. Jauh dari pandanganku, aku melihat titik-titik air mata di pelupuk mata Mbakyuku ketika memberikan sambutan di atas panggung. Aku tidak begitu paham apa yang mbakyuku rasakan saat itu, yang jelas aku kagum sekaligus terharu melihat seorang penulis beken seperti Mbak Jazim dkk rela duduk lesehan bersama para peserta didik di lapangan yang hanya beralaskan tikar, padahal saat itu tempat duduk sudah kami sediakan namun dengan senyuman ikhlas mereka menolaknya.

Ada sesuatu yang membuatku geli. Ya! Geli jika mengingatnya lagi. Dalam sela-sela sambutan, Mbak Jazim menyebut namaku dengan embel-embel "Ustad". Hahaha, biasanya aku cuma dimanggil Pak atau kakak, eh ini malah memanggil ustad. Sepertinya aku tidak pantas mendapat gelar seperti itu. Baru kali ini ada seseorang yang menyebut aku ustad di depan banyak orang. Ah, Mbak Jazim ini ada-ada saja, pikirku dalam hati sambil menyungging senyum. Aku juga merasa bahagia melihat Mbak Jazim, Mbak Endang, Mbak Ani, Mbak Luluk dan Mieny tertawa lepas menyaksikan aksi drama peserta didikku, terutama saat tokoh wanita penghibur yang diperankan oleh Marsum memasuki panggung. Bukan hanya mereka saja yang tertawa terpingkal-pingkal, akan tetapi semua penonton pun juga ikut tertawa, termasuk aku. Marsum yang berperan menjadi waria itu mampu menghilangkan kepenatan kami semua. Terima kasih buat adik-adikku yang duduk di kelas XI.

Sebenarnya aku kasihan mengajak para rombongan berkunjung ke tempat wisata Sampang terdekat dengan alasan cuaca siang itu sangat terik. Sengatan matahari siang itu benar-benar terasa ganas. Namun setelah aku membujuk mereka untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hari itu, mereka pun bersedia.

"Kapan lagi sih jalan-jalan di Sampang? Jarang-jarang loh mbak," kataku sambil melirik Mbak Ani.

Wah, Mbak Ani Amaly yang paling bersemangat dengan usulanku. Rupanya kamera Mbak Ani Amaly masih sangat lapar melahap pemandangan indah yang akan menjadikannya kenangan masa depan. Akhirnya walau cuaca sangat terik, kami pun nekat mendaki jalan di tengah sengatan sang raja siang. Alhamdulilah kelelahan kami cukup terbayar dengan melihat pemandangan Gua Lebar (Hutan di atas batu) yang masih alami itu. Bidikan kamera pun menghiasi canda tawa kami, hingga akhirnya kumandang adzan Ashar sayu-sayu terdengar dari speaker masjid. Para rombongan pun beranjak pulang meninggalkan tanah garam Madura.

Jujur, aku tidak dapat berkata-kata lagi. Kedatangan sahabat-sahabat seperjuanganku ke bumi Sampang telah membuatku bahagia sekaligus terharu. Beberapa saat yang lalu Mbak Jazim pernah berkata padaku bahwa beliau ingin menjadi pioneer dalam pembentukan perpustakaan di sekolahku. Hari ini telah menjadi saksi bahwa Mbak Jazim dan sahabat-sahabat lainnya benar-benar telah menjadi "Sang Pioneer" di sekolahku. Buku-buku yang di bawa Mbakyu dan sahabat-sahabat lain telah menjadi awal pengisi rak buku perpustakaan kami. Semoga buku yang lain bisa menyusul ya Mbak, hehehe.

Terima kasih semua. Mbak Jazim, Mieny Angel, Mbak Endang, Mbak Ani Amaly dan Mbak Luluk, inilah persahabatan terindah kita. Semakin banyak sahabat, semakin luas tali kekeluargaan kita.
^_^

*Minggu, 27 November 2011
di Sampang, tanah garam Madura.

Akulah Salah Satu Sejarah Yang Tak Pernah Tertulis Itu


Mengikuti sebuah even perlombaan memang sangat menyenangkan. Apalagi even tersebut adalah lomba tentang dunia tulis-menulis, wah semakin membuatku tertantang untuk ikut serta memeriahkan. Nah, dari setiap even lomba menulis, ada satu even yang paling membuatku kecewa, bahagia, sedih, gembira pokoknya campur aduk deh. Tepatnya mampu membawaku deg-degan selama sepekan, shock selama tiga hari dan sakit selama sehari. Ini benar-benar nyata dalam kehidupanku, bukanlah sekedar rekayasa.

Tahukah kau lomba menulis apakah itu? Hm, lomba menulis itu tak lain dan tak bukan adalah saat audisi penulisan buku IBUKU ADALAH 2 yang sekarang versi bukunya berjudul ...SEGALANYA BAGIKU. Lantas apa yang menarik? Mengapa aku bisa deg-degan selama sepekan, shock selama tiga hari dan sakit selama sehari?

Dalam lomba penulisan ini, kebetulan hanya 15 orang saja yang akan dijadikan pemenang. Sedangkan peserta yang mengikuti audisi tersebut berjumlah ratusan. Terbayang bukan, bagaimana ketatnya dalam persaingan memasuki 15 besar. Singkat cerita, aku pun masuk dalam kategori 30 besar. Duh, bangganya diriku kala itu.

Selama sepekan jantungku dipermainkan oleh panitia dengan memposisikanku dalam zona tidak aman. Berkali-kali aku keluar masuk di zona eliminasi. Dan setelah jantungku dipermainkan selama sepekan, akhirnya aku pun berhenti melaju hanya di urutan 18 saja. Ya! Mimpiku menjadi salah satu penulis buku keren itu langsung pupus. Aku tidak lolos. Dan yang paling kusesalkan hanya berhenti di angka 18 besar saja. Aku kecewa, kaget sekaligus shok berat. (Ya gitu deh, kalo inget peristiwa waktu itu, aku jadi malu sendiri. Hehehe,,). Mungkin karena aura even ini yang membuatku menggebu-gebu semangat sampai-sampai aku lupa diri dan jatuh di tengah jalan. Maklum, aku ingin sekali sebuku dengan orang-orang beken yang akan mengisi buku keren tersebut.

Di akhir cerita, aku mulai sadar bahwa dalam sebuah perlombaan pasti selalu ada yang kalah dan ada yang menang. Pelan-pelan aku mulai lapang dada. Andai saja aku boleh jujur, aku ingin sekali berpaling muka dari cover berwarna kuning itu, tapi entah mengapa malah buku itu semakin hari semakin mendekatiku? Malah dekat sekali. (lihat saja tuh fotonya. Malah aku memegang banyak banget kan?). Aura apa lagi ini kawan?

Tapi sekarang aku bangga. Bangga pada seluruh penulis buku ...SEGALANYA BAGIKU terutama sang penggagas Mbakyu Jazim Naira Chand. Berkat buku itulah awal terciptanya perpustakaan di sekolah tempatku mengajar. Dan yang paling terpenting yang perlu aku garis bawahi, Aku harus bangga telah ikut serta menjadi salah satu sejarah terciptanya buku bagus tersebut. Walau pun ternyata sejarahku tak pernah tampak tertulis dalam buku itu. Aku tetap bahagia. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa buku bercover warna kuning itu mendapat BOM (Book Of the Month) dari penerbitnya, wah semakin senanglah hatiku.

Bagi siapa saja yang belum memiliki, apalagi belum membaca buku ini, rugi banget deh kalau hanya melihat cover bukunya. Buruan beli karena buku ini benar-benar menggugah inspirasi untuk semakin mencintai ibu kita sendiri. Pokoknya yang belum beli, buruan deh beli...!!!

***


Kamis, 19 Januari 2012

Sahabatku Benar-Benar Telah...


*Sebenarnya aku membuat tulisan ini sejak tgl 22 Desember 2011 namun baru sempat posting.....
cekidot....*


Allah Maha Besar. Segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini adalah kehendakNYA. Manusia tidak punya daya apa-apa dalam melakukan sesuatu tanpa restu Allah. Begitu juga urusan rejeki, jodoh dan maut, sama sekali manusia tidak dapat menebaknya walau hanya sebutir pasir sekalipun.

Tulisan ini kubuat untuk mengenang SAHABAT yang telah kuanggap sebagai SAUDARAKU sendiri. Ya, sahabat yang selama ini kurindukan raganya, kurindukan gelak tawanya, kurindukan suaranya, dan kurindukan candanya. Agung Wisnu Saputra, begitu nama lengkap pemuda itu. Bagiku Agung adalah sahabat terbaik dan terunik di dunia, karena kala aku sedih, dia mampu menghiburku dengan leluconnya. Saat aku sendiri, dia mampu menemaniku di rumahku yang sepi. Jangankan makan bersama, tidur dan jalan-jalan pun kami selalu bersama. Hampir 10 tahun persahabatan kami terjalin indah, mulai SMP, SMA hingga sekarang.

Kebersamaan kami terpecah Agustus 2010 lalu karena Agung memutuskan hijrah ke kota Kediri dengan alasan hendak mencari pekerjaan. Sebenarnya kami 4 sekawan (Aku, Lian, dan Anas) tidak merelakan Agung hijrah ke Kediri, namun hal tersebut merupakan keputusan bulat seorang Agung, ya kami pun mencoba ikhlas. Apalagi saat Agung berkata,

"Tenang sobat. Aku pergi untuk kembali. Aku ke Kediri mau menjemput kesuksesan. Kelak kalau kita sukses, kita tunjukkan pada dunia bahwa kita layak mendapatkannya."

kami pun berpisah. Waktu berselang, komunikasi kami juga hampir terputus karena Agung masih tidak punya Handphone kala itu. Komunikasi kami pun hanya bisa berlanjut melalui facebook. Yap, hanya facebooklah satu-satunya media yang dapat kami gunakan.

Alhamdulilah setahun di Kediri, Agung sudah menunjukkan sayap kesuksesannya. Ia mulai bisa punya tabungan di Bank, bisa beli Hp, sepeda gunung, dll. Hal itu membuatku ikut senang. Bahkan Agung pernah mengabariku bahwa tahun depan akan melanjutkan pendidikan jenjang kuliah, subhanallah besar sekali semangat sahabatku itu.

Nah, dua atau tiga hari yang lalu (19 Desember 2011) Agung mengabariku bahwa dia akan pulang liburan ke Madura sekaligus menikmati malam tahun baru bersama para sahabatnya. Aku, Lian, dan Anas benar-benar gembira mendapati kabar tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba sesuatu terjadi pada sahabatku yang lucu itu. Apakah gerangan yang terjadi??

"Mas Agung sudah meninggal," tulisan itu nyangkut di handphone jadulku tadi malam (tepat di hari ibu, 22 Desember 2011).

Aku shock. Tidak percaya. Akhirnya kucoba telepon Agung, kebetulan yang mengangkat adik perempuannya. Dengan sangat runtut sang adik menceritakan peristiwa naas yang menimpa sahabatku itu. Ternyata sahabatku yang super lucu benar-benar telah meninggalkan dunia ini. Air mataku tak terelakkan lagi membasahi pipi. Aku menangis sejadi-jadinya, begitu pula Anas, Lian dan Ibuku yang telah menganggap Agung sebagai putranya sendiri.

Allah... Secepat inikah dia pergi?. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, selain semoga Agung sahabatku diterima di sisi-Nya, segala amal ibadahnya diterima oleh ALLAH SWT. Hanya doa yang dapat kukirim buat sahabatku itu. Dan yang paling pasti, walau aku TIDAK DAPAT melihat wajah terakirnya, kenangan bersama seorang Agung tak akan pernah kulupakan sepanjang hidup. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Selamat jalan wahai sahabatku...! Kami pun pasti menyusulmu.

Sampang, 22 Desember 2011 pukul 00:10 WIB tanah garam Madura.

***

Ini foto-foto kenangan kami selama bersama Agung.



Pizza Hut di ITC Surabaya
di MC Donals Surabaya

Selasa, 29 November 2011

Karena Ayah Pengukir Sejarah (Naskah yang gak lolos lomba antologi tentang Ayah)


Air mataku tertahan bila mendengar nama sosok lelaki yang sering kupanggil "Bapak". Ya, gumpalan air mata itu seakan berhenti tersekat menggenangi kelopak mataku ini. Entah mengapa hatiku pun bergetar pilu seiring bayangan Bapak hadir di hadapanku. Dulu, ada tempat untuk mengadu kegamanganku. Tapi kini tempat itu sudah semu bak angin lalu. Hal itu dikarenakan jasad Bapak telah lama meninggalkanku dan terkubur di bumi Madura, 14 tahun yang lalu.
Akan tetapi, jika aku memutar kembali memori kenangan bersama Bapak, pasti aku akan selalu bersemangat untuk terus maju dan merevolusikan darah Bapakku yang mengalir di tubuhku, sehingga menjadi darah pejuang yang tak akan pernah dilupakan oleh waktu.
Dulu saat aku masih dalam pangkuan Bapak, Bapak sempat bercerita padaku tentang sejarah keluarga kami. Mengapa dan bagaimana latar belakang kami bisa hidup di Kota Pahlawan Surabaya, kota yang suasananya jauh berbeda dengan kampung halaman kami di Madura.
Sebenarnya Bapakku pria asli Pulau Madura. Dia berasal dari keluarga sederhana yang terletak di pedalaman desa. Jangankan melihat gedung tinggi perkotaan yang menjulang, jalan beraspal pun rasanya tak pernah ia temui kala itu. Yang ada hanyalah puluhan sawah dan pepohonan besar yang mengelilingi pedesaan terpencilnya. Dan tak ketinggalan pula, ribuan pohon bambu yang sangat lebat berdiri tegak mengelilingi seluruh desa terpencil bernama Desa Bhulang itu. Makanan yang selalu Bapak makan bukanlah nasi putih seperti sekarang, melainkan rebusan ubi dan singkong yang tumbuh liar di sekitar pekarangan desa. Terkadang jika ada beras, terlebih dahulu beras yang akan dimasak tadi dicampur dengan gilingan jagung. Itu pun dimakan tanpa lauk. Benar-benar tidak dapat kubayangkan susahnya perekonomian Bapak saat itu.
Diam-diam Bapakku jenuh dengan kehidupan di desa terpencil tempat kelahirannya. Tempat itu bagi Bapak tak ubahnya sebuah penjara nyata, tidak menjanjikan kehidupan yang lebih layak untuk masa depannya. Bapak mulai bingung harus berbuat apa untuk menghilangkan kejenuhannya tadi, terutama keinginan untuk merubah hidupnya yang serba kekurangan menjadi ke arah yang lebih baik. Bapak terus berpikir dan berpikir mencari jalan keluar terbaik dibalik kegalauan hatinya yang kian hari kian berkecamuk.
Lama berpikir, akhirnya Bapakku bertekad ingin merubah hidupnya dengan cara merantau ke suatu tempat. Ya, ia ingin merantau ke Kota Surabaya. Yang membuat unik lagi, Bapak pergi ke Surabaya bukan dengan cara naik kendaraan bermotor. Melainkan berjalan kaki dan tanpa membawa bekal apapun. Bayangkan saja, di zaman modern seperti sekarang untuk pergi ke Surabaya dengan mengendarai angkutan umum, masih membutuhkan waktu kurang lebih tiga atau empat jam, bagaimana kalau dilalui dengan jalan kaki? Percaya atau tidak, ternyata waktu yang Bapak butuhkan untuk merantau ke Surabaya saat itu bukan hanya sehari dua hari, namun satu pekan lamanya. Oh, aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya kaki Bapak selama meniti jalan menuju kota perantauannya.
Selama perjalanan, jika Bapak merasakan lapar, apapun pasti akan dia makan. Mulai dari dedaunan sampai buah mengkudu yang jatuh dari pohon tepat bersebelahan dengan kotoran sapi pun tetap Bapak makan.
"Apa pun akan bapak makan untuk mengisi perut yang kosong. Walaupun itu hanya sebatas dedaunan saja, nak." Jelas Bapak sambil menerawang kejadian yang dulu pernah ia alami.
Aku yang mendengar penuturan itu hanya bisa mengangguk pelan. Hm... Andai saja aku berada dalam posisi Bapak, pasti aku tidak akan tahan dengan keadaan tersebut, jalan kaki yang begitu jauh, makan seadanya, apalagi hanya dedaunan saja. Pasti ketegaranku hilang sebelum tiba di tempat tujuan, pikirku sambil ikut menerawang.
Sesampainya di Surabaya, Bapakku masih saja dilanda kesengsaraan. Cahaya cinta dan bahagia belum berpihak padanya. Ia pun menggelandang menjadi tukang pembersih sampah yang tergabung dengan anggota pasukan kuning Surabaya. Ya, Bapakku adalah tukang sampah. Hampir semua jalan di Surabaya bagian utara Bapak lalui sambil menarik gerobak sampah. Dan itu semua Bapak lalui dengan dua kata ajaib yang selalu ia bawa berupa "ikhlas" dan "sabar".
Berhari-hari Bapak mengumpulkan upah yang ia terima dari sang mandor untuk dijadikan modal usaha. Namun, untuk mendapatkan modal yang cukup sangatlah terasa sulit. Maka dari itu, Bapak tidak hanya berpatokan pada pekerjaannya memungut sampah saja, akan tetapi dia makin merambah menjadi tukang jual es keliling. Jadi, jika pagi atau sore memungut sampah maka siang hari Bapak keliling kampung membawa termos menjajakan es dagangannya. Kepingan demi kepingan uang logam Bapak kumpulkan dengan bertumpu pada kesabaran yang ia tanam lekat-lekat dalam dada.
Hidup tanpa cobaan, bagai sayur tanpa garam. Terasa tidak lengkap. Mungkin seperti itu kata bijak mengatakan. Sesabar-sabarnya Bapak mengumpulkan modal, pasti dia akan mendapatkan cobaan juga. Ya, menjelang impiannya tercapai, tiba-tiba Bapak terserang penyakit Hernia. Hernia merupakan sebuah penyakit yang disebabkan karena kelemahan otot dinding perut akibat bekerja mengangkat barang-barang yang berat. Dan itu pun harus segera dioperasi. Pelan-pelan Bapak syok dengan keadaannya. Habislah sudah tabungan Bapak yang selama ini telah terkumpul untuk membiayai proses operasi.
Saat itu pula Bapak mulai putus asa dalam menghadapi hidupnya. Hasil perjuangannya dalam perantauan telah habis terkuras hanya dalam waktu sehari saja. Masih beruntung ada orang baik seperti Pak Bardi yang merupakan atasan atau mandor para pekerja sampah. Pak Bardi mengatakan bahwa Bapak tidak perlu khawatir masalah pekerjaan. Bahkan, selama berada di rumah sakit pun keluarga Pak Bardi rela bantu menjaga Bapak yang hanya sebatangkara di Surabaya.
Begitu Bapakku keluar dari rumah sakit, Pak Bardi langsung menempatkan Bapak sebagai mandor seperti dirinya. Hal itu dikarenakan agar Bapak tidak lagi bekerja berat, melainkan hanya duduk memantau pekerjaan bawahannya saja. Seperti itulah awal perjuangan Bapak sehingga akhirnya bisa hidup bahagia seperti sekarang. Sungguh luar biasa dampak dari kata "Sabar" dan "Ikhlas" tadi ya.
Bayangan sejarah Bapak selalu memberikan energi yang berbeda pada diriku. Selepas kepergian Bapak empat belas tahun lalu yang membuatku menjadi anak yatim benar-benar menyiksa batinku. Melakukan apapun terasa tidak lengkap tanpa hadirnya Bapak. Aku kehilangan kasih sayang dari seorang Bapak. Akan tetapi aku harus sadar diri bahwa kehidupan itu adalah sebuah misteri yang harus tetap dilalui.
Lewat sejarah kehidupan ini, aku ingin menitipkan seuntai kata untuk Bapak yang telah tenang di alam sana. Sebuah kata-kata yang mungkin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan Bapak dalam melawan kesengsaraan dan mengubahnya menjadi sebutir kebahagiaan hakiki.
Bapakku, kau adalah sejarah terbaik dalam hidupku. Yang dapat mengajariku akan sebuah keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, ketegaran, dan perjuangan dalam menjalani roda-roda kehidupan ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kala itu Kau tetap bersimpuh di desa terpencilmu. Mungkin saja kini keluargamu akan tetap berada di garis kesengsaraan, yang hanya mengharapkan makan dari tangan orang. Aku bangga menjadi bagian dari darahmu, dagingmu, dan keluargamu, Bapak! Kenangan masa lalu itu membuatku rindu akan ragamu Bapakku, sekaligus menanamkan sebuah semangat baru bahwa aku ingin menjadi pejuang hidup sepertimu. Ya, sepertimu Bapakku!

***
Tentang Penulis
Aswary Agansya lahir di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1987. Sejak kecil Aswary memang gemar sekali membaca dan menulis. Sekarang dia tengah menempuh pendidikan di Universitas Madura jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah Antologi Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), Antologi E-Love Story #21 (Nulisbuku.com, 2011), Antologi Curhat Cinta Colongan #3 (Nulisbuku.com, 2011), Novel Imagination Of Love (LeutikaPrio, 2011), Novel “Menari di Atas Tangan” (LeutikaPrio, 2011), Antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus, dan Antologi Long Distance Friendship. Insyaallah akan menyusul, karena masih dalam proses penerbitan adalah, Antologi Surat Untuk Jodohku dan antologi Dear Someone. Jika ingin berinteraksi dengan Aswary Agansya, bisa melalui facebook dan email: aswary.agansya@gmail.com atau melalui blog www.aswarysampang.blogspot.com


Sabtu, 01 Oktober 2011

Andai Saja Novel Miniku ini Difilmkan.....

Setelah melihat trailer film MESTAKUNG, aku jadi berandai-andai bagaimana ya seandainya novel miniku ini difilmkan seperti film MESTAKUNG tersebut? wah, betapa senangnya hati ini. Tapi kurasa itu hanyalah sebatas impian saja. Mana mungkin novel mini yang diproduksi penerbit indie ini dilirik produser. Terjual saja udah bersyukur kali ya??? heheheheh, mimpi kali yeeee??? But, lihat saja nih sinopsisnya, sama-sama menginspirasi loh seandainya difilmkan. Kakakakakakaka, mimpi kali loe Aswary,,,,,,,,, ^_^

Sinopsis Novel "Menari di Atas Tangan"
Jamar adalah seorang pemuda bertubuh pendek. Tinggi badannya saja hanya seratus lima puluh sentimeter. Setiap sore, Jamar bekerja sebagai pemungut sampah di kampung tempat tinggalnya. Di kampung Barisan kota Sampang itu, Ibu Jamar merupakan seorang pembatik rumahan yang tak pernah dikenal banyak orang.


Sebelum ujian akhir sekolah, bapak Jamar meninggal dunia. Kematian itu memaksa Jamar harus membantu Ibunya bekerja walau hanya sebagai pembungkus krupuk di rumah tetangga. Tanpa di duga, setelah pemuda itu lulus sekolah menengah atas, ada seorang gadis bernama Zahwa hendak kost di rumah Jamar. Demi menambah penghasilan, akhirnya Jamar dan sang Ibu mau menerima Zahwa tinggal di gubuk tua mereka.


Cemoohan demi cemoohan mulai datang. Tak jarang Jamar dijuluki pemuda sampah oleh para tetangga yang suka mengusilinya. Yang membuat Jamar semakin miris adalah tak ada satu tempat pun yang mau menerima dia untuk dijadikan pekerja. Alasan utama adalah masalah tinggi badan yang kurang memadai.Jamar pun mulai putus asa.


Eit, tunggu dulu. Bagaimana nasib Jamar selanjutnya? Pekerjaan apa yang bisa membawanya menjemput kesuksesan? dan siapa sebenarnya Zahwa Zahariska itu? ini dia Persembahkan Grup UNSA sebuah novel berjudul:

Menari di Atas Tangan
Penulis: Aswary Agansya,
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-225-023-4
Terbit: Juli 2011
Tebal: 249 halaman
Harga: Rp. 49.500,-

Deskripsi:

Sebuah novel sederhana namun mampu meramu sebuah citarasa kehidupan remaja secara apik. Nilai persahabatan, menghargai orang lain, serta semangat dalam keterbatasan diri disuguhkan secara lembut tanpa kesan menggurui. Novel ber-setting Madura ini layak dibaca oleh remaja dan siapa pun yang ingin mengerti tentang sebuah perjuangan hidup.

Endorser :

Buku yang inspiratif. Dengan bahasanya yang santun, penulis berhasil membawa pembaca ke titik kepekaan akan hakiki seorang manusia yang banyak memiliki kekurangan. Buku ini membuat kita sadar, bahwa di dunia manusia tidak ada yang terlahir sempurna. Begitu juga bentuk fisik yang telah Allah karuniakan kepada kita. Arif dalam menyikapi kekurangan dan berusaha menggali potensi yang ada adalah salah satu tindakan yang bijak. Buku yang wajib dibaca di tengah krisis jatidiri yang kian mewabah.
-LONYENK, Penulis dan Penyiar Radio.

~*~

Aswari Agansya sebenarnya menyuguhkan karya sederhana, tetapi dalam kesederhanaan itu dia meramu sebuah cita rasa kehidupan remaja secara apik. Nilai persahabatan, menghargai orang lain, serta semangat dalam keterbatasan diri disuguhkan secara lembut tanpa kesan menggurui. Novel bersetting Madura ini layak dibaca oleh remaja dan siapapun yang ingin mengerti tentang sebuah perjuangan hidup.
-JAZIM NAIRA CHAND, Penulis Buku Ibuku Adalah...

~*~

Kegigihan, ketekunan dan keyakinan dalam menjalani hidup untuk menggapai cita dan cinta yang ditunjukan oleh tokoh bernama Jamar dalam novel ini, sememangnya layak untuk dijadikan figur bagi para remaja, tanpa harus minder dengan kekurangan yang dimiliki.
-DANG AJI, Penulis, Akuntan, dan Creator UNSA.

(# 2) Curhat sang Peserta Didik

Hai sahabat seperjuangan. Mohon maaf jika baru sempat posting tulisan ini, lanjutan dari tulisan yang pertama "Seperti Dalam Novel Laskar Pelangi" beberapa hari yang lalu. Inilah kisah sederhana yang kujanjikan itu.

***
"Baiklah. Karena ini masih pertemuan pertama antara saya dengan kalian, maka kita awali saja dengan perkenalan," ucapku sembari meletakkan tas ranselku di kursi.

"Ada yang tahu siapa nama saya?" lanjutku lagi.

Ketiga siswa itu pun diam. Mereka saling pandang satu sama lain. Selanjutnya menggelengkan kepala ke arahku. Aku tersenyum simpul melihat keluguan mereka.

"Baik. Perkenalkan, nama saya Mohammad Aswari. Saya tinggal di Jl. Durian 52 Sampang. Sebenarnya saya masih menjadi mahasiswa di Universitas Madura mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jadi, mohon maaf jika nanti ada sesuatu yang kurang selama kegiatan belajar mengajar kita. Karena sebenarnya saya juga masih belajar sama seperti kalian." Jelasku singkat.

Ketiga siswa yang hadir itu pun mengangguk pelan. Mungkin mereka sedikit mulai paham mendengar penuturanku. Setelah memperkenalkan diri, aku balik bertanya kepada mereka bertiga.

"Kalau begitu, selain digunakan untuk perkenalan, bagaimana kalau pertemuan pertama ini kita pergunakan untuk sharing, berbagi cerita mengenai pendidikan disini sebelumnya." Kataku.

Ketiga pemuda yang kuketahui bernama Marsum, Wasiul dan Ainul Yakin itu diam. Mereka sama-sama tertunduk walau sesekali melirik ke arahku. Entah apa yang mereka pikirkan kala itu, yang jelas aku menangkap sebuah kecemasan di balik tatapan wajah mereka. Terutama di wajah si Marsum.

Oh iya, kalau boleh dibilang, kelas tempatku mengajar ini sangatlah tidak layak disebut sebagai ruang kelas. Bagiku lebih cocok dijadikan sebagai (maaf) kos-kosan satu orang saja. Bagaimana tidak, luas ruang kelas disini jauh lebih kecil dari ruang kuliahku. Jelasnya hanya berukuran tiga kali empat meter saja. Ya, hanya seperempat dari ruang kuliahku di kampus. Dinding-dindingnya pun sudah tidak bersih lagi alias kotor oleh aneka coretan. Benar-benar tidak nyaman untuk belajar. Aku hanya bisa mengelus dada dengan keadaan itu.

"Pak, disini tidak ada yang bakat dalam kesenian pak!" Seru pemuda bernama Marsum. Aku tersenyum menatap pemuda yang hanya membawa dua buah buku tulis itu.

"Tenang saja. Kesenian yang kau maksud itu dibidang apa? Kesenian itu sangatlah luas. Ada seni rupa, seni sastra, seni tari, seni teater, seni musik dan seni kerajinan tangan. Saya yakin kalian bisa di salah satu bidang seni tersebut. Memangnya sebelum saya, yang ngajar kesenian disini siapa?"

Marsum diam. Teman-temannya pun ikut diam. Aku memang harus lebih sabar dengan keadaan ini. Ini masih belum seberapa, pikirku. Aku pun terpagut menatap siswa itu satu persatu seolah-olah menunggu sesuatu.

"Dulu saat kalian kelas sepuluh, apa yang diajarkan dalam mata pelajaran ini?" tanyaku lagi lebih sabar.

"Hm, seingat saya, pelajaran kesenian ini tidak ada gurunya kak. Kalaupun ada, itu hanya sekali selama setahun dan diisi dengan bercerita saja,"

"Jadi, selama setahun kalian tidak ada yang membuat sesuatu? Misalnya menggambar atau membuat kerajinan?"

"Nggak ada kak," sahut Marsum sambil menggeleng pelan.

"Terus, apa yang kalian lakukan selama ini?"

"Hm, diam saja kak menunggu guru,"

"Lho, menunggu guru bagaimana maksudnya?"

Mula-mula mereka sama-sama tunduk terdiam. Akan tetapi setelah aku paksa, akhirnya Marsum berani angkat bicara lagi.

"Sebenarnya disini sudah biasa Pak dengan keadaan seperti itu. Disini kami seakan terkucilkan daripada sekolah lain. Kalau ada guru yang datang ya kami belajar, kalau pun nggak ada ya diam saja. Maka dari itu teman-teman banyak yang nggak semangat untuk sekolah. Bagi mereka daripada bengong menunggu guru dari sekolah induk yang belum tentu datang, mendingan mereka ke sawah saja membantu orang tua."

"Kok bisa begitu ya? Berarti selama ini disini kekurangan guru?"

"Ya begitulah Pak. Maklum, sekolah ini bukan sekolah negeri yang serba maju. Sekolah ini baru dirintis selama kurang lebih dua tahun. Jadi masih terbelakang dan belum dikenal orang."

"Oh, jadi itu alasan teman-teman kalian malas masuk sekolah?"

"Sebenarnya nggak malas sih Pak, tapi karena sering nggak ada guru, mending mereka ke sawah aja membantu orang tua."

"Ya. Ya saya mengerti. Kalau begitu bilang sama teman-teman kamu yang lain bahwa mulai hari ini, sekolah ini banyak guru baru. Mulai dari pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Geografi, Sosiologi, saya sendiri guru kesenian dan masih banyak lagi guru yang lain. Mulai hari ini kalian harus semangat lagi dalam belajar. Karena dengan belajar, kalian dapat merubah dunia." Kataku pada mereka bertiga.

Setelah mengetahui beberapa alasan yang sempat membuatku penasaran, aku pun mencoba memberikan semangat pada tiga pemuda itu dengan berkisah tentang kegagalan dibalik sebuah kesuksesan. Diantaranya adalah kisah seorang Thomas Alva Edison dan Alexander Graham Bell.

"Ingatlah adek-adek, seorang David J Scwarthz yang menyatakan bahwa Think Big If You Want To The Big. Berpikirlah besar jika kau ingin menjadi orang besar..."

Kulihat mereka sangat antusias mendengar kisahku. Jujur, dalam hati aku berjanji akan membantu adik-adik di sekolah ini supaya lebih baik dari hari kemarin. Aku dan teman-teman sesama guru baru bertekad membantu sekolah ini supaya dikenal lagi oleh masyarakat sekitar. Memberikan sebuah perubahan walau hanya satu langkah saja. Kami ingin menanamkan bahwa pendidikan itu sangatlah penting bagi siapa saja. Mohon doanya semoga kami mampu mewujudkan semua itu. Amin ya robb.
***
he, mungkin itulah kisah yang dapat kubagi buat teman-teman semua saat pertama kali mengajar di SMA Attaroqqi Tsani. Sekali lagi aku katakan bahwa kisah ini bukanlah kisah rekaan.

Minggu, 18 September 2011

(#1) Seperti Dalam Novel Laskar Pelangi (Kisah Nyata)


Wahai sahabat seperjuangan. Lama tidak membuat tulisan rasanya sangat membosankan ya. Hampir 2 bulan aku vakum dalam dunia tulis menulis. Nah, mungkin ini sebagai semangat baru yang akan kubangun kembali setelah istirahat panjang. Insyaallah. Dibaca ya pengalamanku ini.
***

Subahanallah, mungkin ini yang dimaksudkan Ibu padaku tempo hari. Aku baru ingat kata-kata Ibu yang sempat kuabaikan beberapa hari terakhir ini.

"Nak, kamu harus sabar dalam mengajar. Menjadi guru itu tidaklah mudah. Jangan sampai kamu memarahi anak orang, apalagi sampai memukulnya. Sama sekali jangan. Tahan emosi dan kesabaranmu. Itulah cobaan seorang guru kala menghadapi murid-muridnya," tutur Ibu.

Jujur, saat Ibu menyampaikan petuah itu, aku ogah mau mempedulikannya. Justru dengan santainya kumasukkan kata-kata itu dari telinga kanan dan tanpa kuendapkan dalam pikiran langsung kukeluarkan melalui telinga kiri. Hal itu semata-mata bukan tanpa alasan. Petuah Ibu kuabaikan karena kupikir aku belum mengalaminya (baca: menjadi guru). Ah sudahlah, apa kata nanti saja, pikirku kala itu.

Akan tetapi, kata-kata Ibu tadi mulai berlaku pada hari ini. Ya! Pada hari kamis 15 September 2011 ini, ketika hari pertama aku mengajar di sebuah SMA pedesaan. Menurut jadwal yang aku terima dari pihak sekolah, aku harus mengajar mulai pukul 07.30 WIB. Sejak semalam dadaku bergoncang gugup memikirkan apa yang akan terjadi di hari pertamaku menjadi guru. Apalagi ini bukan lagi praktek atau tugas dari kampus, melainkan benar-benar terjun ke dunia pendidikan yang sebenarnya.

Walaupun di SMA Attaroqqi Tsani ini aku mengajar kesenian yang jelas-jelas di luar jurusan yang aku tempuh di Universitas Madura, aku tetap merasa gugup kelas atas. Malah semakin terasa gugup karena selama ini aku mendalami ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia, bukan kesenian. Tapi apa boleh buat, inilah tantangan menarik yang harus aku hadapi untuk saat ini.

Tepat pukul 07.15 WIB aku tiba di sekolah. Sambil berdiri di pintu ruang guru, kuperhatikan daerah sekitar. Banyak sekali siswa SMP yang berlalu lalang, maklum di sekolah ini siswa SMP dan SMA berada dalam satu halaman saja. Akan tetapi saat aku perhatikan, kok siswa SMA hanya segelintir saja yang berkeliaran? Apa mungkin yang lain telah masuk dalam kelas? Pikiranku pun kembali penasaran.

"Teng! Teng! Teng!" Suara bel membahana di halaman sekolah. Dadaku kembali bergetar. Gugup. Bisakah aku mengajar kesenian? Mampukah aku menghadapi siswa? Oh Tuhan, berikanlah kekuatan pada hambamu ini, gumamku dalam hati.

Setelah melihat jam dinding, aku bergegas menuju kelas XI dimana tempatku mengawali pelajaran. Jarak antara kantor dan ruang kelas XI tak begitu jauh. Kira-kira hanya 50 meter saja. Akan tetapi degup jantungku seakan bergetar hebat bak telah berlarian puluhan kilometer. Tak tahu apa yang akan kulakukan pertama kali di ruang kelas nanti.

"Assalamualaikum," ucapku sambil berdiri di pintu kelas XI.

"Waalaikumsalam..." suara balasan terdengar dari dalam kelas.

DEGG!
Tiba-tiba saja jantungku seakan berhenti sejenak dari aktivitasnya. Perasaan gugup yang tadi menghantuiku luntur secara tiba-tiba. Pemandangan di hadapankulah yang membuat perasaan gugup itu hilang. Aku heran sekaligus tak percaya dengan apa yang kuhadapi. Jangan-jangan aku salah masuk kelas! Pikirku dalam hati. Akhirnya, untuk memastikan sebuah kebenaran, aku coba bertanya kembali,

"Apakah betul ini kelas XI?" suaraku agak sedikit ragu.

"Betul Pak," sahut seisi kelas, kompak.

Wah, aku tidak salah kelas rupanya, pikirku lagi sambil melangkah masuk dalam ruangan itu. Jujur, aku tidak pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Tahukah mengapa aku berkata seperti itu? Bayangkan saja, dari daftar absen yang kupegang, jumlah siswa kelas XI sebenarnya berada kurang lebih 15 orang. Akan tetapi pada hari ini, hari kamis, 15 September 2011 tepat pertama kali aku mengajar, siswa yang datang hanya segelintir saja. Jelasnya hanya 3 orang saja.

Ditambah lagi, ketiga siswa tersebut tidak ada yang memakai sepatu. Jangankan meja guru, papan tulis pun belum tersedia di kelas tersebut. Bagaimana aku tidak kaget melihat keadaan seperti itu? Hatiku menjadi miris.

"Kemana meja guru dan papan tulisnya?!" tanyaku sambil menatap ketiga siswa tersebut.

Mereka hanya tertunduk. Entah merasa takut atau malu, yang jelas sesekali di antara mereka ada yang pelan-pelan berani menatapku.

"Anu Pak, selama bulan puasa khan pondok kami libur. Nah, ruangan ini tidak ada yang mengurusnya. Mungkin saja papan tulisnya masih berada di kelas sebelah." Jelas salah satu siswa bernama Marsum.

"Lantas kemana teman-teman kamu? Kok yang datang hari ini hanya tiga orang saja?"

"Hm, anu. Teman-teman banyak yang bekerja di sawah, membantu orang tua mereka Pak. Mungkin sebentar lagi ada yang datang Pak." Jelas Marsum lagi.

Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kegugupanku berubah jadi simpati mendengar penuturan salah satu siswa itu. Sambil menanyakan nama siswa, aku menunggu kedatangan siswa-siswa yang lain. Dalam hati aku berharap ada yang datang namun tak satu pun dari siswa tersebut yang menunjukkan batang hidungnya. Aku jadi teringat akan kisah yang ditulis Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi. Mungkin beginilah rasanya Ibu Muslimah yang menjadi tokoh guru dalam cerita tersebut saat menunggu kedatangan siswa-siswanya. Sedih, miris dan penuh harap.

Dalam diam pula aku sempat berpikir bahwa di zaman yang semodern ini, masih saja ada sekolah yang belum maju seperti tempat kerjaku. Rupanya pendidikan di negara yang kaya nan permai ini masih belum juga merata. Masih saja ada anak bangsa yang belum menyadari bahwa pendidikan itu sebenarnya dibutuhkan dalam kehidupan. Betapa mirisnya negeri ini ya Tuhan.
***

Eit, pengen tau kisah selanjutnya? Bagaimana aku mengajar di hari pertama dengan dihadiri hanya 3 orang siswa? Tunggu aja kisah selanjutnya. Dan harap diingat, ini bukanlah kisah rekaan. Akan tetapi kisah nyata yang kualami sendiri. Mohon doanya ya....

Rabu, 07 September 2011

Ya, Itu Aku! (Curahan Hati Sang Perindu)

Oleh: Aswary Agansya

Itu aku,
Pemuda yang malam Minggu lalu menemuimu dengan penuh rindu. Ya, terpaksa menemuimu di kala hati tak mau lagi menunggu karena tak sabar ingin segera bersua denganmu. Harap kau maklumi itu karena benar kita telah lama tak bertemu.

Itu aku,
Pemuda yang tanpa malu menerobos pagar rumahmu yang terbuat dari besi perunggu. Jujur aku tidak tahu lagi bagaimana cara melewati pagar besi raksasa itu selain menerobosnya tanpa ragu. Maklumilah, di istanaku tak ada pagar sebagus itu.

Itu aku,
Pemuda yang meniti halamanmu sambil menuntun sepeda butut. Ya! Sepeda yang selama ini setia menemaniku. Yang apabila kukayuh, mengeluarkan suara menderu. Wahai kekasih, aku telah lupa bahwa tak pantas sepeda bututku melewati pagar besimu. Pun aku telah lupa betapa sandal jepitku tak layak meniti marmermu. Aku juga telah lupa bahwa mutiara tidak boleh bersatu dengan debu. Sungguh aku telah lupa akan semua itu!

Itu aku,
Pemuda lugu yang tak tahu adat menyerukan kata "Rindu" di balik damainya istanamu. Yang kutahu, aku hanya ingin mengobati rinduku padamu. Dan satu-satunya jalan adalah menemuimu. Walau itu hanya sebatas melihat pesonamu dari celah-celah lubang pintu.

Ya! Itu aku, wahai kekasihku!
Pemuda yang hidupnya terpaut jauh dari hidupmu. Pemuda yang hanya tahu bahwa hatinya telah lama rindu padamu. Kalau begitu, kutitipkan saja rindu ini pada angin yang berhembus, berharap bisa menembus pagar-pagar istanamu, tembok-tembok altar kamarmu hingga menyapa hatimu.

Aku telah merindukanmu kekasihku...!

Sampang, Tanah Garam. 11 Agustus 2011
***
Tulisan sederhana ini kupersembahkan untuk sahabat dan kawan yang pernah berbagi inspirasi denganku. Termasuk kamu.

Selasa, 26 Juli 2011

Gadis Manis Itu Bernama Winda

Kehilangan seorang sahabat memang terasa sangat menyedihkan. Berpisah dengan seorang sahabat benar-benar memilukan hati. Apalagi jika perpisahan itu dalam jangka waktu yang cukup lama alias tidak mungkin bertemu lagi, uh, pasti tak henti-hentinya hati ini menangis. Ya, itulah yang tengah aku dan teman-teman alami saat ini. Kami kehilangan seorang sahabat yang sudah lama kami kenal.

Dia, yang meninggalkan kami adalah seorang gadis bernama Winda. Setahu kami, Winda adalah seorang gadis manis yang murah senyum. Walau kulit Winda sawo matang agak gelap, namun ia tetap percaya diri. Tidak memoles kulitnya dengan berbagai kosmetik seperti para gadis belia pada umumnya. Winda tampil apa adanya sesuai tipikal kepribadiannya yang agak pendiam. Winda oh Winda, setiap tutur katanya selalu sopan dan tidak pernah blak-blakan apalagi menyinggung perasaan seseorang. Jangankan berbicara panjang lebar, lewat depan rumah saja Winda selalu menundukkan kepala sambil menyungging senyum di bibirnya yang manis. Pemuda manapun termasuk aku, pasti tertarik melihat gadis cantik seperti Winda.

Namun, beberapa bulan lalu tersebar kabar bahwa Winda hamil di luar nikah. Tidak tanggung-tanggung, kabar burung itu mengatakan bahwa yang menghamili Winda adalah ayahnya sendiri. Astaghfirullah..! Aku tidak percaya kabar itu. Benar-benar tidak percaya. Mana mungkin gadis selugu itu melakukan hal yang dilarang agama. Ah, rasanya tidak mungkin deh, pikiranku bimbang.

Memang, beberapa bulan terakhir, Winda hanya tinggal berdua dengan sang ayah yang bekerja sebagai penjual nasi goreng dikarenakan ibunya pulang kampung ke Pulau Jawa tepatnya di Krian. Makin hari perut Winda makin membesar sedangkan tubuhnya malah semakin mengurus bagai kulit yang hanya membungkus tulang. Hembusan bisik-bisik tetangga pun semakin kencang seiring gadis pendiam itu jarang keluar rumah. Ya, pelan-pelan Winda menghilang dari keramaian. Ia jarang kuliah, tidak pernah membantu sang ayah yang tengah berjualan nasi goreng bahkan jarang melintasi depan rumahku lagi. Ia memilih berbaring saja di atas tempat tidurnya yang hangat. Bukan apa-apa, kata sang ayah, Winda tidak bisa keluar rumah karena sedang tidak enak badan.

Aku dan teman-teman yang lain hanya bisa diam saja. Kami tidak mendapatkan kesempatan melihat wajah seorang Winda karena memang hal itu tidak dibolehkan. Hingga akhirnya, kemarin (11 Juli 2011)kumendengar sebuah kabar yang memilukan. Ternyata Winda telah pulang ke Rahmatullah meninggalkan kami. Innalillahi Wainnailaihirojiun... Aku tersentak kaget sekaligus tak percaya.

Aku dan teman-temanku coba menemui keluarga Winda di tempat tinggalnya. Kebetulan jenazah gadis manis itu akan dimasukkan ke dalam ambulans untuk dimakamkan di kampung halamannya di daerah Krian. Saat kumelihat jenazah yang terbujur kaku, sempat tidak percaya bahwa itu adalah tubuh orang yang selama ini kukenal. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau kuharus mengakui bahwa itu jenazah seorang Winda.

Pelan tapi pasti, air mataku pun mengalir membasahi pipi. Kami berharap semoga Allah menerima Winda disisiNYA. Dan Allah mengampuni dosa-dosa Winda selama hidup di dunia. Terakhir, orang tua Winda coba memberikan penjelasan pada kami bahwa ternyata dugaan masyarakat selama ini tentang Winda itu salah besar. Perut Winda membuncit bukan karena hamil, apalagi dihamili ayahnya sendiri. Namun, buncitnya perut Winda disebabkan sebuah penyakit liver yang sudah akut. Sebab itulah walau perut buncit, tubuh Winda malah semakin kurus seakan hanya terbungkus kulit saja. Hm... Tak selamanya bisik-bisik tetangga itu benar ya.


Sampang, Tanah Garam. 19 Juli 2011.
***

Rabu, 06 Juli 2011

Alhamdulillah, ini novel terbaruku yang wajib dibaca. hehehe,,,,

Telah Terbit !!

Dipersembahkan oleh UNSA

Menari di Atas Tangan
Penulis: Aswary Agansya,
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-225-023-4
Terbit: Juli 2011
Tebal: 249 halaman
Harga: Rp. 49.500,-

Deskripsi:

Sebuah novel sederhana namun mampu meramu sebuah citarasa kehidupan remaja secara apik. Nilai persahabatan, menghargai orang lain, serta semangat dalam keterbatasan diri disuguhkan secara lembut tanpa kesan menggurui. Novel ber-setting Madura ini layak dibaca oleh remaja dan siapa pun yang ingin mengerti tentang sebuah perjuangan hidup.

Endorser :

Buku yang inspiratif. Dengan bahasanya yang santun, penulis berhasil membawa pembaca ke titik kepekaan akan hakiki seorang manusia yang banyak memiliki kekurangan. Buku ini membuat kita sadar, bahwa di dunia manusia tidak ada yang terlahir sempurna. Begitu juga bentuk fisik yang telah Allah karuniakan kepada kita. Arif dalam menyikapi kekurangan dan berusaha menggali potensi yang ada adalah salah satu tindakan yang bijak. Buku yang wajib dibaca di tengah krisis jatidiri yang kian mewabah.
-LONYENK, Penulis dan Penyiar Radio.

~*~

Aswari Agansya sebenarnya menyuguhkan karya sederhana, tetapi dalam kesederhanaan itu dia meramu sebuah cita rasa kehidupan remaja secara apik. Nilai persahabatan, menghargai orang lain, serta semangat dalam keterbatasan diri disuguhkan secara lembut tanpa kesan menggurui. Novel bersetting Madura ini layak dibaca oleh remaja dan siapapun yang ingin mengerti tentang sebuah perjuangan hidup.
-JAZIM NAIRA CHAND, Penulis Buku Ibuku Adalah...

~*~

Kegigihan, ketekunan dan keyakinan dalam menjalani hidup untuk menggapai cita dan cinta yang ditunjukan oleh tokoh bernama Jamar dalam novel ini, sememangnya layak untuk dijadikan figur bagi para remaja, tanpa harus minder dengan kekurangan yang dimiliki.
-DANG AJI, Penulis, Akuntan, dan Creator UNSA.



Untuk Pemesanan, hubungi
www.leutikaprio.com

Rabu, 22 Juni 2011

Tak Ada Alasan Untuk Meraih Mimpi (Curhatku)

Wah, lama juga ya aku tidak menulis sesuatu di notes FB dan Blog. Rasanya kangeeeen banget..! Hm, boleh kan, kali aku berbagi uneg-uneg pada kalian?

Siapa pun pasti memiliki mimpi, walau mimpi itu sekecil biji pasir. Karena dengan adanya mimpi tersebut, semangat hidup seseorang akan terus terpacu untuk berusaha meraih mimpi mereka dan mencapai tangga kesuksesan yang diinginkan. Tapi ada satu hal yang perlu diingat, kesuksesan tidak akan pernah datang pada orang yang malas. Sebaliknya, kesuksesan akan menghampiri seseorang yang giat berusaha melawan waktu. Karena waktu tak akan pernah kembali ke belakang hanya untuk mengulang sebuah kesempatan. Tidak akan pernah datang.

Berbicara masalah waktu, setiap manusia di bumi ini memiliki kesempatan yang sama. Ya, setiap manusia yang satu dan manusia yang lain memiliki kesempatan waktu yang sama yaitu 24 jam. Mulai dari orang yang sukses, sesukses Jonru Ginting, Helvi Tiana Rosa, Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia dan penulis lainnya, sampai pada pengangguran sekalipun memiliki jangka waktu yang sama, hanya 24 jam saja sehari. Yang membedakan adalah bagaimana orang itu memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk melakukan hal yang berguna atau malah tidak dimanfaatkan sama sekali.

Aku pernah mendengar berbagai alasan para sahabat, baik di dunia maya maupun di dunia nyata yang beranggapan begini,

"Aku pengen banget menjadi penulis, tapi aku sibuk banget. Nggak punya waktu untuk menulis,"

"Aku memang ingin menulis sesuatu, tapi bagaimana bisa aku menulis? Laptopnya saja aku tidak punya" dan lain sebagainya.

Wah, mendengar kata-kata itu, aku jadi teringat dengan artikel yang pernah ditulis seorang artis dunia maya bernama Jonru Ginting yang mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk meraih sebuah mimpi. Karena kita semua sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari untuk memanfaatkannya meraih mimpi kita.

Duhai sahabat, jika mendengar kata-kata itu, jujur, kalian hampir sama dengan apa yang kualami untuk saat ini. Kau pikir aku memiliki komputer jinjing seperti para penulis lain? Kau pikir aku memiliki waktu lebih dari waktumu yang 24 jam itu? Oh, tidak sobat, aku sama sekali tidak memiliki dua hal tersebut. Aku sama sepertimu, memiliki waktu hanya 24 jam sehari dan tidak memiliki komputer jinjing seperti yang kau maksud tadi.

"Loh, nggak punya komputer kok bisa nulis novel?"

Nah, itu dia. Jujur saja, selama aku menulis, aku memang nyaris tidak pernah mengetik memakai keyboard komputer. Aku ketik setiap tulisanku melalui handphone. Ya, handphone jadul yang kubeli dua tahun silam. Memang jari-jariku terasa lelah dan sakit, terutama ibu jari. Namun, rasa sakit itu tidak akan pernah mematahkan semangatku untuk putus menulis. Kutuangkan saja kata demi kata yang mengganjal di otakku walau hanya satu paragraf saja sehari. Atau ketika ada waktu luang, pasti kutuangkan ideku dalam catatan handphone jadulku itu.

Jika aku merasa tulisanku sudah pas, tulisan yang berbentuk catatan itu kutransfer melalui bluetooth di warung internet dekat rumah. Dan mengcopypastenya ke microsoft word. Terakhir, menyimpan file itu dalam flasdisc. Ribet banget kan? Hm, memang. Tapi, atas kesabaran itu, aku bisa bernapas dengan lega. Alhamdulilah aku dapat menyelesaikan 3 buah novel. Yang pertama, "Imagination Of Love". Kedua "Menari Di Atas Tangan" dan judul yang ketiga masih dirahasiakan (hehehe, bilang aja belum buat judulnya. Kuharap teman-teman tetap doain yah...). Nah, intinya, janganlah patah semangat buat para sahabat yang ingin meraih mimpi. Gunakan waktu sebaik-baiknya dan bersabarlah walau dalam perjalanan menuju mimpi banyak kerikil tajam yang mendera. Percayalah pada kebahagiaan yang akan kau dapat setelah melewati berbagai rintangan tadi.

Mohon maaf sebelumnya, aku membuat tulisan ini bukan bermaksud apa-apa, hanya sekedar ingin memotivasi diri saja. Semoga curhatku ini bermanfaat..!

Sampang, 20 Juni 2011

***
link posting awal :
http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150218035004235

Senin, 23 Mei 2011

Lomba Dunia Maya - Don't Judge The Book By Cover Ya!

Oleh : Aswary Agansya

Menjalin persahabatan itu sangatlah indah. Apalagi saat hati sedang goyah, banyak masalah dan butuh akan sebuah sandaran. Tak ada yang bisa kita lakukan selain mencari sahabat yang rela menjadi wadah untuk segala keluh dan kesah yang kita hadapi. Pasti sahabat yang baik akan memberikan solusi sebagai obat dan pereda masalah yang tengah kita hadapi. Ya, itulah hakikat dalam sebuah persahabatan.

Namun, bagaimana jika dalam persahabatan itu tidak pernah ada tatap muka antara keduanya? Akankah persahabatan itu dapat terjadi sesuai hakikat tadi? (Nah lho...) Seperti itulah yang aku alami selama kurang lebih setahun terakhir ini. Jangankan berjabat tangan, melihat wajahnya saja, aku belum pernah. Tapi bagaimana persahabatan kami bisa terjalin dengan indah? Ah, itulah yang dinamakan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.

Aku mengenal dia dari dunia maya. Dia seorang gadis bernama Eros Rosita. Aku tidak ingat betul, bagaimana pertama kali kita berkenalan. Yang jelas, kami dipertemukan di sebuah ruang maya bernama jejaring sosial facebook. Ya, di facebook-lah awal persahabatanku dengan Rose terbentuk.

Yang kutahu, Eros Rosita adalah seorang gadis penulis berdomisili di Madiun. Usianya terpaut dua tahun lebih muda dari usiaku. Pekerjaan yang ia tekuni adalah sebagai penjaga warung internet di kota tempat tinggalnya. Sering kulihat, berbagai karya Rose yang berbentuk tulisan terpampang di beberapa situs termasuk facebook dan blog pribadi miliknya. Bahkan aku memiliki buku antologi yang berisi salah satu dari tulisannya. Hm... Kalau dilihat dari karya yang ditulis Rose, aku menarik kesimpulan bahwa gadis itu berhati lembut, suka yang syahdu-syahdu, melankolis, dan yang paling pasti, dia gadis pemalu. Hehehe, bagaimana tidak, acapkali aku membaca tulisan Rose, aku merasakan apa yang ia rasakan. Tulisannya benar-benar syahdu dan mendayu-dayu. Menurutku rangkaian kata-kata itu keluar dari hati Rose yang melankolis.

Akhirnya, melalui dunia maya, kami pun saling bertukar pikiran dan saran. Tak jarang pula aku dan Rose saling memberi dukungan dan semangat saat keputusasaan mendera. Madiun dan Sampang, Madura, terasa lebih dekat saja berkat dunia maya. Namun, satu hal yang aneh pada diri kami. Selama bersahabat, aku belum pernah melihat wajah Rose. Sedangkan Rose mengenali wajahku. Hal itu dikarenakan, Eros Rosita tidak pernah memajang foto pribadinya di dunia maya. Alhasil, aku pun penasaran ingin segera mengetahui bagaimana sesosok gadis yang melankolis itu.

Rasanya sulit bisa bertemu dengan Rose. Setidaknya itu yang sempat terselip di benakku. Akan tetapi, pertengahan bulan Maret lalu, ada seorang teman yang mengajakku untuk menghadiri peluncuran buku di salah satu restoran di Surabaya. Kupikir-pikir, daripada liburan berdiam diri di rumah, mendingan kuikuti saja ajakan temanku tadi. Ya, selain untuk menambah pengalaman, di acara itu aku juga berharap dapat menambah teman.

Pagi-pagi sekali aku berangkat dari Madura menuju kota Surabaya. Sesampainya di Surabaya, temanku menyambutku dengan suka cita. Aku bahagia bisa menghadiri acara peluncuran buku itu. Dan yang paling membahagiakan lagi, ada seorang gadis berperawakan tomboy tengah duduk di kursi paling pojok. Tampaknya gadis itu menatapku erat dan sesekali berbisik pada teman gadis yang duduk di sampingnya. Aku sempat melirik gadis itu, tapi tiba-tiba ia memalingkan mukanya dariku.

Aku berbincang-bincang dengan temanku. Pelan-pelan, aku pun berkenalan dengan beberapa orang yang hadir termasuk pada gadis tomboy yang memandangku tadi. Begitu bersalaman dan menyebutkan nama, aku pun berubah shock karena kaget sekaligus tak percaya. Bagaimana tidak, gadis itu menyodorkan tangan sambil berkata,

"Hai, aku Eros Rosita."

Deg!!
Jantungku seakan berhenti seketika. Aku masih tidak percaya gadis di hadapanku itu adalah Eros Rosita, gadis yang kukenal di dunia maya. Jujur, aku shock bukan karena kecewa. Tapi aku shock karena apa yang kusimpulkan selama ini, ternyata jauh dari angan-angan yang ada.

Penampilan Eros Rosita ternyata tomboy. Ia memiliki rambut pendek yang trendy. Pakaian yang ia kenakan pun menunjukkan bahwa ia adalah orang yang simpel dan cuek. Dahsyatnya lagi, ternyata gadis itu gemar menyaksikan tayangan sepak bola yang kebanyakan disaksikan kaum pria.Wah, benar-benar jauh dari perkiraanku.

"Hahaha, kau kaget kan?" tanya Rose padaku.

"Wah, bukan hanya kaget. Tapi aku tak percaya kau ini adalah Rose yang kukenal di dunia maya. Kok tulisan dan wujud berbeda ya?" aku tersenyum dengan rasa heran.

"Hahaha, makanya, don't judge the book by cover ya..." sahut Rose lugu.

Aku tesenyum.
Aku bahagia, karena tak menyangka akan bertemu sahabat maya yang selama ini hanya kulihat tulisannya saja. Tidak rugi aku jauh-jauh datang dari Madura dalam acara peluncuran itu.

Ternyata, benar kata pepatah. Dalamnya lautan masih bisa diukur, namun dalamnya hati seseorang tak akan pernah ada yang mengetahuinya. Aku percaya dibalik penampilan tomboy dan sporty itu, ada sebuah kelembutan yang tersimpan. Yang bisa menyejukkan hati seseorang, yaitu hatiku. Terima kasih kau telah menjadi sahabatku Rose.

***

Diikutkan dalam lomba Lomba Cerita Nyata "Dunia Maya" yang diadakan mbak Aulia Zahro.
INFO LOMBA :
- http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/05/14/lomba-menulis-kisah-nyata-dunia-maya/
- http://liya715.blogspot.com/2011/05/lomba-menulis-kisah-nyata-dunia-maya.html
- http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150190287595982

Pengalaman Pertamaku Menjadi Guru

"Pak, kok soal-soalnya nggak jelas sih? Jelasin dong pak, yang nomor dua belas..!" Celetuk salah satu siswa yang duduk di depanku.

Aku tertegun sekaligus tak percaya dengan apa yang dikatakan siswa laki-laki itu. Wow, benarkah aku dipanggil bapak? Tidakkah aku salah mendengarnya? Masih muda begini kok malah dipanggil bapak sih? Apa tampangku sudah seperti bapak-bapak ya? Wah wah wah, harus segera diperbaiki nih. Pikirku penuh tanya. Tapi kata-kata siswa tadi juga membuatku geli sendiri. Aku malah tersenyum simpul sambil menatap siswa itu.

"Wah, jangan panggil bapak dong dek. Panggil saja kak Arik. Kan saya masih muda, apalagi belum berkeluarga. Lebih enak di dengar kan?" sahutku kemudian dengan senyuman masih mengembang. Aku pun menghampiri siswa itu dan mengamati apa yang ia tanyakan.

Jujur, rasanya baru kemarin sore aku menjadi siswa seperti mereka. Duduk di bangku dan menatap papan tulis serta menyimak penjelasan guru pembimbing. Kupikir, sikap kekanak-kanakan yang melekat pada diriku masih belum juga sempat kubuang jauh-jauh. Bahkan, cara bicaraku pun seakan masih belum menunjukkan bahwa aku adalah calon guru yang akan dijadikan panutan para peserta didik. Tapi sadar atau tidak, hari ini aku justru berdiri di depan kelas sebagai seorang guru. Ya, sebagai guru yang mengemban tanggung jawab untuk membimbing, membina dan memotivasi peserta didiknya agar menjadi generasi yang lebih baik. Oh, aku benar-benar tak percaya akan kejadian hari ini.

Rupanya menjadi seorang guru itu tidaklah mudah. Harus benar-benar memiliki kesabaran yang kuat dalam menghadapi peserta didik yang dibimbing. Buktinya saja aku, baru hari pertama masuk ruangan saja, seisi kelas riuh tak terkendalikan. Bayangkan saja, para peserta didik itu tak henti-hentinya mengolokku dengan gaya bahasa remaja mereka.

"Kak, kakak itu berasal dari Jepang yang tiba-tiba nyasar ke Madura ya?"

"Duh kak, suara kakak nggak jelas banget. Kakak bicaranya pakai bahasa Jepang ya?"

"Kak, karena saya tidak ingat nomor induk, maka di kolom nomor induk ini diganti nomor hape ya kak. Atau nomor rumah dan sepatu. Kakak pilih yang mana?"

Begitulah kata-kata yang dilontarkan sebagian siswa padaku dan teman-temanku. Bahkan ketika aku menyodorkan lembar hadir siswa yang harus ditandatangani, seorang gadis bertubuh subur berkata,

"Kak, kalau mau minta tanda tangan jangan begini dong caranya. Langsung aja bilang sama saya. Pasti saya kasih kok. Hehehe..." katanya sambil nyengir kuda seakan tak memiliki dosa.

Huuuftt...
Aku mencoba sabar menerima celoteh-celoteh mereka. Pikirku, wajar kalau mereka memiliki sikap seperti itu. Kelas yang kubimbing adalah kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Jelas saja mereka clometan. Lain halnya saat aku memasuki kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), suasana riuh seakan tak pernah ada. Mereka diam dan tertib sebagaimana para siswa yang berpendidikan. Jadi aku menarik kesimpulan bahwa seorang guru harus lebih sabar lagi untuk menghadapi peserta didik yang beraneka ragam sifat. Karena dengan kesabaran dan kasih sayang yang tulus itulah, insyaallah ilmu yang disampaikan terealisasikan sesuai harapan.

Meski sedikit kesal, aku harus tetap sabar. Jangan sampai amarahku meluap akibat lisan peserta didik yang clometan. Toh, aku hanya melaksanakan tugas dari kampus saja. Bukan guru tetap mereka. Jadi, aku harus tetap melatih kesabaran buat dijadikan bekal kalau aku benar-benar menjadi guru kelak.

Tapi, kuingin mengucapkan terima kasih kepada adik-adik yang kudatangi kemarin. Adik-adik kelas X-2, XI IPS 1, dan XI IPA 2 Madrasah Aliyah Negeri 1 Pamekasan. Kalian telah memberikan warna baru bagi sejarah hidupku. Benar-benar seru dan lucu.

Sampang, 24 Mei 2011.
***

Senin, 02 Mei 2011

Cerpen: Anugerah Yang Hilang (Juara 3 Di Lomba Cipta Cerpen UNIRA 2011)

Oleh: Aswary Agansya

Aku tak menyangka dunia begitu cepat berputar. Padahal aku masih merasa baru kemarin hujan itu reda dalam kehidupanku. Belum sempat juga aku melupakan deru angin yang memporakporandakan kehidupan ini, eh malah pelangi itu muncul menyeringai ke arahku. Jujur, aku tak menyesal dengan perubahanku saat ini. Malah aku bangga dan bersyukur atas semua hal yang kudapatkan hari ini. Hanya saja, ada sedikit kekecewaan yang menyelinap karena orang yang juga ikut andil dalam perubahanku malah pergi dari sisiku. Dia yang rela mendorong semangatku untuk segera bangkit dari keterpurukan dunia.

Dia adalah Mutia, gadis jelita bermata indah. Raut wajah Mutia memang seindah dan sebanding dengan nama lengkap yang digelarnya. Ya, nama lengkap gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Mutiara Nindita. Sungguh aku kecewa karena untuk saat ini, dipuncak kesuksesan ini, aku tak dapat berbagi kebahagiaan dengan Mutia.

Aku ingat betul saat pertama kali Mutia menyuntikkan kata semangat dalam hatiku. Dia yang membuatku bangkit dari keterpurukan dan memperkenalkan aku dengan roda kesuksesan. Saat itu, Mutia tengah memergokiku sedang berpesta narkoba bersama teman-teman sekampusku.

"Subhanallah..! Apa yang kau lakukan ini, Yusuf?!" teriak Mutia saat mendapatiku terkulai lemas di atas lantai. Aku tak menjawab pertanyaan Mutia. Menurutku, pertanyaan itu tidaklah penting bagiku. Daripada menjawab, mendingan kunikmati saja apa yang tengah kuperbuat.

Mutia terbelalak saat melihat serbuk putih di tangan kiriku. Sontak, gadis itu menarik tanganku dan menyeretku secara paksa keluar dari ruangan panas tersebut. Dengan susah payah Mutia dan seorang teman laki-lakinya membopongku masuk ke dalam mobil Avanza warna silver yang terparkir depan rumah.

"Hei gadis kuper..! Kau mau membawaku kemana hah..!" tanyaku ditengah-tengah ketidaksadaran. Aku ingin sekali memberontak, tapi aku tak kuasa karena tubuhku terasa melayang ringan.

"Kuharap kamu diam. Jangan banyak bicara..!" bentak Mutia tanpa menatapku.

Mobil pun melaju menjauhi lokasi pesta itu. Entah ke arah mana aku tak tahu. Ternyata, setelah menyusuri beberapa belokan dan lampu merah, Mutia menghentikan mobil silvernya di sebuah gedung rehabilitasi. Saat itu pun aku tak sadarkan diri.

***

Selang beberapa jam kemudian, aku bangun dari ketidaksadaran itu. Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba berada di sebuah kamar yang mirip sekali dengan rumah sakit. Belum sempat semua pertanyaan dalam benakku terjawab, muncullah seorang gadis yang wajahnya sudah tak asing lagi dari balik pintu. Ya, sambil membawa nampan berisi segelas air dan sepiring nasi, Mutia menghampiriku. Senyumnya yang manis terus tersungging ke arahku.

"Mutia, tempat apaan ini?" tanyaku dengan suara sedikit parau.

"Ini adalah tempat rehabilitasi. Nih, makan dulu nasinya. Pasti kamu sudah lapar," jawab Mutia seraya duduk di bibir tempat tidur.

"Hah! Rehabilitasi?! Buat apa kau bawa aku kesini? Ah, lebih baik aku mau pulang saja."

"Yusuf, aku yakin kau butuh tempat ini. Ayo, dimakan dulu nasinya." Ujar Mutia sambil menyodorkan piring putih itu ke arahku.

Tanpa menerima sodorannya, aku malah beranjak dari tempat tidur. Dan tanpa sengaja, aku menyenggol piring yang dipegang Mutia sehingga jatuh ke atas lantai.

Praanngggg!!!

Mutia kaget.

"Yusuf..!! Mau kemana kau..!"

"Aku nggak suka dengan caramu ini Mutia..! Buat apa aku berada di tempat yang sama sekali nggak kusukai ini. Jangan kau urusi aku lagi. Ngertii?!"

"Heh Suf..! Berapa kali aku harus menjelaskan ini untuk menyadarkanmu? Berapa kali aku harus sabar melihat kelakuan burukmu ini? Berapa kali Suf?!!" kata Mutia mencegahku keluar dari ruangan itu. Mutia menghadangku dengan berdiri membelakangi pintu.

"Kamu nggak perlu melakukan apa-apa, tolol. Aku nggak butuh semua perhatianmu karena semua itu nggak akan pernah penting bagiku. Sudah, sana pergi, aku mau keluar dari tempat ini..!"

"Ingatlah Suf, semua hal yang kau perbuat saat ini telah menyakiti ibumu sendiri. Kuharap sekarang kau buka kedua matamu. Lihatlah ibumu Suf, lihatlah..!"

"Hei, kita ini nggak ada hubungan apa-apa loh ya. Jadi jangan campuri urusanku. Karena aku bener-bener nggat suka!!"

"Aku memang bukan siapa-siapamu Suf. Tapi aku masih punya hati melihat ibumu tersakiti. Ingatlah, semenjak kematian ayahmu, ibumu mulai sakit-sakitan. Dan itu semua gara-gara kamu. Kamu yang telah membuat ibu terbaring sakit Suf. Kamu!!" kali ini Mutia terbelalak membentakku. Aku kaget melihat raut wajah itu. Sejauh aku mengenal Mutia, rasa-rasanya baru detik itu aku melihat wajah jelita Mutia tegang. Aku memilih diam.

"Kau ini sudah dewasa Suf. Kau sudah nggak pantas lagi berkelakuan seperti para remaja. Bagaimana tidak? Ibu yang telah melahirkanmu sedang merintih kesakitan, membutuhkan belaian tangan putra semata wayangnya. Tegakah kamu meninggalkan dia sementara kamu sendiri bersenang-senang dengan berpesta narkoba? Tidakkah kau punya hati, Suf? Ingatlah satu hal, Yusuf. Kau ini anak laki-laki. Kau harus tunjukkan bahwa kau mampu menjadi ksatria yang gagah bagi ibumu. Jadi pelipur lara bagi kesedihan ibumu. Dan jadi sandaran bagi kehampaan hati ibumu."

Aku tetap diam. Pelan-pelan hatiku tersentuh mendengar penjelasan Mutia. Kutatap erat wajah jelita Mutia yang tengah diselimuti amarah.

"Dengan susah payah ibu membiayai kuliahmu. Dengan susah payah pula ibu berjuang membanting tulang berharap nanti kau akan menjadi laki-laki sukses dan berilmu. Apakah kau tak memikirkan jerih payah ibumu itu? Ayolah Yusuf, berubah. Berubahlah demi ibu dan masa depanmu. Aku yakin kau bisa melakukannya,"

"Nggak. Aku nggak akan bisa, Muti. Nggak akan..!"

"Asal kau mau berubah dan berusaha, insyaallah semua itu akan bisa Yusuf.."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan...? Mendengar penjelasanmu tadi, aku merasa tak pantas untuk hidup bersama ibu. Lebih baik aku mati saja, Muti," lirihku kelu sambil merembeskan air mata.

"Hush..! Jangan berkata seperti itu. Mati bukanlah jalan terbaik dalam menyelesaikan sebuah masalah. Justru itu adalah perbuatan seorang pengecut. Apalagi bagi lelaki sepertimu"

"Tapi sampai kapan aku bisa merubah hidupku?" lirihku lagi.

"Jangan kau pikirkan dulu kapan kau bisa sukses keluar dari kesalahan ini. Yang jelas, kau harus meninggalkan barang haram itu mulai dari sekarang. Ya, sekaranglah waktu yang tepat mengakhiri keburukanmu ini, kawan." Kata Mutia dengan antusias. Aku pun pasrah di atas tempat tidur berspraikan putih itu. Merembeskan air mata penyesalan yang telah lama beku dalam benakku.

***

Sejak hari itu, aku tinggal di kamar rehabilitasi. Disana, selain mengikuti serangkaian terapi penyembuhan, aku juga diberikan keterampilan membuat lukisan. Sungguh luar biasa, aku baru sadar bahwa hidup normal itu ternyata lebih menyenangkan.

Begitu keluar dari tempat rehabilitasi, aku kembali melanjutkan kuliahku yang sempat terbengkalai. Bahkan, sebagai pekerjaan sampingan, aku selalu meluangkan waktu untuk membuat berbagai macam lukisan. Melukis adalah media terbaik untuk menuangkan isi hatiku. Itulah yang kulakukan demi membuang waktu luangku. Dan alhasil, aku sukses menggelar pameran lukisan tepat sepekan dari hari kelulusanku.

Yang sangat mencengangkan lagi, lukisan wajah jelita sang Mutia yang sempat kupajang di ruangan khusus, ada seorang pembeli yang ingin melelang lukisan itu. Kagetku pun tak terbendung. Ternyata lukisan sederhana raut jelita Mutiara Nindita laku terjual hingga ratusan juta. Hati siapa yang tak bahagia mendapatkan keuntungan sebesar itu?

Tapi kini, saat bisnis yang kurintis telah mencapai level tertinggi, malah sang penyemangat itu pergi dari sisiku. Dan tak pernah muncul di celah-celah kehidupanku. Andai saja ia tahu bahwa kesuksesan ini sebagian dari semangat yang ia suntikkan pada jiwaku dulu. Pasti gadis itu akan tersenyum bahagia seperti diriku.

Pernah kucoba mencari Mutia seorang diri. Tapi usahaku itu tak pernah membuahkan hasil sedikitpun. Di tempat rehabilitasi ia tiada, di kampusnya pun tak ada, bahkan setiap hari kudatangi rumah kontrakan gadis itu pun katanya sudah pindah. Oh, setahun sudah aku melakukan pencarian ini tanpa membuahkan hasil sedikitpun. Aku sungguh tak mengerti mengapa Mutia menghilang begitu saja dalam kehidupanku. Kehadiran dan kepergian gadis jelita itu benar-benar tak dapat kuprediksi.

Sepenggal kata yang pantas kusemaikan padamu wahai Mutiaku,

"Bertemu dirimu adalah indah. Mengenalmu adalah anugerah. Dan bersamamu adalah berkah. Terima kasih karena kau telah mengangkatku dari keterpurukan. Terima kasih, Mutiara."
***


Data Penulis

Aswary Agansya adalah nama pena dari Mohammad Aswari. Ia lahir di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1987. Sejak kecil Aswary memang gemar sekali membaca dan menulis. Sekarang dia tengah menempuh pendidikan di Universitas Madura jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah Antologi Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), Antologi E-Love Story 21 (Nulisbuku.com, 2011), Antologi Curhat Cinta Colongan #3 (Nulisbuku.com, 2011) dan Novel Imagination Of Love (LeutikaPrio, 2011). Insyaallah akan menyusul, karena masih dalam proses penerbitan adalah Antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus, Antologi Surat Untuk Jodohku dan Antologi Long Distance Friendship. Aswary juga tengah menggarap novel keduanya yang berjudul “Menari Di Atas Tangan”. Jika ingin berinteraksi dengan Aswary Agansya, bisa melalui facebook dan email: aswary_coolboy410@yahoo.co.id atau melalui blog :
www.aswarysampang.blogspot.com



















Data Penulis

Aswary Agansya adalah nama pena dari Mohammad Aswari. Ia lahir di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1987. Sejak kecil Aswary memang gemar sekali membaca dan menulis. Sekarang dia tengah menempuh pendidikan di Universitas Madura jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah Antologi Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), Antologi E-Love Story 21 (Nulisbuku.com, 2011), Antologi Curhat Cinta Colongan #3 (Nulisbuku.com, 2011) dan Novel Imagination Of Love (LeutikaPrio, 2011). Insyaallah akan menyusul, karena masih dalam proses penerbitan adalah Antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus, Antologi Surat Untuk Jodohku dan Antologi Long Distance Friendship. Aswary juga tengah menggarap novel keduanya yang berjudul “Menari Di Atas Tangan”. Jika ingin berinteraksi dengan Aswary Agansya, bisa melalui facebook dan email: aswary_coolboy410@yahoo.co.id atau melalui blog :
www.aswarysampang.blogspot.com


Nama Asli : Mohammad Aswari
Nama Pena : Aswary Agansya
Alamat: Jl. Durian 52 Sampang-Madura
No. HP : 087866116936
Kampus: Universitas Madura Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester VI